Hati-Hati! Sampah Berserakan Sumber Beragam Penyakit

436

Sampah masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan di Kota Medan. Berbagai upaya dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sampah yang berserakan dan menumpuk di berbagai tempat selain merusak lingkungan juga menjadi sumber munculnya berbagai penyakit. 

Sampah memancing bakteri, virus hingga parasit berkembang pesat. Mereka mampu membentuk kelompok besar dalam waktu singkat. Bayangkan, berapa banyak penyakit yang bisa ditimbulkan? Tentu, penyakit-penyakit tersebut selain berbahaya bagi kesehatan perlahan juga dapat menurunkan kualitas hidup. 

Dr. Beni Satria, S.Ked, M.Kes, Dipl.CIBTAC, yang juga adalah direktur RSU Sarah, membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan bahwa bakteri, masyarakat menyebutnya kuman, ketika masuk ke dalam tubuh bisa menghasilkan zat kimia yang disebut toksin. Toksin menghancurkan sel-sel tertentu pada jaringan tubuh dan membuat manusia mudah terserang penyakit. 

“Untuk satu bakteri saja, dapat tumbuh dan berkembang hingga 10 juta per menit. Jika ada 10 bakteri hitung sendiri berapa juta bakteri yang muncul. Selain itu, bakteri juga bisa terbang hingga jarak 1 km,” katanya. 

Sampah seperti plastik, sisa makanan, rokok, kertas atau yang lain sebaiknya tidak lagi di buang dalam satu tempat. Pemilahan harus dilakukan agar sampah tidak menumpuk dan berbau busuk. Bau tersebut hanya akan mengundang lalat, kecoak, tikus atau hewan lain datang dan menularkan penyakit. 

“Tumpukan sampah adalah tempat paling ideal untuk kuman. Mereka mengundang vektor seperti lalat, kecoak hingga tikus. Karena bau yang tidak sedap, dari tidak ada jadi ada lalat. Bakteri-bakteri tersebut akan menempel di kaki, mulut atau badan mereka,” katanya.

Jika lalat, kecoa, atau tikus tadi secara tidak sengaja menyentuh tangan manusia maka itu menjadi salah satu cara penularan dan perpindahan kuman. Bayangkan jika lalat atau kecoa yang baru bertengger di atas tumpukan sampah kemudian hinggap di atas makanan yang akan dikonsumsi, jelas makanan tersebut terkontaminasi kuman.

Leptospirosis (Kencing Tikus) Paling Berbahaya

Tikus menjadi salah satu vektor pembawa bakteri paling berbahaya sebab urinenya mengandung bakteri mematikan. Bakteri bernama Leptospira Interrogans ini membawa penyakit leptospirosis yang bisa menyebabkan penderitanya terserang meningitis (radang selaput otak), kejang-kejang, demam hingga alergi.

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit ini seperti mual, muntah, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut hingga ruam. Sayangnya Leptospirosis baru menunjukkan gejala setelah 2 minggu penderita terinfeksi bahkan pada sebagian kasus, gejala baru terdeteksi setelah 1 bulan.

“Gejalanya tidak langsung kelihatan. Misalnya ketika kita bersih-bersih dapur kemudian dua atau lima hari setelahnya demam. Jangan dianggap sepele, Ah karena kurang istirahat,” katanya.

Bisa saja sampah di halaman belakang rumah dilewati tikus. Kemudian ia berjalan melewati rak piring. Urine tikus ketika kering tidak akan kelihatan bahkan jika tidak teliti aromanya pun tidak tercium. Biasanya kalau memang terdapat kotoran tikus disekitarnya akan ada urinenya.

Ia menambahkan bahwa masyarakat harus aware dan bisa membedakan. Demam akibat kelelahan biasanya berlangsung selama tiga maksimal lima hari. Jika lebih maka ingat kembali aktivitas yang pernah dilakukan. 

 “Jujurlah ketika berkonsultasi dengan dokter agar diagnosanya tepat. Selain karena sulit terdeteksi, gejala penyakit ini hampir serupa dengan demam berdarah. Parahnya bakteri Leptospira Interrogans juga menyerang organ lain yang memperparah kondisi pasien,” tambahnya

Selain tikus, lalat pun menjadi vektor lain pembawa bakteri. Untuk satu jenis, misalnya lalat rumah (Musca domestica) bisa membawa 315 jenis bakteri berbeda. Lain lagi dengan lalat hijau (Calliphora vomitoria) mampu membawa 316 jenis bakteri. Jika ada dua saja lalat hinggap di minuman kita, berapa banyak bakteri yang tertinggal di dalamnya. 

