Dalam perjalanannya menjalani profesinya, Namboru Silitonga, sapaan akrabnya, sudah mendapatkan beberapa penghargaan dari Presiden Soeharto dan Megawati Soekarno Putri. Ia berpesan kepada generasi milenial untuk terus melanjutkan tenun kain khas Batak. Pada akhir kegiatan workshop peserta yang hadir bersuka cita menari Tortor bersama, dengan menggunakan kain ulos buatan Namboru Silitonga.
Pada waktu yang berbeda Nestor Rico Tambunan atau yang biasa disebut Opung Nestor sang penulis skenario Si Doel Anak Sekolahan, membuka workshop bertajuk “Menulis Kreatif” bertempat di rumah Batak kawasan Lopo Hotel International. Berbagai kalangan mulai dari pelajar sampai guru dan pegiat literasi hadir di workshop tersebut.
“Kreatif adalah cara cepat mencari ide. Menjadi seorang penulis wajib membaca dan kecintaan terhadap kehidupan. Jika ingin terkenal karena menulis namun tidak mencintai kehidupannya akan sia-sia. Saya juga berpesan kepada siapa pun yang mencintai dalam menulis untuk terus menulis karena ada berjuta manusia dan pengalamannya yang tidak diketahui akan memperkaya kehidupan, maka teruskan menulis. Ingatlah menulis adalah mencatatkan nama dan pemikiran dalam literasi, apalagi jika sudah menerbitkan buku berarti Anda sudah mencatatkan nama dalam peradaban. Itulah hakikat menulis sesungguhnya,” pungkasnya.
Di panggung utama sekitar 350 peserta dari berbagai kalangan tampak memadati tempat duduk lesehan sambil mendengarkan sharing session berjudul “Pendidikan Alternatif dan Pelatihan Guru” oleh Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba. Dipandu oleh dua sekawan MC kondang, Citra dan Bima, peserta sangat menikmati segala pengalaman yang dipaparkan narasumber.
“Saya tidak akan pernah jenuh untuk mendidik anak-anak di Sokola Rimba, dan saya yakin banyak orang dengan misi yang sama seperti saya untuk selalu berbagi dan berbuat baik. Tapi saya ingin meluruskan bahwa mari kita berbuat baik tanpa kacamata kota. Membuat bahagia seseorang tidak harus menjadi Jakarta atau New York. Hindari pandangan feodal yang bersifat kolonial. Melihat si A butuh sepatu, kita berikan sepatu padahal sepatu itu melemahkan mereka. Jangan kelemahan dijadikan bahan bahagia tapi jadikan potensi menjadi senjata bahagia sesungguhnya,” kata Saur Marlina Manurung biasa disapa dengan Butet Manurung.
Peraih penghargaan “Man and Biospher” dari UNESCO dan LIPI 2001 serta menjadi salah satu pahlawan versi majalah TIME 2004, dalam rasa haru dan tetes air mata Butet berpesan kepada seluruh guru di Indonesia bahwa hanya ditangan gurulah anak-anak bisa menjadi diri sendiri.
Di sesi akhir “Seminar Literasi Digital dan Cara Menanggulangi Hoax” oleh Maman Suherman, yang merupakan seorang penulis dan pegiat literasi, turut mengajak seluruh peserta yang hadir untuk bijak dan peka terhadap berita-berita yang bermunculan. Kuasai literasi menjadi kunci jitu untuk menanggulangi hoax.
Karnaval Literasi
Puncak acara ini adalah kegiatan karnaval literasi yang dimeriahkan oleh jejeran perahu dan kapal belajar di atas perairan Danau Toba. Berbagai cara menarik dilakukan untuk mengampanyekan budaya literasi, seperti memakai baju adat Batak, menyertakan replika sampan, dan membawa poster-poster literasi. Titik start dan finish karnaval ini dimulai dari Lopo Hotel International di Tomok.
Selanjutnya, kontingen kapal dan perahu bertemu dengan rombongan pejalan kaki di Bukit Beta. Seremoni membaca bersama secara serempak dilaksanakan seluruh kontingen dan dipimpin langsung oleh Bupati Samosir dan Direktur Gramedia. Sepanjang karnaval banyak masyarakat yang ikut meramaikan dengan menyanyikan lagu-lagu daerah khas Batak juga lagu nasional lainnya.


