Tragis dan Terharu, Beginilah Jejak Perjuangan Kemerdekaan di Tanah Deli Pada Masa Penjajahan

Medan Era Kolonial

Kedatangan Belanda ke Tanah Deli berawal dari Jacobus Nienhuys bersama rekannya Van Der Valk dan Ellhot pada tahun 1860-an atas undangan pengusaha Melayu untuk mengadakan investasi tembakau. Sejak saat itu tembakau Deli mulai terkenal ke seluruh penjuru dunia sebagai daun pembungkus cerutu yang paling baik hingga Tanah Deli mendapat julukan Het Dollar Land.

Pertumbuhan Medan yang pesat secara tidak sadar bersamaan dengan dimulainya masa penjajahan Belanda di Tanah Deli yang ditandai dengan adanya perjanjian Acte Can Verand antara Sultan Deli dengan pemerintah Belanda pada tanggal 22 Agustus 1862. Isi perjanjian tersebut mengharuskan Sultan Deli mematuhi Raja Belanda atau Gubernur Jenderal Hindia dan memberikan konsesi atas tanah milik sang Sultan serta bersedia memenuhi syarat-syarat penambahan akta yang belum dicantumkan.

Berdasarkan informasi dari buku The Golden Brigde “Jembatan Emas” 1945 yang disusun oleh Let. Kol. Pur. Mansyur (1980), tahun 1942 penjajahan Belanda berakhir, beralih dengan mendaratnya pasukan Jepang di Sumatra Timur melalui Tanjung Tiram. Namun tak berselang lama, Jepang terdesak pertempuran hebat dengan tentara Sekutu.

Hingga pada pertengahan Agustus 1945, Tenno Heika yang merupakan Kaisar Jepang mengumumkan “menyerah” pada perang Asia Timur Raya/Pasifik (Dai Toa Senso). Berkumandanglah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 sebagai pernyataan ke seluruh dunia bahwa Indonesia bebas dari penjajahan.

Penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia meninggalkan rekam jejak termasuk di kota Medan. Berbagai budaya, bahasa hingga bangunan mendapat pengaruh dari para kolonial. Pada edisi kali ini, Kover Magazine akan membahas lima bangunan bersejarah sejak era penjajahan di kota Medan yakni Kesawan, Kantor Pos, Gereja Immanuel, Hotel de Boer dan Gedung Pemuda.