Ken Steven Sang Maestro Paduan Suara

143

Tak banyak insan seni yang menorehkan prestasi di bidang paduan suara. Menjadi seorang komponis sekaligus konduktor jelas bukan perkara mudah. Ken Steven, adalah segelintir dari generasi terkini yang berhasil membuktikan bahwa paduan suara tak melulu menjemukan.

Disebut paduan suara apabila suatu kelompok vokal atau musik tergabung dalam satu himpunan. Setiap pergelaran paduan suara dipimpin oleh seorang konduktor yang bertugas menyampaikan harmoni sebuah karya kepada seluruh pendengar.

Begitulah peran Ken ketika memimpin pertunjukan paduan suara. Peran yang kerap dipandang sebelah mata lantaran dianggap hanya bermodal gerakan tangan ini ternyata memerlukan usaha ekstra untuk menguasai lagu dan menghasilkan satu kesatuan musik yang utuh.

Ketertarikan Ken pada dunia musik sudah ia tanam sejak duduk di kelas 6 SD. Begitu masuk SMA, Ken diajak temannya bergabung dalam paduan suara di sekolah. Dari sanalah cikal bakal Ken mencintai dunia musik dan paduan suara. Hingga suatu saat, Ken bertemu dengan Daud Kosasih, sang guru musik yang banyak membuka peluang dan memberi kesempatan dalam perjalanan karir Ken ke depannya.

Tahun 2011, Ken mendapatkan beasiswa di Asian Institute for Liturgy and Music (AILM) jurusan Choral Conducting and Composition di Filipina. Setelah menyelesaikan kuliah dengan predikat terbaik, Ken kembali ke Medan dan menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang kurikulum di SMK Musik Methodist Charles Wesley. Ia pun menggagas sebuah perkumpulan paduan suara yang diberi nama Medan Community Male Choir (MCMC) pada tahun 2015.

Ken bersama MCMC telah melanglang buana mengikuti beragam festival paduan suara dan misi pertukaran budaya di Medan, Pekanbaru, Jakarta, Malaysia, Singapura, Filipina, Macau, dan Taiwan.

Lahirkan Banyak Karya

Ken Steven tak setengah-setengah menekuni dunia musik dan paduan suara. Berprofesi juga sebagai komponis, ia menciptakan banyak komposisi musik secara vokal dan instrumental. Perlu waktu yang tak sedikit untuk merampungkan sebuah lagu. Walaupun begitu, Ken pantang menyerah dan kerja kerasnya kini membuahkan hasil. 

“Saat ini ada sekitar 400 judul yang terbagi dalam berbagai bentuk. Beberapa karya yang terkenal di kalangan paduan suara adalah “Hentakan Jiwa”, “Fajar dan Senja”, dan “Dendang Alam Khatulistiwa” tutur pria kelahiran Binjai, 10 September 1993 ini.

“Dendang Alam Khatulistiwa” menjadi lagu yang paling istimewa. Selain menceritakan tentang keindahan alam di bumi khatulistiwa, keberadaan lagu ini pula yang membawa Ken menghadirkan seri lagu khatulistiwa lainnya.

“Warna Khatulistiwa” menjadi lagu kedua dari seri tersebut. Lagu ini mengisahkan bangsa Indonesia yang terlihat dari cuplikan lirik lagunya darah yang merah dan tulang yang putih bersatu padu warnai khatulistiwa.

Lagu ketiga dari seri khatulistiwa adalah “Alam Bernada” yang memuat kekayaan budaya Indonesia yang direpresentasikan melalui adaptasi beberapa tangga nada dan musik tradisional Indonesia.

Ken pun menyebutkan proses penciptaan karyanya melalui sederet tahapan. “Semuanya berawal dari satu objek, baik itu ide, bunyi, puisi dan gambar, yang kemudian dikembangkan dan dirajut dalam bahasa seni lalu akhirnya menjadi sebuah mahakarya,” ungkap anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Ken Steven’s International Choral Festival

Kepedulian Ken terhadap perkembangan paduan suara patut diapresiasi. Bersama komunitas yang didirikannya, MCMC, ia menyelenggarakan sebuah festival dengan program edukasi sebagai wadah untuk meningkatkan kualitas sekaligus menjalin kebersamaan dengan sesama pelaku paduan suara di Kota Medan.

