Muhammad Azmir: Jatuh Bangun Meraih Mimpi

348

Penulis: Nursari Indah Manullang

Fotografer: Parada Al Muqtadir

Medan,kovermagz.com | Muhammad Azmir Aljabbar Nasution atau biasa disapa Aljabbar merupakan wakil dari Provinsi Sumatera Utara untuk ajang Putera Indonesia 2018 yang di gelar di Bandung. Keikutsertaan Aljabbar dilatarbelakangi ketertarikannya dalam hal kemanusiaan dan lingkungan sosial untuk itu ia mengikuti Putera Indonesia 2018 agar bisa mengembangkan dirinya lebih baik kedepannya. Aljabbar sendiri merupakan mahasiswa lulusan S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Prima Indonesia (UNPRI) yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan S2 di fakultas yang sama.  Selama berkuliah Aljabbar juga aktif dalam kegiatan kampus yang berbau sosial sebab ia sendiri memiliki jiwa sosial yang cukup tinggi. ““Manusia diciptakan Tuhan itu makhluk sosial, saling berkebutuhan kita tidak bisa berdiri sendiri. Jadi membantu lah dari hal-hal kecil itu akan sangat berarti pasti”  tegasnya

 Dalam menjalankan kuliah ia juga ikut dalam Yayasan Cinta Kasih Mandiri, yayasan ini berdiri  untuk kepedulian sosial masyarakat.  “ Saya ikut di tim itu untuk meningkatkan  semangat seperti orang-orang yang berkebutuhan terkadang mereka untuk berprestasi, berpendidikan agak down. Jadi disitulah peran kita sebagai generasi muda untuk menaikkan lagi semangat mereka, karena kita ini sama-sama manusia mempunyai kesempatan yang sama.” ujar pria kelahiran Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara tersebut

Selain itu, pada saat masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) Aljabbar belajar dan mengetahui mengenai hal sosial dan kemanusiaan. Seperti belajar mengenai HIV Aids dimana ia menyadari bahwa adanya pandangan masyarakat yang perlu diubah mengenai HIV Aids karena masyarakat tidak perlu menjauhi orang yang terkena HIV Aids. “masyarakat tidak segampang itu tertular HIV Aids jadi selama kita melakukan hal yang baik itu tidak menjadi masalah, karena saya mengetahui sendiri kalau HIV Aids itu akan tertular melalui darah, cairan tubuh seperti itu tetapi kalau melalui kontak-kontak umum itu akan menular,  jadi sisi kemanusiaannya dilihat disitu.” ujarnya

Pria kelahiran  Tanjung Tiram, 13 Desember 1992 ini mengawali karirnya untuk pertama kali sebagai modelling di tahun 2010 dalam ajang pemula dan kemenangan pun ia dapat.  Karier pria bertinggi 178 cm ini terus menanjak. Ditahun 2014 Aljabbar mengikuti ajang Mr and Ms UNPRI.  Bukan sekedar sebagai peserta saja ia sukses terpilih sebagai pemenang dalam ajang tersebut  dengan rekannya yaitu Putri Mentari Sitanggang sebagai Ms UNPRI 2014  yang juga sudah terlebih dahulu ikut ajang Puteri Indonesia Sumatera Utara 2017 dan berhasil menyandang peringkat keenam Puteri Indonesia 2017. Kesuksesan ini bisa ia dapat karena kegigihannya dalam menginspirasi setiap orang agar dapat menjadi contoh bagi khalayak umum.

