Di tengah ambisinya mengejar beasiswa, beliau mendapati dirinya ingin mengambil jurusan Manajemen Administrasi Rumah Sakit. Didasari pemikiran untuk mengelola rumah sakit menjadi lebih baik serta latar belakangnya yang pernah berkecimpung di PKBI, beliau memantapkan diri memilih jurusan tersebut.
Pernah Menjadi Dokter Kecantikan
“Ya, awalnya saya ingin ambil spesialis namun setelah dipikir sebuah rumah sakit memerlukan seorang pemimpin yang basicnya harusnya seorang dokter. Kenapa seorang dokter? Karena misalnya dia seorang dari jurusan Ekonomi atau dari disiplin ilmu lain. Bila ada masalah tentu dia tidak paham,” jelasnya.
Perjalanan karirnya sendiri sebagai dokter kecantikan dimulai berkat keisengan. Sang istri, Dr. Fitri Ana Nasution diam-diam mendaftarkan suaminya untuk bekerja sebagai konsultan medis di Natasha Skin Care. Pada saat itu dokter Beni sedang menempuh kuliah S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit di Universitas Sumatera Utara. Masa inilah dokter Beni memutuskan untuk resign dari PKBI. Ia memilih berprofesi sebagai dokter kecantikan dan fokus menyelesaikan perkuliahan S2 nya.
“Saya sempat bekerja sebagai dokter kecantikan karena keisengan istri saya, diam-diam membuat lamaran tanpa sepengetahuan saya dan memasukkan CV saya di Natasha Skin Care yang saat itu sedang membutuhkan dokter. Saya masuk sebagai konsultan medis di Natasha Skin Care. Karena tidak ingin semrawut, saya memutuskan resign dari PKBI dan fokus menyelesaikan studi S2,” senyum dokter Beni.
Resign-nya dokter Beni dari PKBI tidak menghentikan dirinya untuk berhenti memperjuangkan kesehatan reproduksi dan hak-hak perempuan. Hingga hari ini dirinya masih menjadi relawan di PKBI dan diundang sebagai pembicara di setiap kesempatan.
Selama tiga tahun berkarir di Natasha Skin Care pilihannya sebagai dokter kecantikan dirasa bukan sebagai pilihan yang tepat bagi hidupnya. Dokter Beni memutuskan untuk keluar. Pada saat itu dirinya merasa bahwa ilmu kedokteran harus dipraktekkan lebih luas dari pada menjadi seorang dokter kecantikan.


