Mengenal Sindrom Xenophobia

130

 

Medan, KoverMagz, Xenophobia adalah istilah dimana ada seseorang yang mimiliki rasa ketakutan terhadap orang asing. Permusuhan terhadap orang luar sering kali merupakan reaksi terhadap ketakutan ini. Ini biasanya melibatkan keyakinan bahwa ada konflik antara dalam dan luar kelompok seseorang. Xenophbia sering tumpang tindih dengan bentuk prasangka seperti rasisme tetapi ada perbedaan penting. Penjelasannya seperti ini, Xenofobia berbeda dari rasisme walau sama-sama melakukan tindak diskriminasi pada orang yang dianggap berbeda karakteristik. Misalnya, rasisme merujuk pada diskriminasi akibat adanya perbedaan karakteristik yang spesifik. Sementara itu, xenophobia berakar pada persepsi bahwa orang-orang selain di luar kelompoknya merupakan orang asing.

Orang yang memperlihatkan perilaku xenophobia umumnya percaya bahwa budaya dan negara mereka lebih hebat dibanding budaya orang lain. Orang dengan xenophobia pun cenderung ingin pendatang untuk tidak masuk dalam komunitasnya serta melakukan tindakan yang merugikan orang lain yang dianggapnya asing.

Contoh Kasus : 

Tagar Xenophobia Is Not a Joke menjadi salah satu trending di Twitter saat ini. Menariknya, hal tersebut berhubungan dengan artis

K-Pop Jisoo BLACKPINK.

Tagar ini ramai digaungkan oleh BLINK atau penggemar girl group asal Korea Selatan tersebut yang membela Jisoo dari olok-olok publik.

Mereka memutuskan berbicara tentang topik penting ini untuk menghormati perempuan berusia 26 tahun tersebut. Pasalnya, Jisoo sering diminta untuk berbicara dalam bahasa Inggris pada banyak kesempatan.

Namun beberapa orang justru sering bertanya dan mengomentari apakah dia sebenarnya bisa berbicara dalam bahasa Inggris atau tidak?

Apakah Xenophobia Bentuk Gangguan Mental?

Pengkategorian xenofobia sebagai gangguan mental masih didebatkan banyak pihak. Xenophobia juga tidak dimasukkan sebagai gangguan mental dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Beberapa ahli menyebutkan, bentuk prasangka (prejudice) terhadap orang lain yang ekstrem bisa dimasukkan menjadi subtipe gangguan delusional. Namun, ahli yang memaparkan pandangan ini juga berpendapat bahwa prejudice dapat menjadi gangguan apabila menciptakan gangguan signifikan terhadap aktivitas “penderitanya” sehari-hari.

Karakteristik Perilaku Xenophobia

Xenophobia dapat diekspresikan dengan beragam cara. Beberapa perilaku xenophobia yang umum yaitu:

  • Merasa tidak nyaman berada di sekitar orang yang berasal dari kelompok yang berbeda
  • Berusaha sebisa mungkin untuk menghindari area tertentu
  • Menolak berteman dengan orang lain hanya karena warna kulit, cara berpakaian, atau faktor lainnya
  • Sulit bekerja dengan rekan kerja yang berbeda ras, budaya, atau agama

Tips mengurangi atau menghilangkan xenophobia di dalam diri sendiri

Apabila Anda merasa memiliki kecenderungan untuk bersikap xenofobia di atas, tips berikut ini bisa dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkannya:

1. Perluas pengalaman untuk melihat budaya orang lain

Banyak orang dengan xenophobia memiliki sedikit paparan dan interaksi dengan orang yang berada di luar komunitasnya. Untuk mengatasi hal ini, Anda bisa mengalokasikan waktu dan materi untuk jalan-jalan serta menikmati budaya dan kota orang lain. Tak perlu jauh-jauh, Anda bisa menghabiskan waktu sebentar saja di kota tetangga.

2. Mempelajari budaya daerah dan negara lain

Anda mungkin pernah mendengar ungkapan, “Banyak orang takut dengan hal-hal yang tidak mereka ketahui” Hal ini mungkin juga berlaku dalam xenophobia –  bahwa ketakutan terhadap hal yang tidak kita ketahui (fear of the unknown) menjadi jenis ketakutan yang sangat berefek pada diri. Apabila Anda merasa memiliki bibit sikap xenophobia, Anda sangat dianjurkan untuk mempelajari budaya atau daerah orang lain melalui media yang ada di rumah. Misalnya, Anda bisa menikmati artikel dan video di internet, menonton film, atau membaca buku yang membahas atau menampilkan budaya di tempat lain.

3. Menemui ahli kejiwaan

Apabila Anda merasa sudah banyak berinteraksi dengan orang dari daerah lain namun masih memiliki prasangka xenofobia, Anda disarankan untuk menemui psikolog atau psikiater. Carilah psikolog atau psikiater yang cenderung berpikiran terbuka dan memang tertarik untuk menangani perilaku xenophobia. Biasanya terapi yang akan diberikan dokter adalah terapi perilaku kognitif hingga pemberian obat-obatan untuk meredakan kecemasan. 

Mengantisipasi perilaku xenophobia dan diskriminasi pada anak

Menurut Unicef USA, kebencian dan prasangka terhadap orang lain bukanlah sifat bawaan dan cenderung menjadi perilaku yang dipelajari (dan bisa dibuang). Begitu pula pada buah hati Anda, bahwa anak-anak cenderung menyerap perilaku orang dewasa di dekatnya, dari media, dan dari teman-temannya. Ajari Si Kecll sejak dini untuk bersikap terbuka dengan perbedaan ras, budaya, dan agama. Pastikan anak memahami bahwa manusia di muka bumi memiliki hak yang sama untuk hidup dan dihargai. Selalu deteksi sejak dini jika anak Anda memperlihatkan perilaku xenophobia dan kebencian terhadap orang lain. Pasalnya, jika dibiarkan, perilaku tersebut tentu berisiko ia bawa sampai dewasa.

satu hal yang perlu diingat ialah meskipun hal ini mewakili ketakutan yang sebenarnya, kebanyakan orang xenophobia tidak benar-benar fobia. Sebaliknya, istilah tersebut paling sering digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang mendiskriminasi orang asing dan pendatang.
Penulis : Annette Thresia Ginting
Sumber : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, SehatQ
Baca Juga:  Thank You Prof. Sarah Gilbert, pahlawan wanita di balik vaksin Astra Zeneca!