Kemudian Aljabbar menjajal kemampuannya dengan mengikuti ajang untuk pemilihan Mister Indonesia. Namun sayangnya, ia gagal juara dan hanya menjadi Runner Up 4 dalam kompetisi tersebut.  Kegagalan yang ia peroleh tidak mematahkan semangatnya. Pada tahun 2018, pria berumur 25 tahun ini kembali mengikuti audisi untuk pemilihan Putera Indonesia dan berhasil terpilih sebagai Putera Sumatera Utara 2018 yang  mewakili Provinsi Sumatera Utara dalam ajang Putera Indonesia 2018. Dalam audisi tersebut ia menyisihkan peserta lain dengan membuat essay,  ada beberapa tema yang harus dipilih oleh para peserta yaitu tema kemanusiaan, lingkungan hidup atau alam liar.  Aljabbar pun memilih tema kemanusiaan karena ia memiliki jiwa kemanusiaan yang sangat tinggi. Dengan tekadnya yang tinggi ia pun berhasil masuk dalam lima essay terbaik dan terpilih menjadi Putera Sumatera Utara 2018.

Baca Juga:  Thank You Prof. Sarah Gilbert, pahlawan wanita di balik vaksin Astra Zeneca!

Kedua orang tuanya sama sekali tidak mempermasalahkan keinginan Aljabbar untuk mengikuti ajang tersebut pada saat itu, karena menurut mereka  itu merupakan kegiatan yang positif dan memiliki efek jangka panjang untuk karirnya kedepan.

Disamping kesukaannya pada dunia kemanusian dan lingkungan sosial, Aljabbar juga punya ketertarikan sendiri pada dunia seni. Memang dari kecil seni sudah menjadi salah satu bagian hidupnya mulai Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar sudah banyak yang dia ikuti seperti menyanyi, menggambar dan menari. Masuk ke Sekolah Menengah Pertama ia mencoba seni beladiri yaitu Pencak Silat. Aljabbar mengaku mengaku keikutsertaannya dalam Pencak Silat karena dulu ia pernah di bully semasa SD hingga SMP. “Dulu saya di-bully, saya adalah bahan bully-an teman-teman. Orangnya pemalu, terus cupu karena saya adalah anak seorang guru jadi orang tua saya ingin kalau anaknya seperti murid idaman mereka yang harus perfeksionis, yang harus belah samping, belah tengah, baju nya rapih masuk ke dalam, dan saya tidak mau bolos itu kena bully.” ujarnya

Sadar sering dibully teman-teman sekolah, Aljabbar pun bertekad mengubah hidupnya. Ia mencoba ikut ekstrakurikuler pencak silat dengan alasan untuk memperbaiki diri agar lebih baik lagi dan tidak dipandang lemah.

Pada saat Sekolah Menengah Akhir, ia kembali ikut kegiatan sekolah yang berbau nasionalisme yaitu paskibra. Aljabbar mengaku dengan mengikuti paskibra bisa menimbulkan rasa nasionalisme yang tinggi didalam diri kita, karena melihat bagaimana perjuangan para pahlawan dahulu untuk bisa membela Indonesia agar merdeka bebas dari penjajahan.  Sehingga menurut dia sangat penting peran paskibra untuk membawa bendera merah putih agar berkibar dengan gagah.

Masuk perguruan tinggi hingga sekarang  Aljabbar tetap melalukan hobi seni yang sedari kecil ia tekuni. Dulu ia memiliki cita-cita ingin menjadi penyanyi, tetapi seiring berjalannya waktu menyanyi saja tidak cukup. “Ternyata hanya sekedar menjadi penyanyi itu tidak asik, lebih asik kalau kita bisa menjadi seorang muda yang bisa menginspirasi dan membuat paradigma pada masyarakat itu menjadi baik dan dapat merubah lingkungannya menjadi positif. Itu lebih mulia.” ucapnya.

Aljabbar berharap untuk generasi muda kedepannya lebih banyak berkarya dengan jalan yang positif , terus membanggakan orang tua, membanggakan lingkungan sekitar lalu jangan pasif, terus mengembangkan dirinya, sering bersosialisasi karena kemanusiaan itu kurang dikarenakan kurangnya komunikasi diantara berteman.  “Generasi muda saat ini juga harus selalu berbuat positif bergabunglah di tempat-tempat positif walaupun lingkungannya negative, kalau bisa kalian yang harus mempengaruhi negatif itu menjadi positif.” ujarnya