Apa Tren Cancel Culture Positif Atau Negatif?
Positif atau negatif tabiat yang bermunculan saat ini sepertinya tidak bisa digeneralisir semudah itu sih. Ini tidak segampang membalikkan telapak tangan. Harus kita lihat juga case by case. Kekalahan bagi sebagian orang mungkin adalah kemenangan yang dikejar oknum cancel culture . Wah kok oknum? Kok bukan korban? Bukankah kalau terkena efek cancel culture itu rasanya seperti anda terkena lemparan tinja?
Nope. Balik ke pernyataan di awal. Efek dari cancel culture ini ibarat pedang bermata dua. Mungkin untuk sebagian figur hal ini secara telak berimbas kepada rate dan value yang sudah mereka bangun semenjak saat ini. Tapi oh tetapi, bisa juga objek ‘cancel’ masyarakat ini akan memberikan dampak besar bagi popularitas orang tersebut. Bahkan, mungkin ini yang mereka cari. Karena siapa sih sekarang ini yang gak mau viral?
Jika melihat dan mengamati fenomena cancel culture sekarang ini, seseorang yang menjadi korban justru malah meningkat popularitasnya. Dengan menimbulkan suatu masalah, biasanya televisi akan mengundang publik figur tersebut mengklarifikasi. Akan tetapi, kepopulerannya hanya sementara saja.
Pesohor sosial media, Awkarin pernah mencuit soal cancel culture yang pernah ia alami, Awkarin mengaku ia menjadi objek cancelation itu sendiri. Lagu ‘Bad’ yang dia rilis bareng YoungLex sudah membuatnya ‘dibuang’ netizen sejak awal. Terkenal sebagai seleb media sosial yang penuh sensasi sampai akhirnya beberapa misi sosial telah membersihkan nama Awkarin. Walau begitu, kebiasaan cancel-cancel seleb masih ada dan betah banget nangkring di media sosial. Nggak terkecuali Awkarin yang bisa kembali jadi objek cancel meski sudah pernah dimaafkan.
Berbicara maupun berbahasa dapat berbahaya, karena dalam cancel culture, konteks yang salah dapat merusak berbagai pihak. Meskipun yang diperdebatkan dan di-cancel merupakan biang masalah, dapat timbul penghakiman yang menyebabkan terpecahnya suatu masyarakat. Setiap orang perlu memahami bahwa “cancelling people” dapat disalahgunakan dengan kuat, tetapi juga mampu menyoroti ketidakadilan yang telah dipendam sebegitu lama.
Cancel culture tidak boleh dianggap sebagai ajang mempermalukan seseorang, bukan juga budaya yang membuat orang dengan opini berbeda “di hukum” secara berlebihan. Menurut peneliti komunikasi sosial dan budaya dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati,
“Operasi dari cancel culture ini ialah dengan cara memotret, mempertontonkan, melabel dan mempermalukan orang tersebut di hadapan publik, melalui medium teknologi media sosial.”



