JUNOT HUTABARAT: HASRAT DALAM ULOS

INSPIRASI UNTUK MENJADIKAN PAKAIAN YANG BENAR

Kerap terinspirasi dari banyak hal, namun Junot mengaku kepribadian seseoranglah yang biasanya menjadi acuan Junot dalam menghasilkan sebuah karya “Baju yang tepat adalah baju yang sesuai dengan bentuk tubuh penggunanya. Sama location-nya, kemana dia akan pergi menggunakan bajunya, usianya, jenis kulitnya” ucap Junot. Ketika kita menggunakan pakaian yang benar, bukan hanya terlihat indah di badan, pakaian itu akan  menjadi pembangkit rasa percaya diri bagi yang mengenakannya, demikian prinsip Junot.

Perjalanan karirnya, walau masih panjang lagi, telah menginspirasi banyak anak muda kota Medan. Dengan ikhtiar, Junot mengawali karirnya dengan mencari sendiri modal usahanya dan membangun brand-nya Volume Indonesia bahkan sejak semester-semester awal di bangku perkuliahan. ““Prinsip saya itu adalah 70:30. Jadi dari 30 pendapatan saya, saya boleh gunakan untuk hal pribadi saya dan 70 persennya saya gunakan untuk hal-hal yang harus saya lengkapi untuk membangun sebuah bisnis”, akunya. Tidak pernah berhenti belajar maupun stuck di suatu produk atau desain, adalah kunci mengapa namanya semakin meluas di kalangan “fashionista” kota Medan, maupun pengguna yang sesekali membutuhkan pakaian rancangan designer. Junot tidak mengkhususkan produknya pada pakaian kebaya sama sekali. Bahkan, produk-produk yang terlihat mempesona adalah produk-produk modern bernuansa etnik Batak, seperti kemeja, jaket, cardigan, cocktail dress, dan sebagainya. 

PERLUNYA MENGEDUKASI PENGGUNA PAKAIAN

Ditanya mengenai tantangan sebagai fashion designer di kota Medan, minimnya edukasi pelanggan mengenai sebuah desain menjadi highlight dalam pembicaraan dengan tim Kover. “Saya mengalami kesulitan sedikit, hanya sedikit saja tapi saya tidak akan menyerah untuk edukasi apalagi untuk perkembangan fesyen di kota saya tempat tinggal. Saya masih sering mendapati bahwasanya customer itu masih sering menduplikat. Itu bagi saya adalah hal yang tidak bisa saya setujui,” ucap Junot. Ia mengaku sering customer datang, dengan membawa beberapa foto-foto yang didapat secara online untuk diduplikat, padahal sering kali, desain-desain yang indah secara visual itu, tidak sesuai di tubuh pengguna tersebut. 

Penerapan ide, sketsa, pemilihan bahan, hingga proses menjahit dan finishing, yang mana adalah merupakan part yang paling Junot sukai saat menjadi seorang desainer fesyen, dirasa tidak patut bagi pelanggan atau siapapun untuk kemudian mencatut ide ataupun foto-foto rancangan dari seorang yang sudah meluangkan waktu, tenaga, usaha dan idenya untuk menghasilkan sebuah karya. Duplikasi ide atas karya seseoranglah yang saat ini dirasakan Junot sebagai suatu kendala yang harus dia hadapi saat menjadi seorang desainer fesyen.