Tiorida Simanjuntak: Siaran Radio Harus Berani Ikut Perkembangan Zaman

239

Penulis: Imada Lubis
Fotografer: Vicky Siregar

Radio sudah ada di Indonesia sejak 16 Juni 1925 saat Indonesia masih bernama Nederland Hindia Belanda. Radio tersebut bernama Bataviase Radio Vereningin (BRV) dan hanya bersiaran di Batavia saja (Jakarta tempo dahulu). Setelahnya, barulah muncul stasiun radio yang lebih ketimuran di tiga kota yakni Jakarta, Bandung dan Medan bernama Nederlansch Indische Radio Omroeap Mij (Nirom).

Dari masa ke masa radio sudah mengalami perubahan dan menciptakan sejarah perkembangannya sendiri. Pemilik dan pimpinan Kardopa Group, Tiorida Simanjuntak membenarkan hal tersebut. Tiorida mengatakan jika semua radio harus berani mengikuti perkembangan zaman jika ingin terus bertahan.

Beradaptasi Lintas Generasi

Baca Juga:  Thank You Prof. Sarah Gilbert, pahlawan wanita di balik vaksin Astra Zeneca!

Radio Kardopa didirikannya 40 tahun silam, melewati orde baru dari masyarakat masih mengidolakan Rinto Harahap hingga kini memasuki era digital yang mana anak muda tak hanya mengidolakan artis barat seperti Katy Perry saja namun semakin tergila-gila pada budaya Pop Korea (K-Pop).

Saat beroperasional pertama kali tepatnya pada tahun 1967, Radio Kardopa mengudara lewat gelombang Amplitude Modulation (AM). Lalu bermigrasi ke Frekuensi Modulation (FM) pada frekuensi 99,5 FM. Masyarakat bisa mendengarkan celotehan para penyiar maupun lagu-lagu pilihan selama 24 jam dari frekuensi ini. Hingga kini memasuki era internet digital, radio bisa didengarkan secara streaming dimana dan kapan saja.