Tengku Ryan Novandi : Jembatan Perubahan Anak Muda

479

Penulis & Fotografer Parada Al Muqtadir

MEDAN,kovermagz.com | Namanya memang belum sering terdengung, namun siapa sangka dia adalah keponakan Gubernur dari empat presiden, Tengku Rizal Nurdin. Yang sekaligus anak sulung dari mantan orang nomor satu di Sumut, sang pemilik jargon Paten, Tengku Erry Nuradi.
Tengku Ryan Novandi begitu kebanyakan orang memanggilnya. Kini tengah sibuk mengurusi organisasi non politik Junior Chamber International (JCI) Medan. Januari 2018 silam ia dilantik untuk memimpin JCI Medan yang diharapkan mampu meningkatkan peran pemuda dalam membangun bangsa.
Selepas menyelesaikan pendidikan Magister di Boston, ia pun memutuskan untuk bergabung dengan JCI tahun 2013. “Karena memang basic pendidikan hubungan internasional, jadi saya melihat JCI ini mampu menjadi jembatan untuk anak muda yang ingin go international,”pungkasnya.
Setiap tahun, organisasi ini selalu mengadakan pertemuan, tahun ini VIP Launcheon pada ajang Asia Pasific Conference JCI diadakan di Kota Kagoshima, Jepang. dihadiri lebih dari 5.000 orang perwakilan JCI dari masing-masing negara di kawasan Asia Pacific.
Yang membanggakan, dalam pertemuan itu ia coba untuk promosikan pariwisata Sumatera Utara. “saya melihatnya sebagai peluang marketing tourism untuk Sumut,”sahutnya.
Akunya, banyak surgaloka yang menjanjikan devisa dari Sumut ini, namun banyak faktor penghambat yang membuat susah berkembang, salah satunya sistem birokrasi yang lambat. Tapi kalau masyarakat terus kita edukasi bukan tidak mungkin wisatawan kita akan meningkat drastis.
Apalagi bila kita merunut ke belakang, pada tahun 2017 silam JCI Medan telah menyelenggarakan Kampanye Perdamaian Dunia di Pantai Bul-Bul Balige. Kegiatan itu dihadiri lebih dari 11.000 orang yang berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum.
“Saya pribadi merasa terhormat karena dikunjungi World President JCI 2017 Dawn Hetzel, yang secara tak langsung JCI Medan sudah bantu promosikan Danau Toba di International,” akunya.
Untuk diketahui, JCI ini melakukan pergantian pemimpin setahun sekali, dimana setiap pimpinan harus mampu menciptakan perubahan positif, yang tentunya sesuai dengan bidang yang digeluti yakni individual development, business development, social community, dan international networking.
Untuk beban ketua tahun ini, memang agak sedikit bekerja ekstra, sebab JCI Indonesia Chapter Medan akan menjadi tuan rumah Konvensi Nasional pada Oktober mendatang.

Jadi Anak Gubernur
Enak dan tidak enak selalu terlintas ketika menjadi anak kepala daerah, orang memandang enak karena apa yang diingikan pasti semua urusan jadi mudah, tak enaknya jelas banyak mata yang mengawasi, sehingga tak bebas.
Ryan pun tak menafikan itu, bahwa apa yang ia terima saat ini memang karena orang tua “Semua orang pasti karena orang tua-nya, lahir juga karena ada orang tua,” ucapnya sambil tertawa.
Dalam beberapa kesempatan, Ryan kerap hadir menemani ayahanda, bahkan pada hari terakhir menjabat menjadi Gubernur Sumatera Utara ia setia menemani, sesekali ia pun tampak mengusap mata, menghapus pilu seraya turut merasakan apa yang ayahnya rasakan saat itu.
“Mengikuti bapak itu seru, banyak yang bilang bapak itu orangnya nggak bisa marah karena terlalu baik, marah Cuma sekedar mengingati, ini nggak boleh itu nggak boleh, mengajari tapi tidak membuat takut,” ceritanya tentang sosok Tengku Erry.
Saat bingung memilih jurusan kuliah, Bapak pun tidak pernah memaksakan kehendakanya, apa yang dirasa sesuai maka lanjutkan asal bertanggung jawab.
“Saya banyak belajar arti tegar dari bapak, saat dia sudah berjuang, hingga pada akhirnya keputusan tidak sesuai yang diharapkan, berarti Tuhan sudah menghendaki jalannya takdir seperti itu,” tambahnya.
Itu pula yang ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, tenang dalam menghadapi lawan, karena dalam mengemban amanah harus penuh rasa tanggung jawab, sebab, keberhasilan sebuah organisasi bergantung kepada kredibilitas, kapabilitas dan tentunya kemampuan mengayomi anggota.
Politik dan Bisnis
Tahun politik sudah didepan mata, 2019 menjadi ajang pembuktian bagi segenap nama yang ingin berkantor di Senayan. Namun alumnus SMA Negeri 1 Medan ini tak mau salah langkah dan tersesat. “Kalau pun maju dan kemudian menang, tapi nantinya nggak tahu apa yang mau dikerjakan, ya sama saja, untuk itu saat ini masih harus banyak belajar, toh masih muda,”ujarnya.
Tawaran saban hari terus bermunculan, tapi apadaya sang ayah belum beri lampu hijau, karena memang harus diakui politik itu kejam, harus kuat mental untuk bisa bersaing,
Untuk itu, saat ini ia ingin dikenal sebagai sosok business man, lantaran presiden Indonesia adalah seorang pengusaha. “Kalau Indonesia ini ingin maju, jumlah pengusahanya harus dibanyakin, pengusaha meningkat pendapatan pun bertambah, contoh saja Singapura jumlah pengusaha 11% dari jumlah penduduk” tambahnya.
Kegagalan pun pernah menghampirinya, pernah merintis bisnis startup Hype Medan, sebuah aplikasi yang berisikan jadwal dan info terbaru event di Sumut, namun karena kurangnya promosi akhirnya hanya buang duit dan ditutup. Lalu ia juga pernah jajal usaha Wedding Organizer, sempat berjalan lancar, namun harus berhenti pada suatu titik, “Dari sini saya belajar bahwa kepercaayan itu penting, lalu baru skill dan uang,”tandasnya.
Pesannya “Jangan takut, apa yang ada di depan mata lakuin saja, begitu ada action plan nya langsung kerjakan, jangan takut karena enggak ada modal, modal itu datang aja kalau proposalnya jelas, siapa yang enggak mau invest kalau untung nya jelas, pasti investor pun berbondong-bondong datang,”
Jadi, selain bernaung di tiga organisasi yang berbeda, mulai dari JCI, Hipmi Sumut dan Jaringan Bisnis Nasional, ia terus bekerja mengembangkan bisnis properti rumah subsidi di daerah Tanjung Balai, bisnis transportasi dan kuliner.
“Banyak kok generasi muda Medan yang pintar-pintar, kurangnya cuma pada jam terbang dan profesionalitas saja, untuk itu banyak ikut organisasi untuk bangun relasi yang luas,”tutupnya

Baca Juga:  Thank You Prof. Sarah Gilbert, pahlawan wanita di balik vaksin Astra Zeneca!