Gegap Gempita Festival Literasi Nusantara Danau Toba 2019

Bangkitkan Literasi Indonesia

Dibuka dengan penampilan tarian khas Batak yang dibawakan oleh kelompok tarian dari salah satu sopo belajar Alusi Tao Toba menjadi sorotan utama pembukaan acara tersebut. Tidak seperti kegiatan pada umumnya, tim Kover Magazine yang juga turut hadir dalam acara tersebut menyaksikan keunikan tersendiri.

Jika pada umumnya, acara pembukaan didekorasi dengan panggung yang besar dengan jejeran kursi-kursi VIP untuk tamu istimewa, sayangnya hal ini tidak berlaku. Bermodalkan terpal jemuran padi yang dijadikan areal duduk seluruh undangan dan masyarakat tanpa ada batasan zona VIP dan umum.

Azas Rifai selaku ketua panitia Festival Literasi Nusantara Danau Toba 2019 mengatakan bahwa kegiatan hasil kerja sama dengan pemerintahan Provinsi Sumatra Utara dan Kabupaten Samosir, juga dengan Alusi Tao Toba ini telah menarik antusias masyarakat, terbukti dengan banyaknya peserta festival yang melebihi target, berkat dukungan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Samosir dan Dinas Pendidikan Kabupaten Samosir yang sudah mensosialisasikan ke berbagai sekolah.

“Dalam perjalanan 55 tahun eksistensi Kompas Gramedia adalah menghidupkan literasi di Indonesia dan inti dari kegiatan ini sebagai penyampai dan penyebarluasan pengetahuan informasi ilmu, untuk itu kami membawa festival ini ke berbagai kota di Indonesia. Literasi, pengetahuan, ilmu, skill adalah wujud kesuksesan suatu bangsa, orang yang terpapar dengan pengetahuan yang baik dan mampu menjadi manusia yang lebih berdaya adalah harapan untuk kegiatan ini,” kata Suwandi S. Brata selaku Publishing & Education Director, PT Gramedia Asri Media.

Pada kesempatan yang sama, Kabid Pembinaan Sumber Daya Masyarakat Dinas Perpustakaan dan Arsip Sumatra Utara, Erick Pakpahan dalam sambutannya berharap kegiatan ini menjadi api obor untuk terus bermuara cerdas literasi di Sumatra Utara yang pada akhirnya akan dikenal dengan masyarakat yang literat dan bermartabat. Harapan ini juga disambut baik oleh Lastuana Simbolon, selaku Kadis Perpustakaan dan Arsip Kab. Samosir.

Alusi Tao Toba, 10 Tahun Membangun Literasi

Pondok baca Alusi Tao Toba sebagai pemenang Gramedia Reading Community Competition (GRCC) 2016 merupakan bagian terpenting dalam serangkaian kegiatan Festival Literasi Nusantara Danau Toba 2019. Beranjak di usia 10 tahun, Alusi Tao Toba sudah membentuk delapan pondok sopo belajar yang tersebar di Kabupaten Samosir.

“Ini adalah bentuk ruang pada masyarakat dan anak bergembira dari berbagai daerah Kabupaten Samosir. Usungan budaya Batak yang sangat kental merupakan bagian untuk menggali keberagaman budaya yang sudah ada di tanah Batak. Ini merupakan kegiatan pertama di Danau Toba dan saya berharap bisa menjadi kegiatan tahunan. Setiap tahunnya, kami rutin melakukan kegiatan seperti ini. Tahun lalu di kegiatan serupa, Alusi Tao Toba juga menyelenggarakan Pasada Toba (Pesta Anak Danau Toba) dengan konteks ‘Sayang Danau Toba’,” kata Togu Simorangkir, penggagas Alusi Tao Toba.

Baca Juga:  Pesona Batik Menghiasi Grand Mercure Medan Angkasa dalam Perayaan Hari Batik Nasional

Gala Dinner bersama Bupati Kabupaten Samosir

Para pegiat literasi berkesempatan menikmati gala dinner dengan menu khas Sambal Andaliman dan Ikan Mas Arsik yang lezat. Semilir angin malam menambah hikmatnya diskusi bersama Drs. Rapidin Simbolon, M. M. selaku Bupati Samosir terkait perkembangan literasi khususnya di Kabupaten Samosir.

“Saya minta maaf karena tidak sempat hadir di pembukaan acara, namun serangkaian kegiatan ini sangat bagus, dan saya sangat mengapresiasi kegiatan positif, harapannya kegiatan ini menjadi agenda tahunan dan Sumatra Utara khususnya Kabupaten Samosir dan semangat masyarakat untuk membaca bisa lebih berkembang baik lagi,” ungkapnya.

Kompetisi Edukatif dan Berbudaya

Berbagai kompetisi edukatif seperti mewarnai, resensi buku, bercerita bahasa batak, menulis aksara batak, menulis esai, dan permainan tradisional menjadi bagian dari kegiatan selama rangkaian acara. Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh penampilan tarian dan nyanyian dari komunitas taman baca. Tak hanya siswa bahkan ada beberapa guru dan mahasiswa yang mengikuti festival ini.

“Festival ini sangat bagus, saya tidak menyangka lawan saya harus anak SD untuk lomba menulis aksara batak. Dan semoga ini bisa menjadi regenerasi untuk meneruskan budaya ke anak,” kata salah seorang peserta.

Pada perlombaan permainan tradisional bakiak dan galah, sportivitas dan keceriaan bersatu padu. “Kami sangat senang walaupun kami kalah tapi ikut lomba ini sudah senang sekali,” kata siswa SD Negeri 7 Garogo, Kabupaten Samosir.

Tokoh Pembicara Inspiratif

Beragam pelatihan dari penulis serta tokoh kompeten di bidangnya hadir mewarnai kegiatan tersebut. Diawali dengan workshop pembuatan ulos bersama Dorlan Silitonga, sosok ternama pembuat ulos di tanah Samosir.

“Sejak tahun 80-an, menenun ulos sudah ‘mendarah daging’. Hingga saat ini saya tetap terus menenun ulos, variasi motif terus saya pikirkan tanpa melihat referensi manapun, dan saya berharap ulos akan terus berlanjut, untuk itulah saya memberikan pendidikan dan regenerasi kepada mereka yang mau belajar menenun ulos yang juga akan mengangkat taraf kehidupan kami di sini,” tambahnya.