Festival tersebut diberi nama Ken Steven’s International Choral Festival (KICF) dan digelar pertama kali pada 23-25 Agustus 2019 di Kota Medan, dengan menggandeng Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Kategori yang dikompetisikan berupa Hymns & Spirituals, Musica Sacra, Musica Contemporanea, Folklore, serta Pop & Jazz.

“Perlombaan ini bekerja sama dengan para juri, pelatih, dan paduan suara berkompeten di tingkat nasional maupun internasional untuk memberi contoh, melatih, menilai dan memberi masukan kepada para peserta agar dapat meningkatkan kualitas mereka dalam bernyanyi dan berpaduan suara,” ujar pria yang bisa bermain drum, biola, keyboard, saxophone, dan flute ini.

Mengingat KICF tahun lalu meraih kesuksesan, tahun 2020 ini Ken dan MCMC akan kembali melaksanakan KICF. Syarat untuk mengikuti kompetisi ini pun sangat mudah, hanya mengisi formulir dan mendaftar ke nomor +6281-1640-2480 atau melalui email ke kenstevenchoralfestival@gmail.com.

Banjir Prestasi

Baca Juga:  Ini Dia Deretan Wisata Sumut Yang Menarik Namun Jarang Diketahui

Ken yang saat ini sedang menempuh studi S2 di California Baptist University, California, United States jurusan Musik mendapat beasiswa penuh berkat segudang prestasinya di dunia musik dan paduan suara. Ia pun tak pernah menyangka, dibalik keisengannya membuat puisi dan menulis lagu saat SMA, akan membawa banyak peluang untuk perjalanan karirnya menjadi komponis dan konduktor hingga kini.

Karya-karya Ken telah menggema di antero dunia. Terbukti dengan banyaknya kelompok paduan suara yang membawakan lagu-lagu gubahan Ken. Tak jarang kelompok paduan suara tersebut menjadi pemenang saat mengikuti perlombaan dengan menyanyikan karya-karya Ken yang mempesona.

Tahun 2014, Ken mendapat Juara I dalam ASEAN Unity Song Writing Competition di Salatiga, Indonesia. Tahun 2015, dalam Choral Conducting Competition in Celebrating The Golden Year of Avip Priatna di Jakarta, Indonesia, Ken berhasil keluar sebagai Juara I, sedangkan dalam Choral Composition Competition in Celebrating The Golden Years of Avip Priatna, Ken meraih Peringkat 2 (Musica Profana A) dan Peringkat 3 (Musica Profana B).

Masih di tahun 2015, Ken kembali meraih prestasi sebagai Most Promising Young Conductor Award pada festival A Voyage of Songs di Penang, Malaysia. Berlanjut pada perlombaan Orientale Concentus IX, 2016 di Singapura sebagai Most Promising Young Conductor Award.

Tak berhenti sampai di situ, tahun 2017 Ken kembali meraih prestasi pada Choral Composition Competition ke-6, saat Satya Dharma Gita National Choir Festival di Semarang, Indonesia sebagai Outstanding Participant. 

Ken pun menyabet Juara I dan II (Canticum Novum) pada Choral Composition Competition, The 21st CRO PRATRIA International Choral Festival 2017 di Split, Croatia. Pun di tahun 2019, Ken kembali membuktikan kiprahnya dengan meraih 1 Gold and 1 Silver Prizes in Sacred Music Category, Choral Composition Competition, 7th Satya Dharma Gita National Choir Festival 2019, di Semarang, Indonesia.

Bagi Ken, menekuni suatu bidang perlu konsistensi, dengan begitu prestasi akan mengikuti. Tak lupa pula untuk selalu mempelajari hal baru. “Kalau kamu tertarik dengan suatu hal, maka cari tahu dan pelajari. Di zaman milenial ini, informasi sudah dapat diakses dengan sangat mudah. Ayo tunjukkan semangat mudamu dan raihlah mimpimu setinggi langit karena semua berawal dari sebuah mimpi untuk dicapai dan diraih,” pungkasnya.

Penulis: Indriyana Octavia

Foto: Doc. Pribadi