Meski demikian ada saja yang cuek dan tetap melahap makanan meski telah dihinggapi lalat. Meski hanya hinggap 2-3 detik, lalat tetap meninggalkan bakteri seperti Escherichia coli, Helicobacter pylori, Salmonella, Rotavirus, Virus hepatitis A dan lainnya. Ada banyak penyakit yang disebabkan oleh bakteri diatas, seperti disentri, diare, demam tifoid atau tipes, kolera, infeksi mata dan infeksi kulit.

Dokter Beni mengatakan jika angka kesakitan akibat diare di RSU Sarah tertinggi pada usia anak-anak (2-10 tahun). Mereka terserang diare akibat bakteri atau virus rotavirus. “Lalat paling sering menyebabkan diare dan tipus pada anak karena itu dianjurkan untuk vaksin rotavirus,” katanya.

Vaksin Rotavirus merupakan langkah untuk melindungi bayi dan anak-anak dari penyakit gastroenteritis (radang pada lambung dan usus) seperti diare, muntah, demam, anak sulit makan hingga sakit perut. Vaksin ini dianjurkan karena rotavirus sangat mudah menyebar melalui kontak fisik dari orang ke orang. Inilah mengapa, orang tua maupun perawat anak harus mencuci tangan terlebih dahulu saat akan mengganti popok. 

Vektor lainnya yakni kecoa yang jika bertebaran di rumah tidak hanya membuat kita malu secara sosial. Diketahui jika bakteri Pseudomonas Aeruginosa berkembang biak secara ekstensif dalam usus kecoa. Bakteri ini menyebabkan infeksi saluran kemih, masalah pencernaan, dan sepsis (keracunan darah) hingga alergi. Kita juga bisa menderita ruam kulit, bersin, mata berair akibat sekresi (proses pengeluaran substansi kimia berbentuk lendir) air liur kecoa.

Cuci Tangan 6 Langkah

Lantas, apa yang bisa dilakukan agar penyakit-penyakit di atas tidak menyerang? Jawabannya begitu simpel. Pertama pilah dan bersihkan sampah, kedua cucilah tangan dengan benar mengikuti 6 langkah yang dianjurkan oleh WHO (World Health Organization). Jangan lagi mencuci tangan hanya sekedar basah karena masih menyisahkan bakteri 3-5 persen. 

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Berikut langkah-langkahnya.

  1. Gosok kedua telapak tangan dengan cara menempelkan bagian telapak tangan yang satu dengan yang lain. Pastikan sabun berbusa di kedua tangan.

  2. Gosok kedua bagian punggung tangan dan gunakan telapak tangan kanan untuk menggosok punggung tangan kiri. Kemudian, lakukan pada tangan sebaliknya. 

  3. Gosoklah sela-sela jari dengan cara menyilangkan jari tangan kanan dengan kiri. Pada tahap ini harus benar-benar bersih karena bagian inilah yang sering terlupakan dan menyimpan bibit penyakit.

  4. Gosok pula bagian dalam dan punggung jari dengan posisi ujung jari saling mengunci.

  5. Setelahnya, gosok ibu jari di tangan kanan dan kiri.

  6. Bersihkan kuku dan ujung jari dengan menguncupkan ujung-ujung jari hingga saling bertemu. 

  7. Jika sudah selesai, bilas di bawah air mengalir hingga bersih. Lakukan selama 15-30 detik. Kemudian keringkan dengan lap tangan yang bersih atau hand dryer.

  8. Terapkan langkah yang sama saat menggunakan hand sanitizer.

Tikus, lalat, kecoa hanya perantara karena sampah adalah penyebab utamanya. Masyarakat cenderung menghilangkan perantara saja bukan penyebabnya. Masyarakat harus paham bahwa sampah tidak hanya merusak lingkungan namun juga menghadirkan banyak penyakit. 

“Sibuk mengusir lalat disemprot tapi sumber utamanya, sampah tidak dihilangkan. Jangan gunakan obat pengusir serangga karena kandungan piretrinnya berbahaya. Ketika disemprot ke udara dan terhirup dapat menyebabkan sesak napas, batuk-batuk, muntah, sampai kehilangan kesadaran,” katanya.

Bersihkan sampahnya niscaya ketiganya tidak akan muncul. “Sama seperti semut, kalau di satu ruangan ditabur gula pasti semut berdatangan. Tapi kalau gulanya dibersihkan secara otomatis semutnya pun hilang. Jadi penyakit akibat sampah itu demikian,” katanya.

Penulis : Imada Lubis, Fotografer : Vicky Siregar, Narasumber : Dokter Beni Satria