
Makanan yang tidak habis setelah makan sering kali disimpan untuk dikonsumsi kembali pada waktu berikutnya. Selain membantu menghemat pengeluaran rumah tangga, kebiasaan ini juga dapat mengurangi pemborosan makanan. Namun, muncul pertanyaan yang cukup sering dijumpai di dapur: apakah makanan sisa aman jika dipanaskan berkali-kali?
Memanaskan kembali makanan sebenarnya dapat dilakukan dengan aman apabila makanan disimpan dan ditangani secara tepat. Masalahnya, setiap kali makanan dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang, disimpan dengan cara yang kurang tepat, atau dipanaskan tidak merata, risiko pertumbuhan bakteri penyebab penyakit dapat meningkat. Karena itu, bukan hanya jumlah pemanasan yang perlu diperhatikan, tetapi juga cara menyimpan dan menangani makanan sejak pertama kali dimasak.
Apakah Makanan Aman jika Dipanaskan Berkali-kali?
Secara umum, makanan sisa yang disimpan dengan benar dapat dipanaskan kembali. Namun, untuk mengurangi risiko keracunan pangan, sebaiknya panaskan hanya porsi yang akan dikonsumsi dan hindari memanaskan seluruh makanan berulang kali.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam panduan keamanan pangan menyarankan agar makanan matang yang disimpan di lemari pendingin dipanaskan hingga panas merata dan pemanasan ulang dilakukan satu kali. Panduan dari sejumlah otoritas keamanan pangan lain juga menyarankan agar sisa makanan tidak dipanaskan berulang kali.
Alasannya, makanan yang berulang kali mengalami perubahan suhu berisiko berada terlalu lama dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri. Risiko ini semakin besar jika makanan dibiarkan di meja makan selama berjam-jam sebelum kembali disimpan.
Selain itu, pemanasan berulang dapat mengubah kualitas makanan. Tekstur menjadi lebih kering, sayuran semakin lunak, dan rasa makanan bisa berubah. Meski demikian, kualitas yang menurun tidak selalu berarti makanan sudah tidak aman, begitu pula makanan yang tampak normal belum tentu bebas dari bahaya.
Mengapa Cara Menyimpan Makanan Sisa Sangat Penting?
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan adalah membiarkan makanan matang di suhu ruang terlalu lama sebelum memasukkannya ke lemari pendingin. Padahal, bakteri dapat berkembang biak lebih cepat pada rentang suhu tertentu.
Menurut United States Department of Agriculture (USDA), makanan yang mudah rusak sebaiknya disimpan di lemari pendingin dalam waktu maksimal dua jam setelah dimasak atau disajikan. Jika berada di lingkungan bersuhu lebih dari sekitar 32 derajat Celsius, batas waktunya menjadi satu jam.
Makanan yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruang dapat menjadi berisiko meskipun nantinya dipanaskan kembali. Sebagian bakteri dapat menghasilkan racun yang tidak selalu hancur melalui pemanasan biasa.
Karena itu, jangan mengandalkan pemanasan untuk menyelamatkan makanan yang sudah salah disimpan. Jika makanan mudah rusak telah berada di suhu ruang melebihi batas aman, pilihan yang lebih aman adalah membuangnya.
Cara Menyimpan Makanan Sisa agar Lebih Aman
Agar makanan sisa dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan keamanan pangan, ada beberapa langkah yang bisa diterapkan di rumah.
1. Simpan makanan sesegera mungkin
Setelah selesai makan, pisahkan makanan yang masih akan disimpan. Jangan menunggu sampai makanan benar-benar dingin selama berjam-jam di meja dapur. Makanan panas dapat dibagi ke dalam wadah yang lebih kecil dan dangkal agar lebih cepat dingin, kemudian dimasukkan ke lemari pendingin.
2. Gunakan wadah bersih dan tertutup
Simpan makanan dalam wadah bersih dengan penutup yang rapat. Cara ini membantu mengurangi risiko kontaminasi dari lingkungan serta mencegah makanan menyerap aroma dari bahan pangan lain di dalam kulkas.
Sebaiknya, pisahkan makanan matang dari bahan mentah seperti daging atau ikan yang belum diolah agar tidak terjadi kontaminasi silang.
