Daeng Soetigna, Pencipta Angklung Yang Mendunia

88
Daeng Soetigna, Sosok Pencipta Angklung Yang Mendunia
Daeng Soetigna, Sosok Pencipta Angklung Yang Mendunia

Sobat kover, pernahkan anda mendengar tentang sosok Daeng Soetigna? Jika belum, maka inilah saatnya bagi anda untuk mengenalnya. Daeng Soetigna merupakan seseorang yang cukup berpengaruh besar pada alat musik angklung. Bisa kita bilang, perkembangan alat musik khas Jawa Barat itu mulai populer taatkala Daeng Soetigna menciptakan angklung, khususnya angklung diatonis-kromatis.

Selain itu, tepat pada 2010 lalu, UNESCO secara resmi juga telah menyatakan angklung sebagai warisan dunia tak benda asal Indonesia dan menetapkan hari Angklung sedunia setiap 16 November.

Jika anda ingin tahu lebih dalam tentang sosok Daeng Soetigna dan pengaruhnya di musik angklung, dalam artikel ini, Tim KoverMagz telah merangkumnya untuk anda.

Profil Daeng Soetigna

Daeng Soetigna adalah seorang anak yang lahir dari keluarga bangsawan sunda. Beliau lahir di Pameungpeuk, Garut, tepatnya di sebuah kota di Pantai Selatan Garut yang berhadapan dengan Samudra Hindia, pada hari Rabu tanggal 13 Mei 1908.

Daeng Soetigna mewarisi bakat mendidik dari ayahnya dan bakat seni dari ibunya. Ayahnya bemama Mas Kartaatmadja yang bekerja terakhir sebagai mantri guru di Pangandaran, Ciamis Selatan. Sementara, ibunya benama Nyi Raden Ratna Soerasti.

Melansir dari Buku ‘Daeng Soetigna, Bapak Angklung Indonesia’ yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah Nasional Jakarta, disebutkan bahwa Daeng Soetigna memiliki nama kecil Oetig.

Nama “Daeng” mempunyai riwayat tersendiri. Ayahnya mempunyai seorang sahabat dari Makassar yang bergelar Daeng. Daeng dari Makassar ini sangat pandai. Sehingga, membuat sang ayah ingin mempunya harapan jika kelak anaknya lahir, Ia akan menamainya Daeng. Hal ini bertujuan agar bisa menjadi seseorang yang pandai dan berguna. Oleh karena itulah, beliau bernama Daeng Soetigna.

Semasa hidupnya, Daeng Soetigna mendedikasikan dirinya sebagai guru. Namun ia lebih terkenal sebagai pencipta angklung. Beliau menciptakan angklung diatonis dan mempopulerkannya lewat berbagai karya. Dia berhasil mendobrak tradisi, membuat alat musik tradisional Indonesia yang mampu memainkan musik-musik Internasional dan aktif dalam pementasan orkes angklung di berbagai wilayah di Indonesia.

Baca Juga:  Ini 6 Investor Terkaya di Indonesia, Pemula harus tahu!

Tahun, 1930, Daeng Soetigna menikah dengan Ugih Supadmi. Namun hubungan pernikahan ini tidak bertahan lama. Mereka memutuskan untuk berpisah. Kendati begitu, dari hasil pernikahannya, Ia memiliki tiga orang anak yaitu Aam Amalia, Tedja Komala dan Emma.

Selang beberapa tahun, tepatnya tahun 1938, Daeng Soetigna menikah dengan Masjoeti. Dalam bahtera rumah tangga tersebut, Ia memiliki empat orang anak yakni Iwan Suwargana, Erna Ganarsih, Itin Gantinah, dan Utut Gartini.

Riwayat Pendidikan dan Perjalanan Karir

Karena berasal dari keluarga bangsawan sunda, Daeng Soetigna menempuh pendidikan di sekolah Belanda. Ia bersekolah di HIS Garut pada tahun 1915-1921. Kemudian, Ia melanjutkan sekolahnya ke Kweekschool atau yang lebih terkenal dengan sebutan HIK alias Hollandsche Kweekschool di Bandung pada tahun 1922.

Selepasnya dari HIK, pada tahun 1928, Daeng menjadi guru di Schakelschool Cianjur. Tak lama kemudian, tepatnya tahun 1931, Beliau pindah ke HIS Kuningan. Di Kuningan Daeng tinggal cukup lama dan menjadi kepala sekolah.

Pada 1948, Daeng pindah ke Bandung dan menjabat sebagai kepala sekolah SD dan di perbantukan di Jawatan Kebudayaan Provinsi Jabar. Kemudian, Tahun 1950, menjadi penilik sekolah dan di perbantukan pada kursus-kursus di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.

Di tahun 1955, Daeng mengikuti Teacher’s College di Australia. Dia bersama 16 orang rekan guru mendapat tugas belajar dalam rangka Colombo Plan ke Australia ( 1955- 1956). Tahun 1956, sepulang dari Australia, Daeng menjadi konsultan pengajaran seni suara di SGA 2 Bandung, SGA Kristen Jakarta, SGA 1 Jogjakarta, SGA Balige dan SGA Ambon.

Ia juga sempat menjabat sebagai Kepala Jawatan Kebudayaan Jawa Barat pada tahun 1957, Kepala Konservatori Karawitan, Bandung pada tahun 1960 hingga akhirnya Pada tahun 1964, Pak Daeng pensiun dari pengabdiannya sebagai pegawai negeri sipil.