Linova Rifianty: Jurnalistik Telah Mendarah Daging

295

Penulis & Photographer Parada Al Muqtadir

Sedari awal sudah bergejolak dalam diri, menjadi jurnalis adalah jati diri. Walau pendidikan berlabuh pada Fakultas Pertanian, tapi asa tetap dijaga. Tujuanya pun mulia, keliling dunia tanpa biaya.

Medan,kovermagz.com | Orang tua yang memang bekerja di salah satu perkebunan plat merah, jelas punya keinginan agar anaknya bisa melanjutkan apa yang sudah diusahakannya. Linova pun meneruskan pendidikan di Fakultas Pertanian, Universitas Dharma Agung.

“Awalnya memang tidak punya niatan bekerja sebagai seorang jurnalis, tapi sempat berpikir sejenak, pekerjaan apa yang bisa membuat saya bisa traveling keliling dunia tanpa keluarkan biaya sepeser pun, mungkin dengan bermodalkan bahasa inggris mempuni lalu ditambah kemampuan photography dan videography mempuni saya bisa menjadi jurnalis handal yang bisa memberitakan dari berbagai negara,”ujarnya.

Setahun berselang, ia pun coba maksimalisasl kuliah dengan mengambil jurusan Jurnalistik di STIK=P Medan. Jadi dalam satu hari wanita hebat ini harus menjalani rutinitas kuliah di dua kampus berbeda dengan program studi yang berbeda pula.

“Pada saat semester tiga pada jurusan jurnalistik, saya mulai ditawari untuk menjadi kontributor berita untuk beberapa harian di Kota Medan, tak lama berselang tepatnya tahun 1994, saya sudah bekerja untuk kantor berita asing, Associated Press,”kenangnya,

Untuk diketahui, Associated Press merupakan kantor berita Amerika Serikat yang merupakan salah satu kantor berita tertua di dunia. Sedari kuliah memang ia tak kenal lelah perkara mencari berita, tabloid kampus, harian lokal hingga nasional menjadi wadah penyalur aspirasi menulisnya.

2002 ia sudah kerja di koresponden di salah satu televisi (tv) nasional Lativi, menyingkirkan 70 orang pesaing hingga akhirnya menyisakan namanya perwakilan Medan. Hingga pada 2008 TV One melakukan akusisi, pegawai yang dirasa punya kompeten tetap dipertahankan.

Ingin Punya Media Sendiri

Punya pengalaman segudang dan jaringan relasi yang tersebar diberbagai negara. Tentu ingin punya media sendiri bukanlah hal yang tak mungkin, sebab sejatinya proses yang panjang tak pernah khianati hasil.

Baca Juga:  HANNA PAGIET: PEREMPUAN DAN MUSIK

“Media lokal itu seharusnya menjadi raja, mampu bersaing dengan nasional, sebab untuk pasar iklan mereka lebih paham,”tambahnya. Bagi Linova, tak ada kesenjangan antara media local dan nasional, hanya pada peluang investor yang belum banyak dilirik karena dinilai belum menjanjikan keuntungan yang besar.

Selain untuk wujudkan impian, media yang baru juga bisa membuka lapangan kerja baru. Walau banyak media yang gulung tikar, tapi ia yakin setiap media yang punya jati diri pasti akan bertahan ”Dari dulu ketakutan orang selalu berlebihan, saat televisi ada radio takut ditinggalkan, tapi sampai saat ini masih banyak orang yang mendengarkan radio, mereka punya pasar sendiri asal tidak takluk pada perkembangan teknologi,” tambahnya.

Sebagai jurnalis perempuan, ternyata banyak kemudahan yang ia dapat, ceritanya saat mengenang tsunami Aceh, pulang pergi saat meliput kesana sering menumpang jet pribadi “Banyak pesawat asing yang singgah, terutama private jet, beberapa pilot yang merasa kasihan membolehkan untuk ikut, karena iba melihat saya seorang wanita menenteng kamera ukuran ‘monster’,”kenangnya.

Ada hitam ada putih, ada kebaikan pasti ada kekurangan yang ia dapati sebagai jurnalis perempuan, “yang patut diwanti-wanti itu fitnah aja, karena jurnalis perempuan harus wawancara malam hari disangka jual diri,”tambahnya sembari tertawa kecil.

Disekap karena Berita

Honor pertamanya sebagai jurnalis Rp 10.000 dipotong pajak hanya besisa Rp 8.500, jelas bukan karena materi ia tekuni dunia ini, lebih dari sekedar mengabdi, bahkan nyawa pun pernah ia pertaruhkan demi semua berita.

“Ketika mengambil gambar saat penggusuran rumah di jalan Mongonsidi, saya sempat disandera beberapa jam di suatu rumah kosong, handphone dimatikan lalu rekaman dihapus,” kenangnya.

Saat itu ia berhasil diselamatkan oleh teman sesama jurnalis, yang sempat ia hubungi. Setelah kejadian itu ada makna yang ia tangkap, jangan pernah acuhkan teman jurnalis sesama liputan, karena bisa jadi dia orang yang menyelamatkan kita.