Sebagai Bentuk Kepedulian dengan Lingkungan, Paris Fashion Week Terapkan Alat Digital Pendeteksi Kadar Emisi Karbon

26

Medan, KoverMagz – Industri fashion merupakan salah satu penyebab pencemaran terbesar kedua di dunia setelah industri minyak. Hal ini diperburuk dengan adanya pandemi telah mendrong isu terkait pagelaran fesyen di masa depan dan isu tentang lingkungan menjadi pertimbangan utama ketika acara tatap muka dilanjutkan.

Women’s Wear Daily melaporkan, Fédération de la Haute Couture et de la Mode (FHCM) telah bekerja selama beberapa tahun untuk menjawab pertanyaan tersebut dan menghadirkan alat digital baru. Dalam hal ini, Paris Fashion Week bermaksud untuk memimpin tugas untuk lebih memahami dampak lingkungan dari peragaan busana melalui Fédération de la Haute Couture et de la Mode.

Nantinya, alat tersebut akan menunjukkan rekam jejak brand terhadap lingkungan hidup dimana membantu label fesyen dan rumah mode di Paris Fashion Week untuk mengukur dampak lingkungan dari pertunjukan dan koleksi mereka dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas jejak karbon (carbon print) dengan menggunakan angkutan dan mobil listrik untuk mengangkut peserta ke pusat pertunjukan di penjuru ibu kota, mendaur ulang limbah dan bekerja dengan organisasi La Réserve des Arts untuk proses daur ulang set runway.

Badan pengelola mode Prancis tersebut, memanfaatkan raksasa audit, akuntansi, dan konsultan Price water house Coopers untuk mengembangkan dua alat baru guna mengukur dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari banyak pertunjukan di Paris Fashion Week mendatang. Terdapat 37 pemangku kepentingan, termasuk brand fashion ternama seperti Chanel, Hermes, kering, agensi model, dan venue yang juga berpartisipasi dalam proyek tersebut.

Pekan mode di Paris serta New York, Milan, dan London telah diteliti karena dampak lingkungan yang besar dan kuat. Hal ini disebabkan secara tidak langsung pertunjukan tersebut mengundang editor, pembeli, model, dan bakat serta peserta lainnya untuk melakukan perjalanan ke seluruh dunia beberapa kali dalam ajang pekan mode tersebut.

Baca Juga:  ALBUM "KOMPILASI SATU DEKADE MEDAN BLUES SOCIETY” IS OUT!!

Alat ini nantinya dapat mengkalkulasi dampak dari produksi maupun kegiatan fashion week bahkan sebelum acara berlangsung, untuk membantu label membuat pilihan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki tanggung jawab sosial juga menghitung sekitar 120 indikator kinerja utama untuk label fesyen, yang mencakup semua tahapan acara, mulai dari pendaftaran dengan rumah produksi hingga casting dan fitting, dan termasuk kegiatan komunikasi digital

“Kami memiliki tugas untuk memimpin secara global, Paris adalah ibu kota mode dunia, dan dikatakan bahwa Paris adalah ibu kota mode digital dunia dengan pekan mode online. Ini tanggung jawab kami untuk mengembangkan alat yang diperlukan dalam hal keberlanjutan.” ujar Pascal Morand, presiden eksekutif Fédération de la Haute Couture et de la Mode,seperti yang dikutip dari Vogue Business.

Rumah mode atau label fesyen dapat merahasiakan hasil dari kalkulasi tersebut, namun mereka juga dapat mengkontribusikan skot untuk mengukur dampak dari seluruh kegiatan fashion week tanpa mengungkap detilnya.

Sebelumnya, alat ini telah diuji coba pada Januari 2021. Namun baru akan secara resmi diluncurkan pada musim semi atau panas tahun 2022 yang dijadwalkan dari 27 September hingga 5 Oktober yang diharapkan dalam bentuk fisik dan digital. Rumah mode harus memenuhi 18 standar minimum dan mencetak poin yang diperlukan agar dapat berpartisipasi kembali dalam acara perhelatan fashion show.

Institute Française de la mode turut ambil bagian dalam proyek itu, bersama dengan sejumlah federasi Prancis yang terkait dengan industri tersebut, dan rencananya akan diluncurkan pada bulan September. Seperti halnya alat pertama, alat ini dimaksudkan untuk digunakan secara luas oleh industri.

Penulis : Annette Thresia Ginting
Sumber : Berbagai Sumber