SUMATERA DI MATA HISHAMUDDIN MUSTAFA

Berbincang mengenai Siti Nurhalizah yang diberi gelar kebesaran Datuk Sri pada tahun 2017 atas prestasi-prestasinya di dalam dan luar negeri, Pak Hisham menjelaskan bahwa gelar-gelar serupa diberikan Negara kepada orang Malaysia yang memiliki prestasi-prestasi tertentu. Pak Hisham sendiri diberi gelar ANS, singkatan dari Ahli Setia Negeri Sembilan, atas prestasinya selama menjabat sebagai kepala dinas pariwisata di Negeri Sembilan, Malaysia. “ Salah satu karyanya adalah, membuat program “Discover Malaysia by Cycle Tour” yang pada akhirnya ia tuangkan dalam tiga buah buku. “Saya sudah keliling Malaysia dengan sepeda,” katanya, bahkan walau ia tidak bisa menggalakkan program yang sama atas nama pariwisata kota Medan, Pak Hisham telah mengadakan acara Jelajah Medan Dua Negara dengan Sepeda. Memang era pandemi ini, bersepeda adalah salah satu dari sedikit bentuk kegiatan pariwisata sekaligus olahraga yang dapat dilakukan.

KEINDAHAN TERSEMBUNYI DI SUMATERA

Dengan daerah teritori mencakup Pulau Sumatera, dari Aceh sampai Lampung termasuk Kepulauan Riau, Pak Hisham kerap mengunjungi daerah-daerah wisata lokal sembari melakukan tugas-tugasnya. “Working holiday” adalah istilah yang tepat. Selain Danau Toba yang sudah terkenal, dan pulau Sabang yang juga sudah terekspos, menurut pak HIsham Danau Laut Tawar di Takengon Aceh menyimpan potensi yang cukup besar. Keindahannya setara Danau Toba, bahkan suasananya jauh lebih sejuk daripada Parapat dan Samosir. Sumatera Utara khususnya, kaya dengan natural resources. Tidak jauh dari Medan masih banyak sungai dan sawah yang bisa dieksplorasi dan dikembangkan sebagai tempat wisata yang alami. 

 

Keindahan Sabang, Aceh

Program “Sadar Wisata” yang sudah bertahun-tahun menjadi program Kementerian Pariwisata di Indonesia, rasanya hanya sekedar judul di dalam berkas-berkas institusi pemerintah, namun tidak ditanamkan ke dalam kehidupan masyarakat. Menjaga kebersihan tempat-tempat umum adalah mutlak. Kesadaran ini memang harus ditanamkan sedari anak-anak. Di negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, kebersihan jalan-jalan raya sampai lokasi-lokasi wisata dan hiburan, terlihat bersih, bukan hanya karna implementasi peraturan-peraturan yang ada, tapi karena kesadaran masyarakat itu sendiri.

“Sudah pernah ke Sabang? Sabang sepertinya kayak Bali 30 tahun yang dulu, tau? Not talking about Bali nowadays..” katanya. Penduduk yang masih berprofesi sebagai nelayan, dan kopi Aceh yang sangat enak menjadi bonus tambahan. Tampaknya beliau sangat terkesan dengan Pulau Sabang. “Kalau dikembangkan lagi, tempat ini pasti bisa menarik pelancong dari Eropa dan Arab”, lanjutnya lagi.