
A Normal Woman adalah film asal Indonesia yang tayang di Netflix dan sedang viral saat ini. Film tersebut bisa membuat penonton mengalami kebingungan. Itulah mengapa banyak yang mencari tahu penjelasan ending A Normal Woman.
Film ini dibintangi oleh Marissa Anita yang berperan sebagai Mila. Mila inilah yang menjadi pusat utama dari film ini. Dalam film ini menampilkan realitas pahit tentang tekanan sosial melalui karakter Milla yang diperankan oleh Marissa Anita, yang hidupnya dikendalikan ekspektasi hingga fisiknya sendiri mulai berontak.
Lantas seperti apa fakta di balik film A Normal Woman? Berikut ulasannya.
1. Angkat fenomena Woman Trapped
Film A Normal Woman lahir dari gagasan sutradara Lucky Kuswandi yang berangkat dari fenomena a woman trapped, perempuan yang terkungkung. Bersama penulis naskah Andri Cung, Lucky ingin mengangkat bagaimana norma-norma sosial yang ketinggalan zaman masih terus menjerat perempuan, bahkan di era modern. Hal ini digambarkan lewat karakter Milla yang diperankan oleh Marissa Anita.
Dalam kisahnya, Milla hidup di dalam belenggu keluarga Gunawan. Dia menikah dengan Jonathan (Dion Wiyoko), putra tunggal dari keluarga konglomerat pemilik bisnis farmasi. Liliana (Widyawati), sang ibu mertua sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi dalam keluarga Gunawan, jadi figur dominan yang turut mengekang Milla. Sebagai seorang matriarki sejati, Liliana berada di puncak struktur kekuasaan keluarga Gunawan, diikuti Jonathan, dan Milla berada di posisi terbawah.
Marissa mengatakan Milla merupakan representasi perempuan yang kehilangan otonomi atas tubuh dan hidupnya. Sejak kecil, Milla sudah terbiasa hidup di bawah kendali figur otoritatif, mulai dari ibunya sendiri, lalu berpindah ke suami dan ibu mertua setelah menikah. Dia hidup layaknya boneka yang selalu tampil manis demi menyenangkan orang lain.
2. Inspirasi cerita A Normal Woman
Lucky selaku penulis sekaligus sutradara mengatakan dirinya terinspirasi membuat A Normal Woman lantaran ingin membuat sebuah film yang membawa penontonnya masuk ke dalam dunia batin seorang karakter (the mind of the character). Sehingga, pendekatan visual filmnya dilihat dari kacamata karakter utamanya.
Selain itu, dia juga mengaku selalu suka dengan buku dan film gothic. Contohnya seperti Rebecca karya Alfred Hitchcock dan novel-novel Charlotte Brontë, yang umumnya menggambarkan seorang perempuan yang terperangkap (a woman trapped) dalam sebuah ruang yang mengancam. Dia pun akhirnya terinspirasi untuk menuliskan ide tersebut ke dalam film bersama dengan penulis Andri Cung.
Dalam menggarap filmnya, Lucky melakukan banyak riset tentang penyakit-penyakit misterius dan chronic pain. Misalnya autoimun yang sering kali tidak tahu penyebab pastinya. Menurutnya, manusia acapkali tidak menyadari kalau dirinya sedang hidup di lingkungan yang sangat abnormal, yang menjauhkan mereka dari autentisitasnya sebagai seorang manusia.
3. Potret keluarga kaya yang dingin
Megah dan sempurna jadi kata kunci dalam mendeskripsikan keluarga Gunawan. Kemegahan dalam film A Normal Woman bukan hanya menjadi latar, tetapi juga bagian dari konflik batin tokoh utamanya, Milla. Untuk menciptakan dunia ini, setiap departemen produksi A Normal Woman saling bekerja sama dengan intens.
