Linova, Jurnalis Wanita Tangguh hingga Bercita-cita Ingin Punya Media Sendiri

Ingin Punya Media Sendiri

Punya pengalaman segudangdan jaringan relasi yang tersebar diberbagai negara. Tentu ingin punya media sendiri bukanlah hal yang tak mungkin, sebab sejatinya proses yang panjang tak pernah khianati hasil.

“Media lokal itu seharusnya menjadi raja, mampu bersaing dengan nasional, sebab untuk pasar iklan mereka lebih paham,”tambahnya. Bagi Linova, tak ada kesenjangan antara media lokal dan nasional, hanya pada peluang investor yang belum banyak dilirik karena dinilai belum menjanjikan keuntungan yang besar.

Selain untuk wujudkan impian, media yang baru juga bisa membuka lapangan kerja baru. Walau banyak media yang gulung tikar, tapi ia yakin setiap media yang punya jati diri pasti akan bertahan ”Dari dulu ketakutan orang selalu berlebihan, saat televisi ada radio takut diting- galkan, tapi sampai saat ini masih banyak orang yang mendengarkan radio, mereka punya pasar sendiri asal tidak takluk pada perkembangan teknologi,” tambahnya.

Sebagai jurnalis perempuan, ternyata banyak kemudahan yang ia dapat, ceritanya saat mengenang tsunami Aceh, pulang pergi saat meliput kesana sering menumpang jet pribadi.

Baca Juga:  Mengenal Bernard Arnault, Bagaimana Ia Membangun Kerajaan Bisnis Mewah LVMH?

“Banyak pesawat asing yang singgah, terutama private jet, beberapa pilot yang merasa kasihan membolehkan untuk ikut, karena iba melihat saya seorang wanita menenteng kamera ukuran ‘monster’,” kenangnya.

Ada hitam ada putih, ada kebaikan pasti ada kekurangan yang ia dapati sebagai jurnalis perempuan, “Yang patut diwanti-wanti itu fitnah aja, karena jurnalis perempuan harus wawancara malam hari disangka jual diri,”tambahnya sembari tertawa kecil.

Disekap karena Berita

Honor pertamanya sebagai jurnalis Rp 10.000 dipotong pajak hanya besisa Rp 8.500, jelas bukan karena materi ia tekuni dunia ini, lebih dari sekedar mengabdi, bahkan nyawa pun pernah ia pertaruhkan demi semua berita.

“Ketika mengambil gambar saat penggusuran rumah di jalan Mongonsidi, saya sempat disandera beberapa jam di suatu rumah kosong, handphone dimatikan lalu rekaman dihapus,” kenangnya. Saat itu ia berhasil diselamatkan oleh teman sesama jurnalis, yang sempat ia hubungi. Setelah kejadian itu ada makna yang ia tangkap, jangan pernah acuhkan teman jurnalis sesama liputan, karena bisa jadi dia orang yang menyelamatkan kita.