HOTEL DE BOER
Berlokasi di Jalan Balaikota Nomor 2 Medan, Grand Inna Medan, yang terletak di sebelah Bank Indonesia dan di seberang Tugu Titik Nol Kota Medan, Hotel De Boer yang lama dikenal sebagai Hotel Inna Dharma Deli sebelum berubah nama menjadi Grand Inna Medan, awalnya merupakan sebuah hotel yang di dalamnya terdapat restoran mewah dan bar yang dibangun oleh seorang pengusaha Belanda bernama Aeint Herman de Boer pada tahun 1898, yang memiliki restoran bernama Grim yang terletak di Surabaya. Awalnya hotel ini bernama NV. Hotel Mijn de Boer, namun kemudian lebih dikenal dengan nama Hotel de Boer.
De Boer menurut bahasa Belanda berarti petani, sesuai dengan fungsinya kala itu, para investor perkebunan dari Eropa yang datang melihat kebun tembakau di Tanah Deli sering menginap di Hotel De Boer.
Tak hanya para tamu kehormatan, banyak pula tokoh terkenal yang pernah menginap di Hotel de Boer, sebut saja Raja Leopold II dari Belgia, pangeran Schaumburg-Lippe yang merupakan keponakan Ratu Wilhelmina dari Belanda, Mata Hari sang mata-mata keturunan Indo Jawa, serta Sutan Syahrir tokoh nasional Indonesia.
Mewah dan Bebas Nyamuk
Hotel bergaya kolonial ini layaknya hunian bagi para bangsawan dan pengusaha mapan pada kala itu. Arsitekturnya dirancang mewah, dengan lokasi strategis di seberang Esplanade (Lapangan Merdeka).
Awalnya Aeint Herman de Boer hanya mendirikan sebuah restoran, satu bar dan tujuh kamar. Namun seiring dengan perkembangan kota Medan sebagai pusat administrasi perkebunan di Sumatra Timur, banyak para pengusaha dan pedagang asing yang memilih Hotel de Boer sebagai tempat penginapan.
Tahun 1930-an, Hotel de Boer kembali menambah kamar menjadi 40 dengan 400 lampu yang menerangi seluruh ruangan. Hingga pada akhirnya jumlah kamar menjadi 120 dan dilengkapi aula besar.
Iklim Indonesia yang tropis selain menghasilkan cuaca yang panas juga menyebabkan serangga seperti nyamuk bertebaran, menjadikan waktu libur begitu dinantikan oleh para tuan kebun untuk kemudian bertandang ke kota Medan dan mendapatkan fasilitas yang lebih nyaman. Hal ini menjadi perhatian Aeint Herman de Boer dalam membangun hotelnya. Oleh karena itu sekeliling Hotel de Boer dilengkapi kawat sehingga nyamuk tidak bisa menjangkiti kulit-kulit putih para tamu.





