KEMBALINYA TALIBAN, APA YANG TERJADI DENGAN AFGHANISTAN?

65

Memang mungkin bukan ranah Kover untuk bahas urusan perpolitikan luar negeri, sedangkan urusan perpolitikan dalam negeri, kita gak muat. Padahal, kasus-kasus korupsi dan penyogokan, kasus wakil-wakil rakyat pesta narkoba, kurang apa?  Tapi kejadian kali ini, benar-benar melampaui rasa eneg dan mengganggu sisi kemanusiaan. Video-video yang bertebaran di seluruh penjuru media sosial benar-benar heart-breaking. Maka Kover, memutuskan untuk ikut andil dalam kampanye menyebarkan realita yang sedang terjadi di luar sana, yang bahkan tidak bisa diredam oleh kejahatan virus-virus penyebab Covid-19. 

Tiga bulan pasca penarikan pasukan yang dilakukan oleh NATO dan Amerika Serikat setelah 20 tahun berada di Afghanistan, dunia dikejutkan dengan keberhasilan Taliban yang menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan dan ibukota Kabul dengan sangat cepat. Pejuang Taliban membanjiri ibukota Afghanistan pada hari Minggu di tengah adegan panik dan kekacauan dan publik menuding ini sebagai kegagalan intelijen.

Presiden Ashraf Ghani dari Afghanistan melarikan diri dari negara itu, dan dewan pejabat Afghanistan, termasuk mantan Presiden Hamid Karzai, mengatakan mereka akan membuka negosiasi dengan Taliban mengenai bentuk pengambilalihan pemberontak. Di penghujung hari, pemerintah pun telah runtuh secara efektif dan para pemberontak telah secara resmi menyegel kendali mereka atas seluruh negeri.

Pada tanggal 15 Agustus, Taliban yang bangkit kembali memasuki ibu kota Kabul, ditandai dengan Presiden Ashraf Ghani dilaporkan telah melarikan diri dari negara itu dan tembakan serta kepanikan pecah di jalan-jalan. Beberapa hari sebelumnya, kelompok militan tersebut telah merebut Kandahar, kota terbesar kedua di negara itu, bersama dengan serangkaian ibu kota provinsi.

Warga Afghanistan ‘dihantui’ ketakutan akan kembalinya aturan lama, begitu kekuasaan di negaranya berhasil diambil alih oleh pasukan Taliban. Di balik kemenangan Taliban, banyak warga Afghanistan yang merasa takut akan kembalinya praktik-praktik keras masa lalu dalam pemaksaan hukum agama syariah. Selama masa pemerintahan tahun 1996-2001, para wanita tidak boleh bekerja dan dihukum seperti dirajam, dicambuk, dan digantung. Bukan isapan jempol bahwa Taliban akan mengetuk pintu rumahmu, mengambil anak gadis di bawah usia untuk dipaksa nikah.