Dari set hingga kostum, semua dirancang untuk mencerminkan persona karakter, sekaligus menciptakan suasana dingin, hampa, dan rasa terkekang. Departemen wardrobe, misalnya, menggandeng berbagai desainer high-end untuk menciptakan tampilan elegan nan otoritatif bagi para tokohnya.
Set film juga tak kalah pentingnya dalam membangun suasana. Penata produksi Teddy Kho merancang seluruh set interior dari nol. Baginya, film ini jadi peluang untuk menunjukkan bahwa genre drama pun layak digarap serius secara produksi.
Hasilnya adalah rumah megah yang justru terasa sunyi dan tak ramah. Setiap sudut dirancang agar terasa asing bagi Milla. Tak ada jejak dirinya dalam rumah tersebut. Semua keputusan estetika mencerminkan selera keluarga Gunawan, bukan pilihan Milla.
Begitupun secara arsitektur, rumah keluarga Gunawan bahkan dirancang menyerupai penjara, lengkap dengan garis-garis vertikal yang kaku dan membatasi.
Untuk menguatkan suasana terkurung ini, tim penata produksi bekerja sama dengan departemen sinematografi. Sinematografer Batara Goempar menerapkan pendekatan eksploratif dalam pemilihan lensa, pencahayaan, hingga tone warna. Semua dirancang agar penonton turut merasakan tekanan batin yang dialami Milla.
4. Kisah perempuan menemukan jati diri
Film A Normal Woman menghadirkan kisah perempuan yang sedang dalam proses menemukan kembali dirinya. Ini digambarkan oleh Milla sekaligus putrinya, Angel (diperankan Mima Shafa). Jika Milla sedang berada dalam fase terkekang dan kehilangan jati dirinya, Angel digambarkan sebagai karakter remaja perempuan yang tengah bergulat dengan self-image.
Mima Shafa mengaku sangat dekat dengan karakter Angel. Dia mengisahkan bahwa masa pubertasnya juga diwarnai tekanan. Dia kerap dibandingkan dengan sang ibu yang dianggap lebih memenuhi standar kecantikan Indonesia.
Sebagai seorang pegiat kesehatan mental dan body positivity, Mima sering membagikan perjalanannya dalam mencintai dan menerima dirinya sendiri.
Lucky mengatakan A Normal Woman mengajak penonton untuk mendiskusikan kembali tentang standar kecantikan dan relasi ibu-anak perempuan melalui perjalanan hidup Milla dan Angel dalam menemukan autentisitas diri mereka.
5. Kritik terhadap ekspektasi usang pada perempuan
Liliana (Widyawati), kepala keluarga atau the matriarch dari keluarga Gunawan, hadir sebagai sosok yang menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional dan berkeras untuk melanggengkannya. Bagi Liliana, tugas seorang istri adalah mengurus urusan domestik rumah tangga, melayani suami, serta menjaga kehormatan dan reputasi keluarga.
Nilai-nilai itu pun ia pegang teguh dan ia tuntut kepada menantunya, Milla. Ekspektasi ini membuat hubungan Liliana dan Milla tidak harmonis. Namun, ketegangan tak hanya terjadi antara Liliana dan Milla. Nilai-nilai konservatif Liliana juga berbenturan dengan cucunya, Angel, seorang remaja dari generasi yang jauh lebih vokal dan sadar akan isu kesetaraan gender.
Benturan-benturan nilai antargenerasi yang digambarkan dalam A Normal Woman ini membuka sebuah ruang refleksi, bahwa warisan norma sosial di masa lalu bisa jadi tidak relevan di masa kini.
Film ini secara tajam memperlihatkan bagaimana kesadaran akan gender terus berkembang. Ekspektasi patriarkis dan usang yang ditanamkan Liliana kepada Milla—untuk selalu melayani kebutuhan suami, mertua, dan anak—bisa jadi sah-sah saja bagi generasi Liliana, tetapi ini menjadi sesuatu yang disebut generasi Milla dan Angel dengan tegas sebagai “penindasan”.


