Tahun 2009, saat media sosial belum marak, majalah masih sangat digandrungi oleh anak muda. Tak ayal, muda-mudi masih memprioritaskan referensi gaya hidup dari sebuah majalah, tak terkecuali majalah Kover.
Dengan harga edar Rp15.000,00- dan 74 halaman, edisi pertama Kover Magazine hanya memiliki dua rubrik, yakni Feature dan Live Report. Dalam rubrik Feature, terdapat pembahasan article issue yang terdiri dari 18 halaman, sedangkan rubrik Live Report memiliki 56 halaman.
Pada tahun yang sama, Kover Magazine sempat membahas seorang fotografer terkenal kota Medan yaitu Chalid Nasution. Sosok tersebut menghiasi edisi September 2009, mengupas tentang prestasinya dengan menjuarai festival foto di Asian Go dan Asian without Border 2008.
Selain rubrik, transformasi ukuran majalah Kover terus berkembang. Pada edisi pertama, majalah ini memiliki ukuran panjang 25 x 16 cm, yang kemudian bertambah pada edisi September 2009 hingga 2010 menjadi 26 x 19 cm. Perubahan ukuran tersebut dilakukan demi kepuasan para pembaca majalah Kover.
Tingginya minta pembaca majalah Kover pada tahun 2012 menyebabkan harga edar majalah Kover berubah dari Rp15.000,00- menjadi Rp25.000,00- seiring dengan penambahan rubrik yang semakin bervarian, pembahasan yang lebih menarik serta ukuran yang lebih besar.
Pada tahun 2012 hingga 2013, majalah Kover kembali mengalami perubahan menjadi 30 x 22 cm. Perubahan tersebut dilakukan untuk menghadirkan suasana baru dan menambah rubrik Advertorial, Unforgotten, Travel, Love and Sex, Healthside, Otomotif dan Community.
Uniknya pada 2012, Kover sempat membahas LGBT dengan front cover ‘Warna-warni LGBT’. Edisi tersebut khusus membahas bagaimana kehidupan LBGT seakan dikucilkan dari lingkungan sosial. Di tahun yang sama pula, untuk mengundang perhatian publik, Kover membuat gebrakan dengan mengadakan Kover Face yaitu festival para model lokal kota Medan.


