Manfaat Refleksi Jalan di Atas Batu

24033

Refleksi kaki sudah cukup umum. Biasanya terapi refleksi dilakukan dengan pemijatan yang dilakukan sendiri atau oleh orang lain dengan menggunakan penekanan jari-jari tangan atau dengan bantuan alat khusus.

Namun, pernah mencoba berjalan diatas batu-batu kerikil atau batu alam tanpa alas kaki? Yang dirasakan pertama pastilah sakit. Tapi keuntungan terapi ini adalah bisa anda lakukan sendiri tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Anda bisa mendapatkan banyak manfaat luar biasa dari berjalan di batu alam tanpa perlu mengeluarkan biaya sedikitpun.

  1. Dikutip dari Mind Body Green, bahwa rutin jalan diatas bebatuan yang halus tanpa alas kaki memperkuat dan meregangkan otot, tendon, dan ligamen yang ada di telapak, pergelangan kaki dan betis.

2. Kegiatan ini juga berguna untuk melancarkan peredaran darah, sehingga segala penyumbatan oleh lemak dan racun-racun akan dikeluarkan pada akhirnya melalui air seni atau keringat.

3. dapat membuat tidur lebih lelap,

4. menurunkan lelah, gelisah, bahkan depresi dan cemas hingga 62 persen.

5. pada saat berjalan di atas batu sengatan itu membuat kita terus terjaga dan membuat kita tetap fokus. Jika hal ini sering dilakukan, maka kita akan terus terjaga untuk lebih berkonsentrasi, dan dampak ini terbawa pada aktivitas kita sehari-hari

Refleksi menginjak batu ini sudah ada sejak 6000 tahun lalu dari China. Pijat refleksi dengan berjalan di atas batu alam ini pertama kali diperkenalkan Tao dari Tiongkok, yang kemudian dibawa Marcopolo ke dataran Eropa. Seorang dokter bernama dr William Fitzgerald, tertarik untuk mempelajari ilmu pijat refleksi ini. Bersama dr Edwin Bower dan dr Joseph Selbey Riley, dia memperkenalkan pijat refleksi ini ke seluruh dunia dengan teori peta kaki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dikutip dari Tribun-Bali, seorang pria 60 tahun penderita asam urat merasakan efek yang sangat baik selama ia melakukan refleksi menginjak batu alam. Musaddad Ilyas menceritakan, bahwa ia berjalan dari arah barat menuju ke timur, mengikuti alur jalan setapak berbatu di Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung (Puputan), Denpasar, Bali sepekan sebanyak dua kali dalam waktu satu jam

“Sejak rutin berjalan kaki di atas batu tanpa alas kaki, asam urat saya perlahan mendingan,” ujar pria yang bekerja sebagai dosen ini.