Kenali Empty Sella Syndrome, Penyakit Langka Ruben Onsu

Umumnya, penyusutan pada kelenjar pituitari menyebabkan area ini tak terlihat  saat pemindaian MRI. Akibatnya, tampak seperti sella yang kosong. Padahal kenyataannya, di dalam sella  itu terdapat cairan serebrospinal atau CSF yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang.

Ketika seseorang mengalami Empty Sella Syndrom, maka CSF tersebut akan bocor ke dalam sella tursika, lalu menyebabkan tekanan pada hipofisis. Akibatnya, kelenjar di sepanjang dinding interior rongga sella tursika menjadi datar seperti menghilang.

Intinya,  Empty Sella Syndrome lebih mengarah pada penyakit langka yang menyerang otak. Penyakit empty sella syndrome ini tidak termasuk penyakit berbahaya selama dikontrol dan ditangani sejak dini.

Meski begitu, komplikasi yang timbul akibat tekanan pada otak, gangguan hormon, maupun masalah aliran cairan serebrospinal berisiko membuat kondisi penderitanya memburuk hingga berakibat fatal. Penyakit ini masih bisa disembuhkan selama dilakukannya penanganan yang tepat berupa terapi dan operasi pembedahan.

Penyebab Empty sella syndrome 

Ditinjau berdasarkan penyebabnya, Penyakit Empty Sella Syndrome terbagi menjadi dua jenis, yakni primer dan sekunder.

  • Empty Sella Syndrome Primer

Adalah kondisi dimana salah satu lapisan menutupi bagian luar otak menonjol ke dalam sella turcica, dan menekan kelenjar pituitari.  Hingga kini, penyebab empty sella syndrome primer belum diketahui secara pasti. Namun ada yang beranggapan bahwa empty sella primer terjadi karena akibat cacat bawaan lahir pada jaringan yang melapisi otak sehingga meningkatkan potensi cairan serebrospinal atau CSF untuk memasuki sella turcica, dan menyusutkan kelenjar pituitari.

Empty Sella Syndrome Primer sering dijumpai pada individu dewasa dan perempuan. Kondisi kesehatan ini dikaitkan dengan obesitas dan tekanan darah tinggi.

  • Empty sella syndrome sekunder

Adalah kondisi dimana kelenjar pituitari atau sella turcica menjadi rusak. Kemungkinan yang menyebabkan hal ini menjadi rusak yaitu:

  • Cedera kepala akibat benturan keras atau kecelakaan
  • Tumor Otak
  • Terapi radiasi di area kepala
  • Riwayat operasi di bagian kepala
  • Infeksi otak atau ensefalitis
  • Sindrom Sheehan
  • Traumatis dan sebagainya