Penyanyi Cilik di Atas Panggung

125

                                         Penyanyi Cilik di Atas Panggung

Karya: Reani Retno

Binar mata dan senyuman ceria tidak pernah hilang dari panggungnya ketika ia bernyanyi. Tubuh kecilnya selalu bergerak seirama dengan petikan ukulele di tangan. Ia bernyanyi di panggung itu setiap hari. Tidak ada hari libur, tidak ada waktu main-main. Sebagian besar hidupnya hanya untuk bernyanyi. Panggung itu sudah menjadi rumah kedua baginya. Siang hari ia bernyanyi di panggung, malam-malam ia pulang kembali ke pelukan ibunya. Bernyanyi bukan pekerjaan berat, ia senang melakukannya. Bahkan sesekali ia senang telat pulang dan memilih berlama-lama di panggungnya. Ibunya tidak marah, justru kadang terlihat semringah saat ia pulang larut malam. Biasanya ibunya akan langsung memeluk dan berujar lirih, “Oh, penyanyi cilikku.”

Penyanyi Cilik. Itu nama panggungnya. Seperti penyanyi-penyanyi lain, ia juga punya nama panggung. Ia tidak tahu siapa yang pertama kali menyebutnya begitu, tetapi yang pasti seluruh rekan-rekan sesama penyanyi juga memanggilnya dengan nama itu. Lama-lama ia suka dengan nama itu. Sesaat setelah naik ke panggung, ia pasti akan membungkukkan badan memberi hormat kepada penonton dan segera memperkenalkan diri, “Izinkan Penyanyi Cilik menyanyikan sebuah lagu untuk kalian.”

Ukulele yang selalu dibawa itu adalah peninggalan mendiang bapaknya. Ia sudah mulai belajar memainkannya sejak kecil. Bapaknya juga seorang penyanyi, tetapi tidak sempat mengajarinya tentang ukulele. Konon, bapaknya mati di atas panggung saat ia baru saja dilahirkan. Ia tidak tahu kebenaran tentang cerita itu, ibunya juga selalu diam ketika ditanya. Mungkin kematian itu yang membuat ia memiliki nasib yang sama dengan bapaknya.

Ia diajari bermain ukulele oleh penyanyi lain. Mereka bertemu di panggung yang sama. Sayangnya, semenjak ia pandai bermain ukulele, orang yang mengajarinya itu tidak senang. Penyanyi Cilik dituduh merebut panggung miliknya. Orang itu kemudian pergi entah ke mana dan tidak pernah kembali lagi. Mungkin ia mencari panggung lain yang penontonnya lebih banyak. Penyanyi Cilik tidak lagi peduli dan berhenti memikirkannya, ia hanya akan segera bangun dari tidur dan berangkat ke panggung setiap pagi.

Pagi ini cerah. Matahari tersenyum mengintip dari balik awan yang segera berlalu. Tetapi kecerahan pagi tidak membuat Penyanyi Cilik merasakan hal yang sama. Entah mengapa kali ini ia tampak berbeda sejak mobil bak terbuka warna-warni melintas di depan panggungnya. Mobil itu berisi puluhan anak-anak seusianya yang berpakaian seragam merah putih. Anak-anak itu membawa bendera-bendera kecil dan tulisan-tulisan yang tidak bisa ia baca. Seorang perempuan paruh baya membimbing anak-anak itu untuk bernyanyi. Tidak hanya Penyanyi Cilik, orang-orang juga mengalihkan pandangan mereka ke arah mobil warna-warni itu. Mereka tersenyum, kecuali Penyanyi Cilik. Terdengar seseorang bertanya, “Hari anak, ya?”

Mobil itu terus melaju pelan dan mata orang-orang masih mengikuti pergerakannya. Penyanyi Cilik menatap murung ke arah penonton. Pesona anak-anak itu membuat ia kehilangan mereka. Ia menatap ukulele di tangannya sambil memikirkan sebuah lagu yang akan dinyanyikan. Jemarinya mulai memetik dawai, tetapi orang-orang belum juga mengalihkan pandangan mereka. Penyanyi Cilik berhenti lagi dan ikut melihat ke arah yang sama. Anak-anak itu masih bernyanyi dengan wajah ceria. Baju-baju mereka tampak indah di bawah sinar matahari.

Anak-anak itu tersenyum sambil menyanyikan lagu yang di dalam liriknya beberapa kali terdengar kalimat ‘selamat hari anak nasional’ disebutkan. Penyanyi Cilik mendengarnya. Matanya tiba-tiba berbinar lagi seperti biasa. Ia segera mengambil tempat ke panggungnya, memainkan ukulele dan mulai menyanyikan lagu bernada ceria. Sebuah lagu sederhana tentang anak-anak seperti dirinya yang menolak bersedih hati saat Hari Anak Nasional; lagu yang nada dan liriknya ia ciptakan sendiri. Orang-orang mulai mengalihkan pandangan ke arahnya.

Hebat,  anak-anak berseragam itu juga ikut berhenti bernyanyi dan menonton. Beberapa mata orang dewasa terlihat basah. Perlahan tapi pasti, satu persatu uluran tangan memasukkan uang-uang kertas ke dalam gelas minuman bekas di ujung ukulelenya. Para  penonton mulai pergi meninggalkan panggung dan melanjutkan perjalanan yang mungkin panjang, tetapi Penyanyi Cilik tidak berhenti bernyanyi. Ia terus bernyanyi; nyanyian untuk diri sendiri.

BIODATA PENULIS:

Reani Retno adalah sebuah nama pena seorang alumnus Sastra Indonesia USU. Lahir pada Kamis Pahing, 4 September 1997 di Rambung Sialang. Suka menulis, suka melukis, tidak suka patah hati.