Sederet Fakta Menarik Kartini yang Jarang Diketahui

Setiap 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai bentuk dorongan atas emansipasi perempuan. Di masanya, Kartini hadir dengan semangat baru: kebebasan, kesetaraan, modernisasi, dan anti-feodalisme. Namun sayang, Kartini wafat di usia muda saat melahirkan putra pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat.

Perjuangannya terus dikenang hingga kini. Namanya bahkan dijadikan sebagai nama untuk sebuah jalan di beberapa kota Belanda. Di mata Indonesia dan dunia, Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan yang berani dan inspiratif.

Agar lebih kenal dengan sosok pejuang hak perempuan ini, kovermagz menyajikan sederet fakta menarik seputar Raden Ajeng Kartini. simak selengkapnya di bawah ini!

Sudah Terlihat Cerdas Sejak Kecil

Sejak kecil, Kartini sudah menunjukkan perkembangan yang luar biasa dibandingkan anak seusianya. Bahkan, di usia delapan bulan, ia sudah mampu berjalan sendiri, yang membuat keluarganya mengadakan upacara Tedak Sinten.

Selain itu, rasa ingin tahunya sangat tinggi dan membuatnya gemar membaca serta belajar. Ia dikenal sebagai anak yang cemerlang di sekolah dan menjadi panutan bagi adik-adiknya.

Kecerdasan ini menjadi fondasi penting dalam perjalanan hidupnya. Dari sinilah muncul pemikiran-pemikiran kritis yang kelak menginspirasi banyak perempuan.

Terlahir dari Lingkungan Bangsawan

Kartini lahir pada 21 April 1879 dari keluarga priyayi atau bangsawan Jawa. Ia merupakan anak dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Mas Ajeng Ngasirah. Ayahnya sendiri menjabat sebagai patih sebelum kemudian diangkat menjadi Bupati Jepara.

Dari garis keturunan ayah, Kartini masih memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro Adiningrat IV, menikah dengan Gusti Kanjeng Ratu Ayu, putri dari Sultan Hamengkubuwana VI. Bahkan, silsilah keluarga ini diyakini dapat ditelusuri hingga era Kerajaan Majapahit.

Kartini pencinta fotografi

Dalam Engineers of Happy Land (2002), Rudolf Mrázek menceritakan kecintaan Kartini pada dunia fotografi. Ketika mengunjungi desa-desa bersama ayahnya, Ia akan senang jika ayahnya atau salah satu tukangnya mengambil foto.

Kartini sangat ingin punya kamera sendiri. Dengan begitu, ia bisa bebas mengambil foto rakyatnya sendiri. Dengan foto-foto itu, berikut keterangannya, di mata Kartini, akan membuka mata orang Eropa untuk melihat rakyat pribumi.

Kartini sebagai ahli batik

Tak disangka, Kartini yang keturunan ningrat itu menyukai pekerjaan tangan, yaitu membatik. Kartini mulai membatik di usia 12 tahun. Dia belajar pada seorang pekerja tetap di kadipaten. Namanya Mbok Dullah.

Diceritakan, Kartini suka mengenakan sarung batik buatan sendiri. Tidak hanya itu, Kartini juga banyak melakukan riset dan menulis catatan mengenai seni batik itu sendiri. Hingga, sebuah karya tulisnya yang berjudul Handchrift Jepara memikat ibu suri kerajaan Belanda.

Dijuluki “Kuda Liar” karena Sangat Aktif

Siapa sangka Kartini kecil punya julukan yang cukup unik, yaitu “kuda liar” atau “kuda kore”. Julukan ini diberikan karena ia sangat aktif, sering melonjak-lonjak, dan sulit diam.

Ia juga pernah dipanggil “Trinil”, seperti burung kecil yang lincah dan cerewet. Dalam salah satu suratnya, Kartini bahkan menceritakan bahwa ia sering dimarahi karena tertawa terbahak-bahak, yang dianggap tidak sopan saat itu.

Namun, justru dari sifat aktif dan ekspresif inilah terlihat bahwa Kartini memiliki kepribadian yang kuat dan tidak mudah dibatasi oleh norma sosial.