
Bukan hal yang tabu bila Rosalía, musisi asal Spanyol melakukan hal-hal yang aneh dan unik. Selain kerap mengaburkan batasantar-genre, kali ini ia kembali menarik perhatian lewat rilisan terbarunya. Rosalia dikenal sebagai sosok yang tidak betah berada dalam satu kotak saja. Ia suka memadukan tradisi flamenco dengan pop, elektronik, hingga reggaeton, dan menjadikannya sebagai bagian dari identitasnya.
Lewat album keempatnya yang bertajuk Lux, Rosalía membuka babak baru dalam perjalanan kreatifnya. Rilisan ini sudah lebih dulu ramai dibicarakan, baik oleh penggemar lama maupun pendengar yang penasaran dengan arah musiknya kali ini. Album ini resmi telah dirilis pada 7 November 2025. Album Lux menjadi penanda penting dalam perjalanan panjang Rosalía.
Melansir dari laman The New York Times, Rosalia memulai kariernya dengan Los Ángeles, album penuh emosi dan kepekaan. Kemudian beralih ke El Mal Querer, karya besar yang membuatnya dikenal sebagai simbol kebebasan kreatif dalam musik pop modern.
Setelah itu, Motomami hadir dengan energi eksperimental yang memadukan unsur industrial dan sensualitas. Kini, melalui Lux, Rosalía menghadirkan karya yang lebih berani, cerah, dan sarat makna spiritual.
Lux bukan sekadar album musik biasa. Karya ini merupakan eksplorasi mendalam tentang tiga hal yang sangat personal bagi Rosalía seperti keilahian feminin, iman, dan cinta. Ketiga tema tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan setiap lagu dalam album ini.
Menariknya, Rosalía juga tidak hanya menggunakan bahasa Spanyol seperti biasanya, melainkan juga bernyanyi dalam tiga belas bahasa berbeda loh. Beberapa di antaranya adalah Katalan, Inggris, Latin, Sisilia, Ukraina, Arab, Jepang, Portugis, Italia, hingga Jerman.
Langkah ini menunjukkan rasa ingin tahunya yang tinggi terhadap keragaman bahasa dan budaya dunia. Demi menghasilkan lirik yang otentik, Rosalía bahkan mempelajari cara pengucapan dan penulisan yang benar selama lebih dari dua tahun.
Secara musikal, Lux menghadirkan suasana yang lebih cerah dan eksperimental dibandingkan karya sebelumnya. Rosalía memadukan unsur elektronik dengan ritme tradisional yang khas, menciptakan kombinasi suara yang terasa segar, mistis, dan emosional.
Beberapa lagu terdengar lembut dan menyerupai doa, sementara lagu lainnya memiliki hentakan ritmis yang kuat dan menggoda. Perpaduan ini menunjukkan upaya Rosalía dalam menyatukan dua sisi dirinya seperti spiritualitas dan sensualitas.
Salah satu lagu yang menonjol adalah “Berghain”, yang sudah dirilis lebih dulu sebagai lagu utama. Dalam lagu ini, Rosalía bernyanyi dalam bahasa Jerman, Spanyol, dan Inggris, dengan lirik penuh makna seperti “Seine Angst ist meine Angst, Seine Wut ist meine Wut, Seine Liebe ist meine Liebe, Sein Blut ist mein Blut,” yang berarti “Ketakutannya adalah ketakutanku, kemarahannya adalah kemarahanku, cintanya adalah cintaku, darahnya adalah darahku.”
Lagu lain yang menarik perhatian adalah “Mio Cristo Piange Diamanti”, yang menggunakan bahasa Italia, serta “Memória” dalam bahasa Portugis. Tak kalah unik, lagu “Porcelana” juga menampilkan lirik dalam bahasa Jepang, menambah kekayaan bahasa dalam album ini.
Melalui Lux, Rosalía kembali membuktikan bahwa musik adalah bahasa universal yang mampu menembus batas apa pun. Ia tidak hanya bernyanyi, tetapi juga mengajak pendengarnya untuk ikut merasakan perjalanan emosional dan spiritual yang ia ciptakan.
Album ini menjadi simbol dari keberanian, kebebasan, dan keindahan dalam berekspresi. Bagi para penggemar maupun pendengar baru, Lux adalah undangan untuk masuk ke dunia Rosalía yang penuh cahaya, makna, dan evolusi tanpa henti.


