Quarter Life Crisis, Menyerang Kawula Muda

136

Medan, KoverMagz – Quarter life crisis atau krisis seperempat abad adalah periode saat seseorang berusia 18–30 tahun merasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan galau akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang.

Penyebab Quarter Life Crisis

Quarter life crisis biasanya dimulai bila ada masalah “orang dewasa” yang muncul pertama kalinya pada hidup seorang dewasa muda. Ada beberapa kondisi yang sering memicu terjadinya quarter life crisis, di antaranya:

  • Mengalami masalah pekerjaan atau finansial
  • Merencanakan karier dan masa depan
  • Menjalani hidup mandiri untuk pertama kalinya
  • Menjalani hubungan romantis yang serius untuk pertama kalinya
  • Mengalami putus cinta setelah menjalani hubungan yang serius sekian lama
  • Melihat teman sebaya sudah mencapai impiannya lebih dulu
  • Membuat keputusan pribadi atau profesional yang akan bertahan dalam jangka waktu yang lama

Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial. Hal-hal di atas pastinya pernah atau sedang kamu alami. Bukan hal yang aneh pikiran-pikiran seperti itu makin sering muncul di benak kepala. Pencarian jati diri tidak pernah melalui jalan yang mulus, ia selalu memilih jalan yang terjal dan berliku agar kita paham bagaimana pentingnya makna sebuah proses dalam hidup.

Ketidaksesuaian antara harapan pribadi dengan situasi nyata kerjanya membuat kita dipecat, kesulitan finansial, dan menciptakan konflik-konflik relasional dengan keluarga, teman-teman dan orang sekitar. Fase ini semakin berat tatkala kita melihat bagaimana proses hidup orang lain, kelihatannya jalan yang mereka lalui sangat mulus ibarat kata mereka hampir sampai di garis finish kesuksesan. Hampir semua orang mengalami hal ini, rumput tetangga selalu tampak lebih indah.

Mulai merasa hidupmu tidak lebih beruntung ketimbang teman-teman sebaya lainnya. Gak masalah, ada ribuan orang di luar sana yang punya permasalahan yang sama, kamu gak sendirian.

Tapi mungkin saja situasi berubah memburuk saat kamu berada di kondisi terburuk. Entah karena tentangan keluarga sampai kamu harus mengorbankan impianmu, kondisi ekonomi yang mengharuskanmu mau tidak mau melepas segala keinginan demi membantu keluarga, lingkungan yang tidak sehat yang membuatmu terus menerus tersiksa, atau faktor-faktor lainnya yang kamu rasakan.

Menurut peneliti dan pengajar Psikologi dari University of Greenwich, London, Dr. Oliver Robinson, ada empat fase dalam QLC :

  • Pertama, perasaan terjebak dalam suatu situasi, entah itu pekerjaan, relasi, atau hal lainnya.
  • Kedua, pikiran bahwa perubahan mungkin saja terjadi.
  • Selanjutnya, periode membangun kembali hidup yang baru.
  • Yang terakhir adalah fase mengukuhkan komitmen anyar terkait ketertarikan, aspirasi, dan nilai-nilai yang dipegang seseorang :

 

Cara Menghadapi Quarter Life Crisis

Sebenarnya wajar jika Anda mengalami quarter life crisis. Namun, ini tidak boleh dianggap remeh, karena bila tidak dihadapi dengan bijak, quarter life crisis bisa berubah menjadi depresi. Untuk menghadapi quarter life crisis, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan, antara lain:

  • Berhenti membandingkan diri dengan orang lain

Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuang-buang waktu dan membuat Anda semakin khawatir. Alih-alih memikirkan kehidupan orang lain, mulailah cari tahu apa yang sebenarnya Anda inginkan dalam hidup.

Namun, tanamkan dalam pikiran Anda bahwa jawabannya mungkin tidak akan langsung ada. Fokus saja dengan bagaimana Anda bisa melewati satu hari dengan sebaik-baiknya. Yakinlah bahwa Anda perlahan-lahan akan mengetahui keinginan dan tujuan Anda, bahkan mungkin tanpa Anda sadari.

  • Ubah keraguan menjadi tindakan

Ketika Anda bingung akan suatu hal dalam hidup, jadikan itu kesempatan untuk menemukan tujuan baru. Isi hari-hari Anda dengan hal-hal positif untuk menemukan jawaban atas keraguan Anda, hingga akhirnya jawaban tersebut datang dengan sendirinya.

Misalnya, Anda bingung karena merasa tidak cocok dengan pekerjaan. Di samping tetap menjalankan tanggung jawab Anda dalam bekerja, Anda bisa mulai mengisi waktu luang dengan relaksasi, menambah wawasan, mencari kelas online untuk menambah keterampilan, atau mengobrol dengan teman untuk mendapatkan solusi.

  • Temukan orang-orang yang bisa mendukung Anda

Berada di sekeliling orang-orang yang bisa mendukung impian dan cita-cita Anda juga bisa menjadi cara untuk menghadapi quarter life crisis.

Carilah orang-orang yang memiliki minat yang sama dengan Anda, atau orang-orang yang bisa menginspirasi dan membuat Anda menjadi orang yang lebih baik. Dengan begitu, Anda tidak akan merasa sendiri dalam menjalani hidup.

  • Belajar mencintai diri sendiri

Ketika sedang terjebak dalam quarter life crisis, Anda mungkin akan cenderung mengabaikan berbagai kenikmatan yang sebenarnya Anda miliki. Padahal, untuk mencapai tujuan dalam hidup, Anda perlu menghargai dan mencintai diri Anda terlebih dahulu.

Jadi, mulailah perhatikan kebutuhan Anda, apa yang Anda suka, apa yang membuat Anda nyaman, dan apa yang ingin Anda coba lakukan. Kemudian, wujudkan mereka satu per satu passion Anda dimulai dari yang kecil terlebih dahulu. Tanpa Anda sadari, hal-hal kecil ini akan membuat hidup Anda lebih menyenangkan.

Umumnya, QLC dialami orang pada umur 20-an, baik awal, tengah, maupun akhir dekade ketiga dalam hidup seseorang. Namun, perasaan cemas, bingung, dan sedih yang terdapat dalam krisis memasuki tahap kedewasaan bisa saja berlanjut sampai usia 30-an.

“QLC tidak secara harfiah terjadi saat Anda memasuki usia seperempat dari total hidup Anda, tetapi terjadi pada seperempat tahap awal perjalanan Anda menuju kedewasaan. Biasanya pada periode antara umur 25-35 dan paling banyak pada usia sekitar 30,” ujar Robinson kepada The Guardian.

QLC berkisar pada masalah identitas seseorang seperti apa nilai-nilai yang dipercayanya, dengan apa ia mengafiliasikan diri, hal apa saja yang prinsipil buatnya. Bagaimana ia membentuk dan kemudian menunjukkan identitasnya itu tidak lepas dari teknologi yang ada sekarang..

Quarter life crisis bisa menyerang siapa saja, karena sesungguhnya masalah dalam hidup adalah sesuatu yang sangat wajar. Dalam menghadapi fase ini, Anda membutuhkan fisik dan mental yang kuat supaya krisis ini tidak berlanjut lebih jauh.

Penulis : Annette Thresia Ginting

Sumber : Berbagai Sumber