Mengenal ‘Cancel Culture’, Tren Toxic Netizen Yang Muncul Di Indonesia

18

Di zaman canggih seperti sekarang, siapa sih yang enggak punya media sosial? Kucing aja punya, bro. Hampir semua masyarakat Indonesia di setiap kalangan dan usia memiliki serta menggunakan media sosial, sebagai salah satu sarana untuk memperoleh maupun menyampaikan informasi ke publik.

Perkembangan teknologi informasi ini telah membawa perubahan dalam masyarakat. Media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etika, dan norma yang ada. Perkembangan ini juga dimanfaatkan oleh sebagian kalangan untuk meraup berbagai keuntungan, seperti peluang untuk bisnis, bahkan peluang untuk mencari popularitas semata.

Pola perilaku yang bergeser tersebut, antara lain adalah dalam bentuk kebebasan individu dalam menyampaikan suatu pikiran, kritik, saran, bahkan hujatan, yang sering ditemui setiap jam dan hari melalui berbagai macam platform media sosial.

Merujuk pada mediaindonesia.com, di saat kehadiran media sosial di satu sisi menawarkan berbagai kemudahan dan hiburan, di sisi yang lain, ketika penggunanya semakin liar dan keluar dari batas norma sosial, risiko yang sering muncul ialah keresahan serta bisa menimbulkan adanya cancel culture  .

Cancel culture sendiri adalah sikap kolektif masyarakat untuk memboikot seseorang atas perbuatan atau perkataannya. Atau bisa juga diartikan budaya membuang image baik seseorang, sesuatu produk atau merek, acara, dan lain sebagainya di mata publik. Fenomena ini biasanya seorang seleb, public figure atau mungkin orang dengan exposure tinggi yang telah berbagi pendapat yang meragukan, atau memiliki perilaku bermasalah yang diumbar demi mencari pembenaran sepihak di media sosial.