Linova, Jurnalis Wanita Tangguh hingga Bercita-cita Ingin Punya Media Sendiri

96

­­Sedari awal sudah bergejolak dalam diri, menjadi jurnalis adalah jati diri. Walau pendidikan berlabuh pada Fakultas Pertanian, tapi asa tetap dijaga. Tujuanya pun mulia, keliling dunia tanpa biaya agar anaknya bisa melanjutkan apa yang sudah diusahakannya. Linova pun meneruskan pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Dharma Agung.

“Awalnya memang tidak punya niatan bekerja sebagai seorang jurnalis, tapi sempat berpikir sejenak, pekerjaan apa yang bisa membuat saya bisa traveling keliling dunia tanpa keluarkan biaya sepeser pun, mungkin dengan bermodalkan bahasa inggris mempuni lalu ditambah kemampuan photography dan videography mempuni saya bisa menjadi jurnalis handal yang bisa memberitakan dari berbagai negara,” ujarnya.

Setahun berselang, ia pun coba maksi- malisasl kuliah dengan mengambil jurusan Jurnalistik di STIK-P Medan. Jadi dalam satu hari wanita hebat ini harus menjalani rutinitas kuliah di dua kampus berbeda dengan program studi yang berbeda pula.

“Pada saat semester tiga pada jurusan jur- nalistik, saya mulai ditawari untuk menjadi kontributor berita untuk beberapa harian di Kota Medan, tak lama berselang tepatnya tahun 1994, saya sudah bekerja untuk kantor berita asing, Associated Press,” kenangnya.

Untuk diketahui, Associated Press merupakan kantor berita Amerika Serikat yang merupakan salah satu kantor berita tertua di dunia. Sedari kuliah memang ia tak kenal lelah perkara mencari berita, tabloid kampus, harian lokal hingga nasional menjadi wadah penyalur aspirasi menulisnya.

2002 ia sudah kerja di koresponden di salah satu televisi (tv) nasional Lativi, menyingkirkan 70 orang pesaing hingga akhirnya menyisakan namanya perwakilan Medan. Hingga pada 2008 TV One melakukan akusisi, pegawai yang dirasa punya kompeten tetap dipertahankan.