Fakta-fakta Menarik Kue Keranjang yang Wajib Hadir saat Imlek

173

Siapa yang tak kenal dengan kue keranjang? Merupakan salah satu sajian khas Imlek yang paling populer. Dalam bahasa Mandarin, Kue Keranjang disebut dengan Nian Gao. Sementara di Indonesia sendiri, kue keranjang disebut dengan kue ranjang atau kue bakul. Makanan khas Imlek ini memiliki rasa manis yang legit, yang mirip seperti dodol. Karena itulah, kue ini disebut pula dengan sebutan dodol atau dodol China. 

Namun dibalik legitnya kue keranjang, siapa sangka jika makanan khas Imlek ini memiliki beberapa fakta yang cukup menarik. Ia juga memiliki makna khusus bagi masyarakat Tionghoa. Nah, apa saja itu? Kali ini tim kovermagz akan membahasnya untuk anda. Simak selengkapnya di sini! 

Memiliki nama lain Nian Gao

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kue keranjang dalam bahasa Mandarin diartikan sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian disebut Ti Kwe (甜棵). Arti kue keranjang adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket.

Kue keranjang adalah salah satu kue khas yang wajib ada dalam perayaan tahun baru Imlek. Kue keranjang mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek (廿四送尫 Ji Si Sang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, biasanya kue keranjang Imlek tidak dimakan sampai perayaan Cap Go Meh (malam ke-15 setelah tahun baru Imlek).

Sudah Ada Sejak 2.500 Tahun Lalu

Fakta kedua yang tak kalah mengejutkan ialah kue keranjang sudah ada sejak 2.500 tahun yang lalu. Lebih tepatnya, asal-usul hadirnya kue keranjang atau Nian Gao ini berawal dari sejarah perang di China yang sudah ada sejak 2.500 tahun yang lalu. Cerita itu menyebutkan bahwa asal usul Nian Gao ada sejak mangkatnya politikus sekaligus Jenderal perang dari Kerajaan Wu yaitu Wu Zixu.

Setelah Wu tewas, Raja Yue yang bernama Goujian menyerang Ibu kota Kerajaan Wu dan menyebabkan banyak tentara terjebak di dalam tembok besar kota tersebut. Para tentara yang kelaparan itu, tidak memiliki persiapan makanan dan banyak tentara kemudian tewas akibat kelaparan.

Para prajurit yang masih selamat kemudian mengingat perkataan mendiang Jenderal Wu bahwa jika para prajurit membutuhkan makanan, mereka harus menggali tepi tembok kota sedalam tiga kaki untuk bisa mendapatkan makanan. Lantas para prajurit yang tersisa melaksanakan ucapan yang pernah dikatakan oleh Raja Wu kala itu. Usut punya usut, fondasi dari tembok kota itu rupanya adalah balok yang terbuat dari nasi ketan, sehingga tembok dapat berdiri kokoh dan lengket ke tanah. Nasi ketan yang menjadi fondasi itulah yang kemudian menyelamatkan nyawa pada prajurit dari kelaparan.

Oleh karena itu, kue keranjang atau dalam bahasa China disebut sebagai Nian Gao, yang selama periode Tahun Baru Imlek dianggap dapat membawa keberuntungan dan berbagai hal-hal positif.

Alasan disebut Kue Keranjang

Di Indonesia sendiri, nián gāo lebih dikenal dengan sebutan kue keranjang. Mulanya penyebutan kue keranjang karena pada zaman dahulu, kue keranjang dibuat dengan dicetak pada keranjang-keranjang kecil berbahan dasar rotan. 

Sebagai Persembahan Dewa Dapur

Tahukah anda bahwa kehadiran kue ranjang saat Imlek adalah sebagai persembahan dewa dapur loh. Lebih tepatnya, menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, awalnya kue keranjang ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Tungku (竈君公 Cau Kun Kong. Tujuannya agar dewa membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga (玉皇上帝 Giok Hong Siang Te).

Selain itu, Kue Keranjang juga memiliki makna yang mendalam. Bentuk kue keranjang yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan tahun baru Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Tak hanya maknanya dari segi bentuk, makna rasa kue keranjang yang manis ketika disantap melambangkan harapan bagi yang menyantap kue tersebut akan selalu keluar tutur kata yang baik ketika mulut berucap.

Di negeri asalnya, terdapat kebiasaan untuk menyantap Kue Keranjang terlebih dahulu ketika tahun baru Imlek agar mendapatkan keberuntungan. Setelah menyantap Kue Keranjang Imlek, barulah mulai menyantap makanan lainnya seperti nasi dan makanan lainnya.

Melambangkan Kemakmuran

Kue keranjang memiliki warna kuning dan putih yang menjadi simbol dari kekayaan dan kemakmuran. Warna kuning melambangkan emas. Sementara warna putih melambangkan perak.

Dibuat dalam 12 Jam

Kue keranjang dibuat dengan bahan yang dikukus selama 12 jam. Sebelumnya, fermentasi tepung juga dilakukan selama 10 hingga 12 hari. Proses pembuatan yang lama ini menjadikan kue keranjang kenyal dan manis, menyatu dengan racikan bumbunya. Kesabaran dalam proses memasak kue keranjang memiliki filosofi bahwa kehidupan harus dijalani dengan penuh kegigihan, ketekunan, dan kesabaran. Proses yang lama ini pada akhirnya sebanding dengan kedaluwarsanya yang bisa mencapai berbulan-bulan kemudian.

Sebagai Hadiah

Tidak hanya dimakan sendiri, kue keranjang juga sering diberikan sebagai hadiah kepada keluarga, teman, dan tetangga selama perayaan Imlek. Beberapa orang bahkan menyimpan kue keranjang yang tidak dimakan untuk tahun-tahun mendatang sebagai simbol harapan untuk masa depan yang cerah.

Dapat diolah menjadi beragam menu masakan 

Tak hanya dapat dimakan langsung, ternyata kue keranjang juga dapat diolah kembali menjadi berbagai kreasi menu masakan. Mulai dari digoreng tepung, dibuat kolak, dijadikan bubur sumsum, dan masih banyak kreasi makanan lainnya. 

Nah, itulah sederet fakta mengenai kue keranjang yang menjadi makanan khas saat perayaan Imlek. Semoga artikel ini bermanfaat dan selamat merayakan hari Imlek. Gong Xi Fa Cai.


Warning: A non-numeric value encountered in /home/kovermag/public_html/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 353