Tragis dan Terharu, Beginilah Jejak Perjuangan Kemerdekaan di Tanah Deli Pada Masa Penjajahan

Gereja yang berhadapan dengan kantor pemerintahan Hindia Belanda di Tanah Deli (kini kantor Gubernur Sumatra Utara), bentuk dan arsitekturnya tidak berubah dan masih menggunakan ornamen yang sama bahkan di usianya yang ratusan tahun ini.

Tempat Senjata Bersemayam

“Kita sudah mengetahui, perbandingan penjajahan Belanda dan Jepang. Pada masa penjajahan Belanda, mereka lebih mengutama peningkatan perekonomian, diantaranya pengembangan sektor perkebunan, walaupun tanda kutip masih menjajah. Dibandingkan dengan Jepang, mereka melakukan suatu tindakan yang di luar nalar manusia yaitu dengan sistem kerja paksa (romusha). Dengan sistem ini, hampir seluruh rakyat Indonesia pada saat itu mati kelaparan. Tak hanya manusianya yang disiksa, gedung peninggalan Belanda juga dialihfungsikan, terutama Gereja Immanuel Medan yang semula menjadi tempat ibadah kemudian dijadikan sebagai gudang penyimpanan senjata milik tentara Jepang,” ungkap Ratna.

Tak ada informasi konkret, mengapa tentara Jepang mengalihfungsikan Gereja Immanuel menjadi gudang penyimpanan senjata. Namun setelah Indonesia merdeka, warga Medan merebut kembali Gereja Immanuel. Pada September 1959 gereja yang dahulu disebut Indische Kerk/Staatskerk ini akhirnya memiliki pendeta pertama yaitu Pdt. Souhoka.

HOTEL DE BOER

Berlokasi di Jalan Balaikota Nomor 2 Medan, Grand Inna Medan yang sebelumnya dikenal dengan Hotel Inna Dharma Deli dan dahulu bernama Hotel de Boer, didirikan oleh seorang pengusaha asal Belanda, Aeint Herman de Boer pada tahun 1898.

De Boer menurut bahasa Belanda berarti petani, sesuai dengan fungsinya kala itu, Hotel de Boer sering dijadikan tempat menginap para investor perkebunan dari Eropa yang datang melihat kebun tembakau di Tanah Deli.

Tak hanya para tamu kehormatan, banyak pula tokoh terkenal yang pernah menginap di Hotel de Boer, sebut saja Raja Leopold II dari Belgia, pangeran Schaumburg-Lippe yang merupakan keponakan Ratu Wilhelmina dari Belanda, Mata Hari sang mata-mata keturunan Indo Jawa, serta Sutan Syahrir tokoh nasional Indonesia.

Mewah dan Bebas Nyamuk

Hotel bergaya kolonial ini layaknya hunian bagi para bangsawan dan pengusaha mapan pada kala itu. Arsitekturnya dirancang mewah, dengan lokasi strategis di seberang Esplanade (Lapangan Merdeka).