Mengenal ‘Cancel Culture’, Tren Toxic Netizen Yang Muncul Di Indonesia

Lalu Bagaimana Cara Mengatasi Fenomena cancel culture  ?

Perbanyak literasi anda. Perkaya pengetahuan anda. Perluas wawasan anda. Sedikit naif, tapi ini benar-benar solusi paling ampuh dalam menangani cancel culture  yang dituding bakal susah hilang di tengah ganasnya sosial media saat ini. Lagian kenapa gak mau sih perkaya literasi dan wawasan anda? Bagus juga loh untuk melawan hoax!

Banyak yang menganggap budaya ini adalah budaya yang menakutkan, seperti John Drury, seorang psikolog sosial yang berkata bahwa sekelompok orang yang tidak sejalan dengan norma sosial seringkali ditampilkan sebagai sesuatu yang ditakuti. Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu dari cancel culture .

Menurut Guru Besar Sosiologi Universitas Gadjah Mada, Sunyoto Usman, menyebut cancel culture di Indonesia sejauh ini masih merupakan fenomena urban, karena hanya melibatkan sekelompok kecil masyarakat dengan akses dan literasi digital yang baik. Tapi, jangan remeh bro.

Pengamat sosial UI, Devie Rahmawati, menyoroti dampak negatif dari cancel culture yang lebih dirasakan masyarakat biasa ketimbang tokoh publik. Pasalnya, “ketika cancel culture   menyerang selebritas, maka mereka masih memiliki karya, yang berpeluang untuk tetap dikonsumsi dan dinilai positif oleh publik lainnya. Sedangkan bagi kalangan biasa, serangan cancel culture akan berpotensi menutup ruang aktualisasi hingga potensi ekonomi.”

Budaya cancelling bisa juga dinilai sebagai sebuah budaya yang memiliki sifat negatif. Sebab dinilai sebagai online shaming yang sangat destruktif. Tujuan awal cancel culture ialah supaya orang yang dianggap tidak sesuai dengan norma masyarakat, bisa bertanggung jawab dengan perbuatannya dengan menanggung sanksi sosial.

Akan tetapi, semakin lama, cancel culture digunakan sebagai ajang memojokan seseorang yang tidak disukai.

Ada berbagai cara untuk menghadapi atau menghindari cancel culture, di antaranya bijak dalam membaca berita dan harus memastikan pula kebenaranya. Di tengah fenomena cancel culture ini, jika anda memperkaya pengetahuan dan wawasan anda, maka anda dapat menentukan perspektif mana yang akan anda pilih apabila sebuah tren menjadi viral di internet dan media sosial. Literasi digital bagi masyarakat amat penting untuk mencegah dampak yang lebih merugikan dari fenomena cancel culture yang kalau dibiarkan, bisa menjadi lebih kacau.

Penulis: Abram