Kung Fu Soccer Bikin Heboh China, Raup Rp1,2 Triliun Cuma 2 Hari, Tapi Kok Malah Dihujat Kritikus?

Setelah menghilang dari kursi sutradara selama tujuh tahun, Stephen Chow akhirnya kembali lewat Kung Fu Soccer, spin-off dari film legendaris Shaolin Soccer (2001) yang jadi salah satu film komedi laga Hong Kong paling ikonik sepanjang masa. Pertanyaannya, apakah comeback ini setara dengan hype yang ditunggu-tunggu para penggemar selama puluhan tahun, atau justru jadi nostalgia yang dijual mentah-mentah tanpa kreativitas baru? Yuk simak review lengkapnya.

Sinopsis Singkat Kung Fu Soccer

Berbeda dari film aslinya yang mengikuti kisah underdog para pria dengan latar belakang kung fu, Kung Fu Soccer (dalam bahasa Mandarin berjudul *Gongfu Nüzu*, yang secara harfiah berarti “Sepak Bola Wanita Kung Fu”) membalikkan formula tersebut dengan menghadirkan tim sepak bola wanita bernama Emei. Film ini menceritakan perjalanan tim yang berasal dari perguruan bela diri Emei saat bertanding di turnamen internasional bergengsi bernama Supreme Invincible Cup.

Konflik utama berpusat pada kapten sekaligus pelatih de facto tim, Shuang, yang diperankan oleh Zhang Xiaofei (dikenal lewat film *Hi, Mom*). Shuang harus belajar melunakkan sikap dominannya agar bisa berdamai dengan rekan setimnya, Jade, yang diperankan Dilraba Dilmurat, sekaligus mulai menghargai kontribusi anggota tim lainnya. Semua ini terjadi di bawah bimbingan pelatih licik bernama Xu Feng, yang dimainkan oleh Lay Zhang (member EXO).

Jajaran Cast yang Bikin Penasaran

Salah satu daya tarik utama Kung Fu Soccer adalah jajaran castnya yang lintas negara. Selain Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, dan Lay Zhang sebagai pemeran utama, film ini juga menghadirkan penampilan tamu dari bintang senior Hong Kong Carina Lau, aktor Jepang Takeru Satoh, hingga komedian asal Amerika Serikat, Jimmy O. Yang. Menariknya, Stephen Chow sendiri tidak tampil di depan kamera. Ia sepenuhnya berperan sebagai penulis naskah (bersama YouTuber dan pesulap Hunny Ho Wing-suen) dan sutradara, sesuatu yang konsisten sejak ia berhenti berakting setelah CJ7 pada 2008.

Bagaimana Kualitas Filmnya Menurut Kritikus?

Nah, ini bagian yang cukup mengejutkan. Meski ditunggu-tunggu selama bertahun-tahun, respons kritikus terhadap Kung Fu Soccer justru cenderung dingin. South China Morning Post menilai film ini jauh lebih rendah kualitasnya dibanding karya Chow sebelumnya, dengan lelucon-lelucon yang terasa seperti pengulangan dari formula lama, dan tampilan visual stadion yang dinilai terlihat seperti video game berusia dua dekade lalu. Bahkan, gaya humornya disebut terasa seolah sebagian dibuat dengan bantuan AI.

Korea Times, yang menerbitkan ulang review serupa, menambahkan bahwa meski film ini menampilkan cast yang didominasi perempuan, kesan “kisah pemberdayaan perempuan” yang muncul terasa lebih seperti kebetulan ketimbang niat cerita yang matang. Alur konflik antar karakter dinilai kurang tajam dibanding formula “underdog menemukan bakat lewat kung fu” yang membuat film aslinya begitu dicintai.

Kontroversi yang Menyertai Perilisan

Kung Fu Soccer juga sempat diterpa kontroversi di Korea Selatan. Menurut laporan Korea Times, film ini memicu reaksi negatif karena cara penggambaran tim sepak bola wanita asal Korea dalam turnamen fiktif di film tersebut, yang dianggap kurang pantas oleh sejumlah pihak di Korea.

Performa Box Office yang Luar Biasa

Terlepas dari review yang kurang mengesankan, dari sisi bisnis Kung Fu Soccer justru meraih kesuksesan besar. Berdasarkan laporan Deadline yang mengutip data Artisan Gateway, film ini meraup sekitar 73,6 juta dolar AS hanya dalam dua hari pertama penayangan di China (11–12 Juli 2026), bahkan menyumbang hampir tiga perempat dari seluruh penjualan tiket bioskop di China pada akhir pekan tersebut. The Hollywood Reporter turut melaporkan bahwa film ini diproyeksikan mampu meraih lebih dari 350 juta dolar AS di pasar domestiknya, dengan rating 9.4 di platform tiket Maoyan.

Film ini rilis bertepatan dengan momentum spesial, yakni 25 tahun sejak Shaolin Soccer pertama kali dirilis pada 2001. Untuk pasar internasional, distributor asal Singapura, Encore Films, telah mengakuisisi hak distribusi Kung Fu Soccer di luar China, membuka peluang bagi penonton global untuk menikmati film ini di bioskop, meski tanggal rilis internasionalnya masih belum diumumkan secara resmi.

Kung Fu Soccer vs Shaolin Soccer: Apakah Layak Disebut Sekuel Spiritual?

Bagi penggemar berat Shaolin Soccer, wajar jika ekspektasi terhadap Kung Fu Soccer sangat tinggi. Film aslinya dikenal sebagai salah satu box office terbesar Hong Kong pada masanya dan sukses diperkenalkan ke pasar internasional lewat rilisan Miramax yang disunting ulang untuk penonton Amerika Utara. Sayangnya, berdasarkan sejumlah review awal, Kung Fu Soccer tampaknya lebih mengandalkan nostalgia dan formula yang sudah terbukti ketimbang menghadirkan inovasi cerita baru.

Meski begitu, tidak sedikit juga penonton yang menantikan kombinasi aksi kung fu dan sepak bola versi terbaru ini, terlebih dengan hadirnya wajah-wajah baru seperti Dilraba Dilmurat dan Lay Zhang yang punya basis penggemar besar di Asia.

Kesimpulan: Worth It Ditonton atau Tidak?

Kung Fu Soccer jelas bukan film yang sempurna. Dari sisi kritik, film ini dinilai kurang mampu menandingi kreativitas dan kesegaran cerita dari Shaolin Soccer yang legendaris. Namun dari sisi hiburan dan nostalgia, terutama bagi penggemar lama Stephen Chow, film ini tetap menawarkan sensasi komedi laga khasnya, ditambah bumbu turnamen sepak bola internasional yang seru untuk diikuti.

Jika kamu penggemar berat genre komedi aksi ala Stephen Chow atau rindu dengan gaya humor absurd khas Hong Kong, Kung Fu Soccer tetap layak masuk daftar tontonan. Tapi jika kamu berharap mendapatkan pengalaman se-revolusioner saat pertama kali menonton Shaolin Soccer di awal 2000-an, ada baiknya sedikit menurunkan ekspektasi.