SKIN TREATMENT: BUKAN SUPERFISIAL MAUPUN ARTIFISIAL

How your skin will look in your old age depends on the way you care for it in your 20s or 30s. Looking good feels good, dr. Margareth Aritonang, M.Kes

“Perempuan itu gak bisa dibilang sedikit saja  ‘loh, kok ada jerawat?’ pasti langsung stress”, jelas dr Margareth. Stress itu akan mengaktifkan banyak hormon-hormon, efeknya antara lain mood yang berubah. Belum lagi, seseorang itu akan memencet jerawat atau mengobati sendiri sehingga bisa berujung ke infeksi yang lebih buruk atau iritasi obat yang tidak cocok ke kulit. Ini yang dimaksud dengan menurunkan kualitas hidup seseorang, seperti yang dikutip dari penjelasan dr.Margareth. 

 

Estetika adalah kebutuhan semua orang, tidak terpaut usia dan jenis kelamin. Dr. Margareth mengklaim bahwa banyak yang belakangan ini datang ke tempat prakteknya, baik di jalan H.M. Joni maupun jalan D.I. Panjaitan, Medan, adalah remaja belia. Kemungkinannya, pandemi ini memaksa anak-anak remaja yang memang sedang di masa puber dan perubahan hormonal, untuk stay at home, sehingga radiasi handphone menjadi merusak kulit, dan lifestyle tidak sehat seperti tidak terkena matahari pagi dan malas mandi memperburuk kesehatan kulit. 

 

Paradigma bahwa hanya wanita yang perlu merawat kesehatan dan kecantikan wajah sudah bergeser. Dr. Margareth mengatakan bahwa pasien-pasien prianya sering datang ke klinik untuk menghilangkan flek hitam atau prosedur cauter untuk menghilangkan milia. Era ini, dimana persaingan kompetensi kerja antara pria dan wanita sudah semakin seimbang, kaum pria merasa semakin perlu membenahi penampilan dan kepercayaan dirinya. Hati-hati, ini bukan berarti Anda, tanpa terukur, memfokuskan waktu, finansial dan meletakkan kepercayaan diri Anda hanya kepada penampilan, itu baru superfisial.


Skin treatment juga tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang artifisial. Dr Margareth sendiri menyatakan dia memilih-milih prosedur yang akan dia terapkan ke pasien. “Sebagai seorang Nasrani, saya memiliki kepercayaan bahwa tubuh itu adalah baitnya Tuhan. Harus kita jaga, bukan kita rubah-rubah.”

Selama prosedur itu bertujuan terutama untuk perawatan yang menonjolkan kecantikan alami, tidak membahayakan pasien, dan tidak menjadikan suatu perubahan permanen, dr. Margareth yang biasa dipanggil Ageth bersedia untuk lakukan. “Kadang pasien datang untuk meminta filler hidung, itu saya tolak, dan saya referensikan ke dokter lain”, sambungnya.