Richard Stanley, Pebisnis Milenial Kembangkan Ekosistem Digital

39

Bagi Richard Stanley, bisnis adalah peluang untuk mencari uang juga merupakan ajang untuk memberi dukungan. Melalui K3 Mart, Richard berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dengan menyediakan ruang untuk para pelaku UMKM.

Sebelum menjadi seorang pebisnis di bidang retail pasar swalayan modern, Richard hanyalah seorang pengusaha kecil yang menyediakan jasa percetakan sablon baju. Semangatnya untuk terjun di dunia bisnis timbul sejak ia duduk di bangku SMA.

“Saya tak menyangka bisa menjadi pebisnis, karena dahulunya saya hanya coba-coba kemudian ketagihan sampai sekarang,” tutur pria keturunan Tionghoa yang masih berusia 30 tahun ini.

Melihat persaingan bisnis yang digelutinya sangat tinggi, ia pun selalu mencari ide dan peluang untuk membuat kreasi yang unik dan dapat diterima oleh masyarakat.

Penggagas K3 Mart

Banyak yang tak menyangka bahwa K3 Mart adalah perusahaan retail asal Medan. Supermarket ini menjual aneka makanan dan minuman impor serta menghadirkan produk-produk lokal lainnya. K3 Mart juga bisa menjadi tempat nongkrong anak muda bahkan sebagai basecamp komunitas tertentu.

K3 Mart berdiri sejak 2014 dan telah mengembangkan sayapnya hingga tujuh outlet yang tersebar di Jl. Sumatera, Jl. Multatuli, Jl. Ayahanda, Jl. Adam Malik, Jl. Setia Budi, Lippo Plaza Medan dan Medan Focal Point.

“Jika di luaran sana kompetitor sejenis K3 Mart itu sudah sangat banyak. Saya mencari gagasan baru dengan membangun K3 Mart dari sisi lain. Menciptakan outlet yang isinya produk-produk UMKM kota Medan, apalagi K3 Mart juga merupakan brand asli anak Medan,” ucapnya.

Bagi Richard, selain konsistensi dalam berbisnis, hal lain yang mendapat perhatian khusus adalah keberanian untuk memulai dan mencoba. Pasang surut dalam dunia bisnis adalah hal yang biasa. “Jangan pernah takut dalam berbisnis. Anak Medan pasti bisa kok bersaing dengan kota lain. Kita bisa membuktikan bersama bahwa Medan bisa menjadi tren,” tambahnya.

Dukung UMKM Kota Medan

Berbeda dengan supermarket kebanyakan yang hanya menawarkan barang-barang dagangan di rak penjualan, K3 Mart hadir lebih menarik dengan konsep to go dan dine in. Dilengkapi dengan bangku dan meja, menjadikan K3 Mart pilihan milenial menghabiskan waktu bersama teman-temannya sembari menikmati makanan dan minuman yang dibanderol dengan harga terjangkau.

K3 Mart juga mendukung usaha yang dijalankan secara individu maupun kelompok melalui deretan etalase yang diletakkan pada setiap outlet. “Selain tempat yang sangat pas untuk nongkrong anak muda, K3 Mart juga turut mewadahi anak-anak Medan yang mau berbisnis dalam bidang apapun seperti makanan atau minuman homemade, alat-alat make up, dan lain sebagainya. Kita berikan ruang untuk UMKM Medan berjualan di sini, hingga akhirnya baik pembeli atau pun penjual tidak lagi bingung untuk membeli dan memasarkan produk,” kata Richard.

Tak perlu uang banyak untuk membangun toko online atau ingin mempunyai toko sendiri. Dengan harga sewa mulai dari Rp200.000,- per bulan, para penyewa dapat menitipkan barangnya di K3 Mart untuk diperdagangkan.

Baca Juga:  Seluruh Unit Hotel GranDhika Indonesia Tidak Potong Gaji Karyawan dan Daily Worker Disaat Pandemi Covid-19

Penyewa juga mendapatkan informasi mengenai produknya yang terjual secara realtime, tanpa perlu mengunjungi store K3 Mart. Dengan memanfaatkan layanan ini, penyewa tidak perlu repot menyewa toko, menggaji pegawai toko dan membangun sistem stok secara digital. Semuanya bisa dipantau dari data consignment penyewa.

Pebisnis Kreatif dan Inovatif

Tak bisa dipungkiri pebisnis yang mati langkah dengan minim kreativitas dan malas mengembangkan ide akan terus-terusan menemukan kebuntuan. Berbeda dengan Richard, ia selalu haus akan ide-ide brilian.

“Medan butuh anak-anak muda yang kreatif dan inovatif. Terlebih lagi dalam berbisnis, jiwa kreativitas harus ada. Dengan kreativitas kita akan menghasilkan inovasi yang unik pula. Tambah lagi jangan malas, pebisnis harus cepat dan cekatan,” ujarnya.

Richard juga menambahkan bahwa pebisnis juga harus out of the box, keluar dari zona nyaman, berani ambil risiko, tidak lupa diri, bersungguh-sungguh, disiplin, setia kawan, dan yang paling penting harus selalu berdoa dan berbakti kepada orang tua.

“Menjadi pebisnis itu enak loh, kita bisa mengubah taraf hidup pribadi dan juga mengubah taraf hidup orang lain. Kita juga yang me-manage diri kita tanpa harus diatur oleh orang lain,” tambahnya lagi.

Dibalik kesuksesan K3 Mart, tersimpan perjuangan Richard yang tak mudah. Ia harus membangun pondasi bisnis dari nol dan memikirkan strategi yang tepat. Namun uniknya, Richard justru tak mematok target dalam berbisnis.

“Saya tidak pernah menargetkan apa-apa dalam berbisnis. Jalani dengan sungguh-sungguh adalah kunci dari semua target. Yakinlah bahwa dengan bersungguh-sungguh, semua hal yang diinginkan dan ditargetkan pasti didapat bahkan lebih dari apa yang ditargetkan. Itu selalu saya rasakan sampai saat ini,” ucap pria yang hobi membaca buku sejarah ini.

Bagi Richard, prinsip yang selalu dipegangnya dalam menjalankan bisnis adalah kejujuran. Menurutnya, walaupun ia bukan orang yang pintar dalam akademik, namun kejujuran adalah hal utama untuk menunjukkan pribadi yang baik pula.

Medan, Ladang Bisnis Namun Minim Seni

Medan, sebagai kota yang kaya dengan lokasi dan cara berbisnis yang bervariasi, sayangnya masih belum dibarengi dengan kreativitas seni. Tidak sedikit usaha-usaha atau kafe yang ada di Kota Medan sepi pengunjung dan hanya bisa bertahan selama 2 tahunan.

Richard pun  turut memberikan pandangan tentang harapannya selaku pebisnis milenial yang ada kota Medan.

“Kota Medan adalah kota yang maju dan dikenal sebagai kota pebisnis. Sebagai kota bisnis harus mampu berkolaborasi juga dengan nilai-nilai seni yang ada. Di Jawa misalnya, mayoritas pebisnis sudah mampu mengubah hal yang tidak bernilai menjadi bernilai. Pebisnis Medan masih melihat peluang bisnis saja, belum menganggap bahwa seni belum bisa menghasilkan nilai ekstra. Harapannya kita harus mampu mengubah mindset untuk mengkombinasikan peluang bisnis dengan seni. Hingga akhirnya Medan dapat dikenal juga seninya,” pungkasnya.

Penulis: Ade Syaputra

Fotografer: Vicky Siregar