Eks Teroris Khairul Ghazali Menjadi Pengajar di Ponpes Al-Hidayah, Begini Kisahnya…

197

Penulis: Ade Syaputra & Vicky Siregar
Fotografer: Vicky Siregar

Pesantren Al-Hidayah yang berada di Jalan Sawit Rejo, Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara merupakan salah satu jawaban dari tujuan dan implementasi deradikalisasi yang dibangun oleh Khairul Ghazali, mantan narapidana dan teroris.

Perjalanan Spiritual Khairul Ghazali

Khairul Ghazali alias Abu Yasin adalah salah satu mantan teroris dari tiga belas teroris lainnya yang pernah melakukan aksi perampokan di bank CIMB Niaga Medan pada tahun 2010 lalu dan menewaskan satu orang Brimob. Sosok yang akrab disapa Buya Ghazali ini kemudian bertaubat dan menyesal atas apa yang dilakukannya setelah mendekam di penjara selama lima tahun.

Keputusannya kembali ke jalan yang benar malah dianggap ‘murtad’ oleh kelompok yang dahulu bersama dengannya. “Ancaman seperti pembunuhan pernah saya alami tatkala saya menolak untuk kembali bersama mereka menjadi teroris, pemberian iming-iming uang dengan jumlah yang besar juga selalu mereka dendangkan supaya saya bergabung kembali,” tegas bapak dari 10 anak tersebut.

Selama mendekam di ruang berlapis besi baja Mako Brimob tersebut, Buya Ghazali banyak merenungkan bagaimana kehidupan ia dan keluarganya setelah masa tahanannya habis karena stigma buruk dari masyarakat akan status yang disandangnya sebagai mantan narapidana dan teroris akan menjadi momok yang menakutkan, seperti dicap sebagai keluarga teroris oleh lapisan masyarakat, perekonomian yang semrawut, dan proses isolasi yang menyebabkan tidak dapat membina, mendidik, bahkan menafkahi keluarga, serta anak yang tidak lagi bisa sekolah karena takut dirisak.

Lima tahun menetap di dalam penjara benar-benar menjadikannya banyak belajar mengenai hakikat hidup yang sebenarnya. Perlahan Buya Ghazali mulai rutin membaca satu-persatu buku pemahaman agama dan pendidikan kewarganegaraan yang jauh dari kata radikal.