3. Perhatikan suhu lemari pendingin
Pastikan lemari pendingin berada pada suhu sekitar 4 derajat Celsius atau lebih rendah. Suhu dingin memperlambat pertumbuhan bakteri, tetapi tidak membunuh semua bakteri yang mungkin terdapat dalam makanan.
Jika makanan tidak akan dikonsumsi dalam waktu dekat, pembekuan dapat menjadi pilihan. Namun, makanan beku tetap perlu ditangani dan dicairkan dengan cara yang aman.
4. Beri label tanggal penyimpanan
Kebiasaan sederhana seperti mencatat tanggal makanan dimasak atau disimpan dapat membantu menentukan kapan makanan sebaiknya dikonsumsi.
Sebagai panduan umum, USDA menyarankan makanan sisa matang disimpan di lemari pendingin selama sekitar tiga hingga empat hari. BPOM juga memberikan panduan penyimpanan sisa pangan yang lebih singkat, yakni maksimal tiga hari pada salah satu materi edukasinya. Untuk penggunaan sehari-hari, sebaiknya konsumsi sesegera mungkin dan ikuti panduan yang lebih konservatif jika ragu.
Bagaimana Cara Memanaskan Makanan Sisa dengan Benar?
Memanaskan makanan bukan sekadar membuatnya terasa hangat. Bagian tengah makanan juga perlu mencapai suhu yang cukup agar bakteri berbahaya dapat dikendalikan.
USDA merekomendasikan agar makanan sisa dipanaskan hingga mencapai suhu internal sekitar 74 derajat Celsius. Jika menggunakan termometer makanan, periksa beberapa bagian, terutama bagian tengah makanan yang tebal.
Untuk makanan berkuah seperti sup, sayur berkuah, atau saus, panaskan hingga mendidih sambil diaduk. Jika menggunakan microwave, tutup makanan dengan penutup yang aman untuk microwave, aduk atau putar makanan di tengah proses pemanasan, lalu pastikan panasnya merata. Hal ini penting karena microwave dapat menghasilkan bagian yang sangat panas dan bagian lain yang masih dingin.
Cara yang lebih praktis adalah mengambil porsi secukupnya sebelum memanaskan. Dengan begitu, makanan yang belum akan dimakan tetap tersimpan di lemari pendingin dan tidak perlu mengalami siklus pemanasan berulang.
Apakah Makanan yang Berbau Normal Pasti Aman?
Belum tentu. Bau, warna, dan tekstur memang dapat membantu mengenali tanda kerusakan, seperti munculnya lendir, jamur, atau aroma yang tidak biasa. Namun, makanan yang terkontaminasi bakteri penyebab penyakit belum tentu menunjukkan perubahan yang mudah dikenali.
Karena itu, jangan mencicipi makanan hanya untuk memastikan apakah makanan tersebut masih aman. Jika makanan sudah terlalu lama berada di suhu ruang, penyimpanannya tidak jelas, atau muncul tanda kerusakan, sebaiknya jangan dikonsumsi.
Hal ini perlu mendapat perhatian khusus ketika makanan akan diberikan kepada anak kecil, ibu hamil, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Kelompok tersebut dapat lebih rentan mengalami komplikasi akibat penyakit bawaan makanan.
Kesimpulan
Makanan sisa tidak selalu harus dibuang, tetapi keamanan penyimpanannya perlu diperhatikan. Memanaskan makanan berkali-kali bukan kebiasaan yang dianjurkan karena perubahan suhu berulang dapat meningkatkan risiko jika makanan tidak ditangani dengan benar, sekaligus menurunkan kualitas rasa dan teksturnya.
Untuk mengurangi risiko, simpan makanan dalam wadah bersih dan tertutup, masukkan ke lemari pendingin sesegera mungkin, perhatikan lama penyimpanan, serta panaskan hanya porsi yang akan dikonsumsi hingga panas merata. Jangan mencoba menyelamatkan makanan yang telah dibiarkan terlalu lama di suhu ruang hanya dengan memanaskannya kembali.
Dengan kebiasaan penyimpanan dan pemanasan yang tepat, makanan sisa bisa dimanfaatkan secara lebih bijak tanpa mengabaikan kesehatan keluarga.


