Tragis dan Terharu, Beginilah Jejak Perjuangan Kemerdekaan di Tanah Deli Pada Masa Penjajahan

Berselang 5 tahun berikutnya, tepatnya pada 17 Agustus 1950, warga Medan akhirnya memulai tradisi merayakan kemerdekaan Republik Indonesia dan memadati wilayah Kesawan seperti Jalan Balai Kota, Jalan Ahmad Yani, hingga ke Lapangan Merdeka.

KANTOR POS 

Kantor Pos Besar Medan adalah salah satu kiblat kota Medan yang tetap dipuja oleh warga Medan bahkan dunia. Dengan sedikit pemugaran, bangunan peninggalan Belanda ini masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Tempat ini adalah salah satu bangunan bersejarah dan telah berumur lebih dari 100 tahun yang dibangun oleh arsitek Belanda, Snuyf. Pembangunan Kantor Pos ini dilatarbelakangi perkembangan ekonomi, terutama pada sektor perkebunan.

Diboikot Jepang

Meroketnya perekonomian perkebunan, membuat Belanda harus membangun Kantor Pos, karena orang Belanda yang di Jakarta dan di Belanda harus menerima laporan keuangan dan lain sebagainya. Terutama di Medan, penjajah Belanda memberikan report melalui surat kepada atasan mereka yang ada di Jakarta dan Belanda. Kantor Pos pada masa kolonial Belanda hanya bisa digunakan oleh orang Belanda itu sendiri,” ucap Ratna.

Pada masa penjajahan Jepang, tentara Jepang memboikot seluruh media baik elektronik dan cetak, termasuk Kantor Pos dengan tujuan untuk menghentikan penyebaran berita kemerdekaan. Setelah kemerdekaan itu pada akhirnya didengar, tak bisa dibungkam, masyarakat Kota Medan mencoret-coret dinding Kantor Pos dengan tulisan kemerdekaan.

GEREJA GPIB IMMANUEL

Gereja yang terletak di Jalan Diponegoro ini merupakan peninggalan kolonial Belanda yang masih terawat dan masih digunakan jemaat hingga saat ini. Gereja Protestan Indonesia di Bagian Barat (GPIB) atau lebih yang dikenal sebagai Gereja Immanuel adalah gereja tertua di Kota Medan yang dibangun pada 21 Oktober 1921.