KEMBALINYA TALIBAN, APA YANG TERJADI DENGAN AFGHANISTAN?

81

KEJATUHAN TALIBAN

Setelah kejadian historik 9/11 di World Trade Center, New York, militer Amerika Serikat menyerbu untuk membasmi mereka yang berada di balik serangan, tetapi misi lain yang kurang jelas mulai terbentuk. Para pemimpin AS dan NATO berharap peluang ekonomi dan demokrasi akan membuat negara itu tidak akan menjadi surga bagi teroris lagi ke depannya. Serangan ini dimulai pada bulan Oktober sampai dengan bulan November 2001 dengan secara mengejutkan sehingga pihak Taliban langsung keluar dari ibu kota Afganistan. Sejak 2001, pasukan Amerika dan negara sekutu yang lain seperti Britania Raya dan Jerman mulai menduduki Afganistan untuk menumpas Taliban dan membantu menjaga keamanan negara. 

World Trade Centre, 9 September 2001

Pada awal Desember 2001, pemerintahan Taliban telah jatuh, dan Amerika Serikat mulai bekerja dengan rakyat Afghanistan untuk mendirikan pemerintahan yang demokratis. Setelah kekalahan mereka, para pemimpin Taliban melarikan diri ke benteng mereka di selatan dan timur Afghanistan atau melintasi perbatasan ke Pakistan. Kelompok militan kemudian memimpin pemberontakan melawan pemerintah Afghanistan baru yang didukung AS, menggunakan bom rakitan dan serangan bunuh diri. 

Pendiri dan pemimpin asli Taliban Mullah Mohammad Omar, yang bersembunyi setelah Taliban pun harus meregang nyawa begitu rahasia keberadaannya terungkap oleh mata-mata. Kematiannya pun tidak terelakkan pada tahun 2013, yang dikonfirmasi dua tahun kemudian oleh putranya. Taliban pun lalu melebur ke daerah-daerah terpencil, di mana ia memulai pemberontakan selama 20 tahun melawan pemerintah Afghanistan dan sekutu Baratnya. 

KORUPSI MERACUNI KEKUATAN AFGHANISTAN 

Dapat dimengerti banyak yang menyalahkan keputusan penarikan militer Amerika Serikat oleh Presiden AS Joe Biden atas kekacauan Afghanistan saat ini. Tetapi jangan sebelah mata gitu dong, karena alasannya juga berakar pada kekuatan lama Taliban dan kelemahan mendasar negara Afghanistan.

AS dan negara-negara sekutu NATO telah menghabiskan sumber daya yang cukup besar dalam 20 tahun terakhir untuk program pelatihan dan memperlengkapi pasukan keamanan Afghanistan.

Dilansir dari BBC, dikatakan bahwa pasukan keamanan Afghanistan berjumlah lebih dari 300.000 orang (setidaknya di atas kertas). Jumlah itu termasuk angkatan darat, udara, serta kepolisian Afghanistan.

Namun, seperti yang Kover sebut di atas: kelemahan mendasar negara Afghanistan adalah riwayat buruk perihal kematian yang tinggi, desersi, serta korupsi. Dikatakan bahwa sejumlah komandan tak bermoral meminta anggaran yang diklaim untuk pasukannya, namun sebenarnya prajurit-prajurit itu tidak pernah ada – yang disebut “tentara hantu”.

Dalam laporan terbarunya kepada Kongres AS, Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction (SIGAR) atau  Inspektur Jenderal Khusus untuk Afghanistan menyatakan “keprihatinan serius tentang efek korupsi yang merusak… dan pertanyaan keakuratan data mengenai kekuatan pasukan yang sebenarnya”.

Sejak perang NATO secara resmi berakhir pada tahun 2014, pasukan Afghanistan mencoba mandiri dari pelatihan, nasihat, dan dolar yang berlimpah dari Washington, telah berjuang untuk melawan pemberontakan dari depan. Pasukan Khusus Afghanistan, unit tempur paling efektif dari militer Afghanistan digunakan secara berlebihan, membebani kapasitas aset terbaik militer.

Baca Juga:  Ada apa dengan Bendera PBSI yang seharusnya Bendera Merah Putih yang berada di sana ?