Tragis dan Terharu, Beginilah Jejak Perjuangan Kemerdekaan di Tanah Deli Pada Masa Penjajahan

159
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Penulis: Frengki Hermanto Marbun & Indriyana Octavia
Fotografer: Vicky Siregar & Andru Kosti

Kota Medan genap berusia 429 tahun pada 1 Juli 2019, ini tentu saja menorehkan banyak peristiwa historis pada kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia ini, terbukti dengan maraknya bangunan bersejarah seperti museum, penginapan, gedung pemerintahan, rumah ibadah dan wilayah peninggalan kolonial lainnya.

Dikutip dari buku berjudul Jejak Medan Tempo Doeloe karya Farizal Nasution (2012), menurut riwayatnya, kata ‘Medan’ berasal dari bahasa Melayu yang berarti ‘tempat berkumpul’ karena sejak dahulu Medan dikenal sebagai tempat masyarakat dari berbagai etnik melakukan transaksi niaga, barter, dan bertukar informasi.

Medan pada awalnya adalah sebuah kampung kecil yang terletak di sekitar sungai Babura dan sungai Deli dengan jumlah penduduk berkisar 200 jiwa. Guru Patimpus adalah cucu dari Sisingamangaraja mendirikan kampung kecil yang bernama Medan Putri (sekarang Jalan Putri Hijau) yang merupakan cikal bakal lahirnya kota Medan pada tahun 1590.

Baca Juga:  BALADA LAPTOP MERAH PUTIH "GAWEAN" PEMERINTAH INDONESIA

Kota Medan banyak mendapat pengaruh oleh Kesultanan Melayu baik dari aspek pemukiman, kebudayaan dan agama. Kedatangan koloni penjajah ke kota Medan kemudian memberikan dampak, salah satunya adalah lahirnya perkebunan tembakau di Deli. Sarana dan prasarana juga dibangun untuk mendukung perkembangan industri perkebunan.

Pesatnya kemajuan perkebunan tembakau membawa Medan menjadi pusat administrasi perkebunan dan pemerintahan kolonial di Sumatra Timur. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengusaha dan investor asing untuk bertandang ke Tanah Deli.