GRAHA MARIA ANNAI VELANGKANNI: POTRET TOLERANSI BERAGAMA KOTA MEDAN

Awalnya penggunaan multi-warna tersebut hanya untuk membuat indah bangunan agar tampilan Graha Maria menarik perhatian orang yang lewat di sekitarnya, tetapi siapa sangka, menurutnya Tuhan yang telah merencanakan tujuh warna pelangi tersebut.

 

Keajaiban Senilai 4 Miliar 

Konsep Graha Maria Annai Velangkanni terinspirasi dari refleksi misteri inkarnasi seperti pada buku Latihan Rohani tentang pengalaman spiritual St. Ignatius dari Loyola pendiri Ordo Jesuit saat memimpin para pencari Tuhan ke dalam pengalaman Tuhan melalui retret. Pastor James menggambarkan bentuk utuh dari perenungan pokoknya sebagai Jesuit.

Pembangunan Graha Maria Annai Velangkanni menghabiskan biaya empat miliar rupiah dengan hanya mengandalkan dana dari donator dan dikelola oleh amatiran. Hal ini terlihat tidak masuk akal dan aneh bagi kebanyakan orang, tetapi di sinilah keajaiban Tuhan seakan turut serta.

Menurut Pastor James kelahiran 3 Juli 1938 ini, ia memimpikan sebuah tempat yang mana surga dan bumi bertemu dan menjadi tempat manusia saling berpelukan terlepas dari ras, kepercayaan dan bahasa.

Setelah pandemi ini berakhir dan gereja ini kembali dibuka untuk umum, layaklah kita kunjungi kembali. Tidak ada batasan untuk agama apapun berkunjung ke Graha ini, selagi memiliki niat yang baik, berlaku sopan dan tidak mengganggu orang-orang yang beribadah di dalamnya, maka pintu  masuk Graha Maria Annai Velangkanni selalu terbuka lebar.

Tak salah rasanya, jika pihak pemerintah kota Medan lebih giat lagi mempromosikan Graha Maria ini sebagai salah satu wajah baru pariwisata kota Medan. Apalagi kota Medan terkenal sebagai kota majemuk dengan keragam ras, budaya dan agama.

Penulis & Fotografer: Vicky Siregar