Riwayat Rumah Adat Karo ‘Rumah Belang Ayo’ yang Penuh Mistis

247

Penulis          : Frengki Hermanto Marbun
Fotografer     : Vicky Siregar

Kabupaten Karo adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang memiliki berbagai destinasi wisata. Hampir setiap minggu, kabupaten yang penduduknya mayoritas bersuku Karo ini, selalu ramai dikunjungi oleh turis lokal dan mancanegara. Selain tempat wisata, Kabupaten ini juga memiliki banyak sejarah yang sangat menarik untuk diulas. Kali ini redaksi Kover Magazine membahas rumah adat yang berada di Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo.

Para penduduk di Desa Lingga masih melestarikan dan menjaga rumah adat yang bernama Rumah Belang Ayo. Rumah adat suku karo ini memiliki ornamen khas karo yang berisi delapan keluarga di dalam satu rumah. Menurut keterangan Panen Manik, selaku pemandu wisata setempat mengatakan bahwa rumah adat tersebut selain sebagai tempat tinggal juga digunakan untuk perlindungan warga.

Keunikan Bangunan

“Rumah adat ini memang sangat unik karena memiliki panjang lima belas meter dan lebar delapan meter tanpa menggunakan paku dan berdiri di atas batu besar tanpa ditanam. Memang kalau dijelaskan secara konsep manusia saat ini, mungkin tak akan percaya. Namun itulah keunikan bangunan zaman dahulu, memang kalau dipikir secara logika, rumah tanpa menggunakan paku, dan hanya berdiri di atas batu tanpa ditanam, tak akan masuk akal. Sekarang kita bisa lihat sendiri, sampai saat ini rumah masih tetap kokoh,” ucapnya lagi.

Rumah Belang Ayo mempunyai pelindung atau penjaga yaitu dua buah tanduk kepala kerbau yang berada di atas rumah. Tanduk tersebut berfungsi sebagai penjaga bala, pelindung rumah dari roh jahat, dan orang yang berkeinginan jahat. Menurut penduduk setempat, tanduk kepala kerbau sangat sakral dalam rumah adat Karo karena dianggap sebagai pelindung bagi penghuni rumah. Rumah yang diperkirakan sudah berumur 150 tahun lebih ini,  memiliki ornamen cicak yang menyimbolkan perlindungan dan membawa keberuntungan. Ada juga ornamen tapak raja Sulaiman yang memiliki fungsi sebagai penolak bala serta gerga sebagai lambang kehidupan.

 Adab Memasuki Rumah

“Dahulunya rumah adat ini ditempati delapan keluarga. Kedelapan keluarga tersebut, memiliki kamar masing-masing. Di rumah ini penghuni rumah memasak dengan kayu bakar. Kalau kita melihat bentuk rumahnya, mirip seperti orang menyembah yang memiliki tiga fungsi yaitu menyembah kepada Tuhan tanah, Tuhan tengah, dan Tuhan atas,” ucap Panen.

Saat memasuki rumah, penghuni rumah atau tamu harus melihat ke bawah ketika menaiki tangga rumah (Tuhan tanah), setelah menaiki tangga penghuni rumah atau tamu memasuki pintu rumah dengan posisi tunduk dengan maksud menghargai penghuni rumah (Tuhan tengah) dan yang terakhir, ketika melewati pintu penghuni rumah atau tamu juga harus memegang bambu yang ada di atas pintu yang melambangkan bahwa si penghuni rumah atau tamu sudah masuk ke dalam rumah (Tuhan atas).

“Saat ini memang aturan masuk rumah adat tak serumit dahulu yaitu sebelum memasuki rumah harus menghormati penghuni rumah dengan menyembah rumah raja. Kemudian setelah sampai di pintu rumah raja, para tamu harus tunduk kepada raja dan tidak boleh berdiri tegak. Masih banyak lagi aturan sopan santun saat memasuki rumah raja. Namun saat ini memang tak semua bisa diterapkan terutama dengan menyembah rumah raja. Kini, rumah adat menerapkan aturan sederhana saja, yaitu harus sopan saat memasuki rumah adat. Karena ketika Anda memasuki rumah adat tanpa mengikuti aturan, Anda akan menerima bahaya,” ucap Panen.

Sisi Mistis Belang Ayo

“Kekuatan rumah adat ada pada penghuninya. Jika rumah adat tersebut tidak berpenghuni, maka secara perlahan, rumah tersebut akan roboh. Namun, ketika rumah masih berpenghuni, dijamin rumah itu akan kukuh. Sebenarnya, rumah adat itu kokoh karena adanya asap dari kayu bakar yang digunakan untuk memasak. Asap tersebut berfungsi untuk menguatkan kayu dan mengukuhkan kayu bagian atas rumah. Jadi, itulah yang menyebabkan rumah adat ini masih tetap kukuh. Saat ini, rumah adat hanya tersisa dua unit saja karena 26 rumah sebelumnya telah roboh lantaran tidak ada yang menempati. Selain itu, tak bisa dipungkiri peninggalan rumah adat zaman dahulu selalu ada yang berbau mistis,” kata Panen.

Sakius Sinulingga, penghuni rumah adat Belang Ayo selama 40 tahun, menceritakan kesakralan rumah adat tersebut. Peristiwa mistis yang terjadi pada saat rumah adat tersebut ingin dibakar, namun niat tersebut gagal karena dibantu oleh penjaga gaib rumah tersebut. Itulah sebabnya menurut Sakius rumah adat Belang Ayo harus dijaga karena memiliki sejarah yang panjang.

Rumah adat ini awalnya digunakan sebagai tempat kediaman raja, seiring dengan perkembangan zaman kini ditempati oleh penduduk sekitar. Menurut Panen, walaupun rumah adat tersebut tidak lagi dihuni oleh raja, penghuni rumah masih sangat menjaga budaya dari zaman dahulu yaitu dengan mematuhi aturan yang diterapkan pada masa raja.