Medan Top Model (MTM) Berprestasi di Tengah Kontroversi

330

Cantik, seksi, pintar, anggun dan menggoda sangat pas sekali ditujukan ke wanita-wanita yang tergabung dalam Medan Top Model (MTM). Meskipun stigma negatif acap kali terdengar dari orang-orang yang hanya menilai dari penampilan saja, namun mereka tak pernah ambil pusing.

“Berkarya dan berkembang di dunia permodelan merupakan visi misi kita di MTM, walaupun terkadang masih saja ada orang yang mengatakan penampilan kami yang terlalu vulgar dan seksi, bagi kami mereka melihat kami dari nafsu bukan dari seni,” ucap Noy Tampubolon selaku ketua sekaligus founder Medan Top Model.

MTM sendiri dibentuk bulan Juli 2018 kemarin dengan beranggotakan 15 orang, di antaranya Noy Tampubolon, Meiyin, Widhy Kimora, Radycha Naura, Sasya F Nainggolan, Nana Marisa Asbi, Siti Adinda, Icha Tina, Gaby Sihombing Putri P, Paula, Ewi G, Betty Vio dan Ananda Clarisa Putri dan Asia Kiara.

Hebatnya lagi member-member Medan Top Model ini memiliki prestasi yang tak bisa dipandang sebelah mata, seperti Nana Marissa Asbi menjadi juara 1 “My Hijab Story” di acara Indihome dan Portal Medan 2017. Radycha Naura juga menjadi ‘The Best Foto Model Medan” di acara Toyota Super Meet Up 2017.

Asia Akira juga ikut mengharumkan Medan Top Model dengan menyumbang trofi Juara 3 sebagai Miss HIN Malaysia 2018. Sasya F. Nainggolan juga keluar sebagai 2nd winner Miss Finest Creator 2018 dan Widhy Kimora sebagai Juri Model Sumut Competition 2018.

Don’t judge someone by the cover, statement ini patut disandang anggota Medan Top Model. Mereka tak ingin dicap sebagai model dengan mengandalkan paras cantik saja, tetapi harus balance dengan mindset yang smart.

Terbukti pada setiap pertemuan 2 kali seminggu, mereka selalu mengundang mentor-mentor yang berpendidikan dan berpengalaman di dunia modelling untuk membangun attitude yang baik. Sharing kepada para fotografer model yang ada di kota Medan juga masuk ke agenda mereka.

Medan Top Model bercita-cita menjadi salah satu wadah sekaligus komunitas yang bisa melahirkan wanita-wanita multitalenta, sekaligus mengubah citra buruk di modeling.

PRO DAN KONTRA

Dunia modeling yang identik dengan kehidupan glamour dan elegant ini memang selalu menjadi pusat perhatian banyak orang, khususnya bagi lawan jenis yang memiliki maksud tertentu.

Pakaian yang dikenakan para anggota Medan Top Model saat sesi pemotretan masih terbilang wajar, hanya saja karena postur tubuh para model ini yang ideal dan proporsional terkadang mengundang komentar-komentar pro dan kontra di lingkungan mereka.

Apalagi media sosial seperti instagram, facebook dan twitter menjadi tempat berbagi hasil photoshoot mereka. Banyak yang memberikan komentar positif sembari mendukung anggota-anggota Medan Top Model untuk berkarya, bila perlu ikut mengharumkan nama bangsa melalui dunia modelling. Akan tetapi ada juga yang meremehkan profesi mereka.

Masing-masing orang tua dari member MTM juga selalu mengingatkan mereka agar berpakaian sopan. “Orang tua saya paling protektif mengenai hobi yang saya lakoni ini, terutama mama karena mama selalu bilang kalau berpakaian itu harus sewajarnya, jangan terlalu seksi dan vulgar. Kita juga masih punya keluarga dan saudara, jadi harus kita jaga nama baik keluarga ini,” pungkas Widhy Kimora sembari menirukan gaya sang bunda.

Biasanya setelah selesai pemotretan, Widhy selalu memperlihatkan hasil-hasil fotonya kepada orang tuanya. Hal ini juga dilakukan oleh member lainnya di Medan Top Model. Jika terdeteksi hasil foto yang terlalu vulgar atau terlalu terbuka, para orang tua mereka pasti menolak.

LIKA-LIKU PERJALANAN

Ada yang menarik mengenai histori awal dibentuknya komunitas Medan Top Model ini, sebab sebenarnya komunitas model ini sudah ada sejak 2016 dengan nama Model Medan. Namun seiring berjalannya waktu terdapat perbedaan sudut pandang yang dirasakan oleh beberapa anggota, sehingga merasa tidak cocok lagi dengan visi misi awal. Akhirnya, Noy Tampubolon dan member MTM lainnya memilih hengkang dan mendirikan komunitas model dengan format dan visi misi yang baru, begitulah cikal bakal berdirinya Medan Top Model.

Yang pertama kali harus dibenahi tatkala Medan Top Model dibentuk adalah, mindset dan attitude karena cantik itu relatif. “Kalau seorang model cantik itu sudah biasa, tapi kita di Medan Top Model cantik aja engak cukup, kita juga di sini mau ngebangun pola pikir anak-anak yang smart, kreatif dan peka terhadap masalah-masalah sosial di lingkungan sekitar,” ucap Noy.

Menurutnya juga wanita-wanita sudah saatnya menyuarakan aspirasi bahwa wanita tidak lemah, wanita juga berhak untuk eksis dan berkarya karena sebenarnya sangat banyak hal inovatif yang bisa didapatkan dari seorang wanita, hanya saja mereka suka tertutup.

Sama halnya dengan member Medan Top Model, kebanyakan pada saat awal-awal terjun ke dunia modeling mereka masih ‘malu-malu kucing’ dan segan tampil setiap kali mengikuti berbagai kontes modeling.

Namun belakangan, mereka sudah bisa menyesuaikan diri untuk berani tampil dengan percaya diri dan energik untuk mengeksplor bakat-bakat mereka di dunia modeling. Layaknya pepatah, proses tak akan mengkhianati hasil, beragam juara dan penghargaan seakan menjadi langganan para anggota Medan Top Model.

Ada pun harapan terbesar Medan Top Model untuk kedepannya adalah mereka ingin berkompetisi di ajang nasional seperti pemilihan Miss Indonesia atau Putri Indonesia.
“Tidak ada yang tidak mungkin, selagi kita MTM memiliki keinginan dan tekad yang kuat, semua pasti bisa diraih,” tutup Noy Tampubolon.

“Tidak ada yang tidak mungkin, selagi kita MTM memiliki keinginan dan tekad yang kuat, semua pasti bisa diraih,” tutup Noy Tampubolon.

Penulis & Fotografer: Vicky Siregar