“Tiada yang tak mungkin di dunia ini selama dikehendaki oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Contoh ketika seorang petani bertarget dalam setahun akan panen raya hingga tiga kali. Ia berusaha maksimal merawat kebunnya namun tiba-tiba gempa bumi terjadi. Itu kuasa dari Tuhan, si petani nggak bisa apa-apa. Manusia hanya merencanakan, Tuhan lah yang menentukan,” papar laki-laki yang mengagumi Tony Robins tersebut.
Jadi Motivator itu Anugrah, Bukan Profesi
Albert tak mendapatkan predikatnya sebagai Motivator dan Inspirator muda dengan mudah. Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Sukma Medan tersebut menceritakan jika awalnya ia harus berulang kali melawan rasa takut akibat gugup dan tak percaya diri.
“Saya jadi Motivator itu otodidak, saya mulai dengan melatih diri sendiri di depan kaca. Saya latih suara saya agar keras dan terdengar jelas terutama di penekanan suaranya. Saya juga belajar bagaimana membuat gurauan-gurauan kecil sebab ini diperlukan agar orang yang mendengar apa yang akan saya sampaikan tidak mengantuk, intinya saya bener-benar belajar semua dari awal,” cerita laki-laki yang berencana melanjutkan S3 ke luar negeri tersebut.
Ia hadapi seluruh rasa takut dan gugup dengan menenangkan diri dan berfikir positif. “Sampai saat ini, orang terkaya bahkan pembicara hebat sekalipun jika akan tampil perdana pasti gugup. Takut salah itu wajar, yang tak wajar itu adalah menurutinya. Tenangkan diri, saya pribadi memulainya dengan menarik nafas. Hadapi saja dan jangan pikir yang lain, kalau tak dihadapi masalah itu akan terus ada dan tak kunjung usai,” sarannya.
Bagi Albert, menjadi seorang motivator adalah anugrah karena Tuhan memberinya kesempatan untuk membangkitkan semangat seseorang agar bangkit dari keterpurukan. Ketikaorang tersebut mampu bangkit, itulah kebahagiaan yang tiada taranya.
“Kenapa anugrah, karena ketika menjadi motivator kita bisa memotivasi siapapun. Siapa pun di dunia ini sebenarnya bisa jadi motivator. Contohnya seorang suami bisa jadi motivator buat istrinya saat akan melahirkan, suami tentu akan memotivasi istrinya, menguatkan jika istrinya pasti bisa. Akan ada kebahagiaan ketika kita bisa membuat seseorang perlahan-lahan menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Alumni SMA 1 Sutomo Medan itu.


