Komunitas Pujakesuma Medan, ‘Mempertahankan Tradisi Seni dan Budaya’

288

Penulis : Ade Syaputra
Foto: Dok. Pribadi

Medan memang masih identik dengan suku Melayu dan Batak. Namun sejarah kota Medan telah membuktikan bahwa peranan daerah ini sebagai pusat perkebunan dan perdagangan di masa lampau menjadikan daerah ini sebagai sentra lalu-lintas masyarakat dari berbagai daerah, melahirkan masyarakat Medan yang majemuk dengan berbagai suku dan budaya pendatang seperti Minangkabau, Jawa, Hokkien dan Madras.

Paguyuban Putra Jawa Kelahiran Sumatera atau biasa disebut dengan Pujakesuma adalah satu dari sekian banyak keutuhan budaya kota Medan yang ikut membangun dan mengembangkan kota Medan.

Dilihat dari sejarah ternyata kehadiran suku Jawa dimulai saat  pasca-kemerdekaan tepatnya tahun 1963. Jacob Nienhuys adalah orang Belanda pertama yang menjadi pengusaha perkebunan tembakau di Hindia Belanda dan pionir budidaya tembakau di pantai timur Sumatera dan Sumatera Utara. Dari sanalah masyarakat suku Jawa datang ke pulau Sumatera untuk dijadikan kuli kontrak karena suku Jawa yang cukup gampang untuk dimobilisasi sebagai kuli di era tersebut.

Awalnya Paguyuban Pujakesuma dibentuk dengan tujuan menjadi generasi penerus suku Jawa guna mempertahankan tradisi seni dan budaya dari pendahulu, menciptakan generasi yang tak lupa sejarah, sebagai alat pemersatu tali silaturahmi ke sesama suku Jawa dan untuk meneguhkan eksistensi suku Jawa di Sumatera hingga muncul intelektual dan birokrat suku Jawa yang menduduki posisi di pemerintahan.