Intip Duo Muda Dibalik Kesuksesan Startup Ruangguru

Sebelum di Ruangguru, ia bekerja sebagai konsultan di McKinsey & Company, di mana ia secara konsisten menempati peringkat di antara para pemain “Distinctive” tertinggi dan memenangkan Client First Award 2012 yang diberikan kepada “seseorang yang telah membuat perbedaan material bagi klien, dari waktu ke waktu” termuda dari tiga penerima dari semua konsultan non-Mitra di Asia Tenggara. Di McKinsey, ia berfokus pada transformasi sistem pendidikan dan proyek strategi kesehatan masyarakat, bekerja dengan pemerintah Asia Tenggara, LSM internasional, dan komunitas donor global.

Sebelum McKinsey, ia bekerja sebentar untuk Kantor Kepresidenan (President Delivery Unit/UKP4) di Indonesia dan Goldman Sachs di Singapura. Belva menerima gelar ganda, MPA dari Universitas Harvard dan MBA dari Universitas Stanford, keduanya dengan beasiswa penuh berdasarkan prestasi. Juga dengan beasiswa, ia memperoleh gelar sarjana Bisnis dan Ilmu Komputer di Nanyang Technological University Singapore, di mana ia memenangkan tiga medali emas karena melampaui kedua kohortnya secara akademis selama empat tahun di universitas.

Setelah lulus dari program gelar ganda di Amerika Serikat, pada tahun 2016, ia memutuskan untuk fokus dalam perbaikan pendidikan di Indonesia, dan kembali ke tanah air menjabat sebagai posisi Direktur Utama di Ruangguru. Di bawah kepemimpinan Belva, hanya dalam setahun, Ruangguru berkembang pesat lima kali lipat dan menjadi perusahaan teknologi pendidikan terbesar di Indonesia, menjangkau lebih dari 10 juta siswa dan 150.000 guru.

“Kami percaya bahwa teknologi adalah kunci untuk melampaui pencapaian pendidikan nasional selama ini dan memastikan bahwa semua anak, tidak peduli domisili dan status ekonominya, memiliki akses yang sama terhadap konten pendidikan berkualitas tinggi. Kami sangat bangga dengan pencapaian tim Ruangguru, dan terus bersemangat bahwa kami mungkin akan menjadi katalisator utama dalam transformasi pendidikan di negara ini dengan teknologi.”

Muhammad Iman Usman

Sosok berprestasi ini seorang pengusaha muda, pembicara publik, dan penggiat sosial. Iman lahir di kota Padang pada 21 Desember 1991. Terlahir sebagai anak bungsu dari 6 bersaudara tidak membuatnya menjadi anak yang manja. Bahkan sejak kecil Iman telah menunjukkan kemandirian, kepemimpinan, dan prestasi di bidang akademik maupun non akademik. Di usianya yang masih 10 tahun, Iman sudah mendirikan sebuah perpustakaan kecil di depan rumahnya dan mengajar pelajaran sekolah bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.

Alasannya karena ia melihat banyak anak-anak yang kurang beruntung dalam mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas. Banyak yang mengira hidup Iman tanpa masalah. Padahal Iman sama seperti manusia lainnya yang kerap kali mendapatkan rintangan dalam fase kehidupan. Tahun 2004 saat usianya masih 13 tahun, ia mencalonkan diri menjadi ketua osis. Namun saat hendak berpidato di muka umum, dirinya dilempari sampah oleh seseorang dan ditertawai oleh segerombolan anak yang menyaksikan pidatonya saat itu.

Rasa percaya diri Iman runtuh seketika akibat peristiwa itu. Tapi siapa sangka hingga saat ini ia telah bicara di ratusan tempat dan puluhan negara, bahkan pernah berpidato di panggung Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa.

Iman kecil telah memperlihatkan ketertarikannya terhadap dunia sosial, seperti kerelawanan dan pengembangan masyarakat. Berkat kepeduliannya pada bidang literasi anak-anak, membuatnya dianugerahi banyak penghargaan bergengsi.

Mulai dari ketika SMA, Iman menerima penghargaan Pemimpin Muda Indonesia 2008, Mondialogo Junior Ambassador or Intercultural Dialogue, dan menjadi Siswa Berprestasi Utama Provinsi Sumatra Barat tahun 2008 berkat kegigihannya dalam memperoleh nilai Ujian Nasional dengan nilai tertinggi pada bidang IPS di Kota Padang.

Di dunia perkuliahan, Iman yang diterima di Universitas Indonesia (UI) dengan Program Studi Hubungan Internasional jauh sebelum dirinya dinyatakan lulus dari SMA, mau membatasi organisasi yang merupakan kegemarannya karena ingin lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude. Meski ia membatasi kegiatan organisasinya, ia tetap mengikuti organisasi yang berhubungan dengan program studi yang diambil. Bahkan ia juga mendirikan organisasi pemuda Indonesia Future Leader dan menjabat sebagai presiden.