Menolak Lupa Bukti Penjajahan di Tanah Deli: HOTEL DE BOER

13

MEDAN, KOVERMAGZ – Medan pada awalnya adalah sebuah kampung kecil yang terletak di sekitar sungai Babura dan sungai Deli dengan jumlah penduduk berkisar 200 jiwa. Konon Guru Patimpus cucu dari Sisingamangaraja mendirikan kampung kecil yang bernama Medan Putri (sekarang Jalan Putri Hijau) yang merupakan cikal bakal lahirnya kota Medan pada tahun 1590. 

Dikutip dari buku berjudul Jejak Medan Tempo Doeloe karya Farizal Nasution (2012), menurut riwayatnya, kata ‘Medan’ berasal dari bahasa Melayu yang berarti ‘tempat berkumpul’ karena sejak dahulu Medan dikenal sebagai tempat masyarakat dari berbagai etnik melakukan transaksi niaga, barter, dan bertukar informasi.

Perkembangan kota Medan baik dari aspek pemukiman, kebudayaan dan agama banyak dipengaruhi oleh Kesultanan Melayu. Kedatangan koloni penjajah ke kota Medan juga memberikan dampak, salah satunya adalah lahirnya perkebunan tembakau di Deli. Sarana dan prasarana juga dibangun untuk mendukung perkembangan industri perkebunan. 

 

Medan Era Kolonial

Kedatangan Belanda ke Tanah Deli berawal dari Jacobus Nienhuys bersama rekannya Van Der Valk dan Ellhot pada tahun 1860-an atas undangan pengusaha Melayu untuk mengadakan investasi tembakau. Sejak saat itu tembakau Deli mulai terkenal ke seluruh penjuru dunia sebagai daun pembungkus cerutu yang paling baik hingga tanah Deli mendapat julukan ‘Het Dollar Land’.

Baca Juga:  Klub 27: Kutukan Usia 27 Para Pesohor Dunia?

Pertumbuhan Medan yang pesat secara tidak sadar bersamaan dengan dimulainya masa penjajahan Belanda di tanah Deli yang ditandai dengan adanya perjanjian ‘Acte Can Verand’ antara Sultan Deli dengan pemerintah Belanda pada tanggal 22 Agustus 1862. Isi perjanjian tersebut mengharuskan Sultan Deli mematuhi Raja Belanda atau Gubernur Jenderal Hindia berupa pemberian konsesi atas tanah milik sang Sultan dan bersedia memenuhi syarat-syarat penambahan akta yang belum dicantumkan.

Berdasarkan informasi dari buku The Golden Brigde “Jembatan Emas” 1945 yang disusun oleh Let. Kol. Pur. Mansyur (1980), tahun 1942 penjajahan Belanda berakhir, beralih dengan mendaratnya pasukan Jepang di Sumatra Timur melalui Tanjung Tiram. Namun tak berselang lama, Jepang terdesak pertempuran hebat dengan tentara Sekutu. Hingga pada pertengahan Agustus 1945, Tenno Heika yang merupakan Kaisar Jepang mengumumkan “menyerah” pada perang Asia Timur Raya/Pasifik (Dai Toa Senso). Berkumandanglah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 sebagai pernyataan ke seluruh dunia bahwa Indonesia telah merdeka.

Penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia meninggalkan rekam jejak termasuk di kota Medan. Berbagai budaya, bahasa hingga bangunan mendapat pengaruh dari para kolonial. Sepekan ke depan, Kover Magazine akan membahas bangunan-bangunan bersejarah kota Medan, yakni Hotel de Boer, Kantor Pos, Gedung Pemuda, GPIB Immanuel, dan Kesawan.