Sang Pelukis Jalanan, Angga Maeswara (Onggo) Warnai Kota Lewat Karya

183

Penulis: Indriyana Octavia
Fotografer: Vicky Siregar

Kepiawaiannya pada dunia gambar bukanlah karena hobi apalagi bakat. Belajar dan berproses adalah tahapan mutlak. Kini ia membuktikan bahwa karya bisa menghidupi hidup.

Angga Maeswara atau yang dikenal dengan panggilan Onggo mencoba graffiti pada tahun 2009. Setamat dari SMA ia mulai mendalami graffiti dengan menggambar tulisan-tulisan di dinding rumah kosong dan bangunan tua. Alat yang ia gunakan tergolong cukup mahal yakni cat semprot dengan harga sekitar 25 ribu per kaleng. Untuk merampungkan satu desain graffiti pada sebuah dinding.membutuhkan tujuh hingga delapan kaleng cat semprot.

“Gaya-gayaan saja awalnya, enggak yakin nih bakal bertahan di jalanan, graffiti itu mahal, hobi mahal enggak bisa menang,” ujarnya. Namun Onggo tetap menikmati proses menggambar dengan cat semprot tersebut. Karya pertamanya berupa letter (bacaan) di dinding dekat rumah tempat tinggalnya. Ia bahkan menjual sepeda kesayangannya untuk modal membeli cat semprot.

Onggo pada dasarnya tidak bisa menggambar, ia belajar secara autodidak. Berkat ketekunannya, ia pun mulai mahir membuat graffiti. Kebosanan melanda, Onggo sempat beralih ke pekerjaan kantoran. Tak bertahan lama, ia kembali ke dunia gambar dan mengeksplor berbagai jenis graffiti.

“Pertama di lettering lalu timbul titik jenuh pengin eksplor, coba main ke karakter binatang. Sekarang fokusnya ke karakter, lettering sekali-sekali tetap dieksplor,” ucapnya. Bagi Onggo proses adalah hal mutlak yang harus dijalani, dihargai dan dinikmati, sisanya bonus, termasuk materi dan penghargaan.

Kini graffiti tak hanya ditemukan pada jalanan dan tembok bangunan, namun juga sudah merambah custom painting pada jaket, sepatu, vespa bahkan mobil. Berbeda dengan mural yang menggunakan cat tembok, graffiti menggunakan cat semprot. Keduanya masih termasuk street art yang semakin hari semakin diminati masyarakat modern.