Sang Pelukis Jalanan, Angga Maeswara (Onggo) Warnai Kota Lewat Karya

Selama menggeluti dunia gambar, kendala terbesar muncul dari pihak Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) dan preman setempat yang sering melakukan tindak pemungutan liar. “Tiga tahun menggambar di jalanan paling enggak enaknya pas ketemu preman. Kalau enggak cocok ‘damainya’ senilai satu slop rokok, ya sudah pasti enggak jalan gambarnya. Malah lebih aman jumpa polisi, mereka lebih mengayomi,” kata pria yang tergabung dalam MedanArt Familia ini.

Street Art Tak Melulu Merusak

Tidak ada yang salah jika kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa seni jalanan itu merusak bangunan dan keindahan alam. Aksi tersebut biasanya disebut vandalisme dan dilakukan tanpa sepengetahuan pemilik atau pihak berwenang berupa coret-coretan dan gambar yang tidak berkonsep. Namun tidak semua seni yang ada di jalanan tergolong vandalisme.

Graffiti merupakan seni jalanan yang memiliki makna dengan komposisi warna, garis, bentuk dan volume yang terkonsep sehingga menghasilkan tulisan dan gambar yang indah. Tak jarang orang yang melintasi daerah dengan hiasan graffiti akan mengabadikan momen dengan berswafoto ria. Ini menandakan graffiti lebih diterima masyarakat.

Hal ini pula yang ingin disampaikan Onggo. Lewat karya-karyanya, ia ingin mengedukasi masyarakat bahwa tidak semua seni jalanan itu bersifat merusak. Ia dan teman-temannya juga kerap menghasilkan street art yang baik, bukan asal jadi.

Hobi yang Menghasilkan

Skill yang dimiliki Onggo pada bidang seni membawanya melanglang buana ke berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta dan Aceh. Banyak tawaran yang menghampiri Onggo bahkan dengan bayaran yang memadai. Hal tersebut tentu mengubah pandangan banyak orang tentang hobi yang dianggap mahal ini.

“Ada perusahaan material bangunan yang pernah ajak kerja sama buat branding pakai iklan di bangunan bertingkat. Ada juga kafe di Lippo Plaza Medan yang pernah aku gambar dindingnya,” ungkap pria kelahiran Medan, 18 Maret 1993 ini.

 

Onggo juga pernah diundang sebagai perwakilan kota Medan ke event Street Dealin di Jakarta yang diselenggarakan oleh Gardu House. “Mereka bikin event-nya di Kebayoran Lama, jadi perkampungan itu digambar, banyak gang banyak anak-anak, senang bisa ngerasain atmosfer itu. Event ini kiblatnya anak gambar, semua pelaku gambar pasti pengin ke sana. Satu gedung itu ada graffiti, musik, fashion, dan live painting. Euforianya benar-benar wah,” paparnya.

Menciptakan suatu karya bergambar secara komersil ternyata diapresiasi cukup baik, yakni sekitar Rp500.000,00 untuk satu meter medium dinding atau tembok. Waktu pengerjaan biasanya dalam 2 sampai 5 hari tergantung gambar permintaan klien. Namun menurut Onggo semua materi yang ia peroleh dari hasil keringatnya masih belum bisa disebut pencapaian.

“Membuat sesuatu lebih yang orang lain belum bikin itu baru namanya pencapaian, saat ini aku masih belum puas,” tutur ayah satu anak ini. Ditanya mengenai pengalaman yang paling berkesan selama menekuni dunia gambar, Onggo menjawab yaitu ketika ikut serta berkolaborasi untuk kampanye salah satu merek wiski internasional.

“Mereka kampanye bendera enggak melalui iklan tapi bikin kaleng baru dan ajak anak gambar mewarnai patung Johnnie Walker. Jadi aku diajak shooting dari pagi ke pagi kayak selebriti. Gini rupanya jadi artis, muka agak kusam harus touch up dulu, drama sih jatuhnya tapi aku coba enjoy, kesannya jadi norak ya,” pungkas Onggo seraya tertawa.