Setelah Vaksin, Apa Masih Perlu PCR ?

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menilai kebijakan yang berubah-ubah dengan cepat ini membingungkan masyarakat dan aneh.

Sebab jika paradigmanya untuk melakukan upaya pengendalian COVID-19 saat penularan menurun yang harus diwanti-wanti dan dijaga adalah protokol kesehatan yakni menjaga jarak, memakai masker, dan menjauhi kerumunan (3M).

Jadi, apakah vaksinasi sebenarnya diperlukan atau tidak?

masih perlukah dilakukan PCR walaupun sudah vaksin 2 dosis ?

Bagaimana pendapat para pakar kesehatan mengenai hal ini ? 

Ketika seseorang terinfeksi virus corona, sistem imun alias antibodinya telah dapat mengenali virus itu sehingga kemungkinan tertular lagi lebih kecil. Artinya, dia lebih kebal atau imun terhadap Covid-19 ketimbang orang lain yang belum pernah terinfeksi. Vaksin Covid-19 menawarkan perlindungan berupa kekebalan tersebut tanpa perlu sakit Covid dulu.

Pemberian vaksin COVID-19 bertujuan untuk menstimulasi sistem kekebalan tubuh seseorang untuk membentuk antibodi/ zat kekebalan. Diharapkan nantinya antibodi ini dapat membantu mengurangi risiko terinfeksi COVID-19 yang bergejala berat. Tes polymeras chain recation (PCR) adalah pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi materi genetik virus atau bakteri.

Manfaat lain menerima vaksin Covid-19 adalah membantu pembentukan herd immunity atau kekebalan komunitas untuk menghentikan pandemi. Herd immunity adalah kondisi ketika sebagian besar kelompok dalam masyarakat telah mendapat kekebalan dari suatu penyakit. Dengan demikian, potensi penularan penyakit tersebut lebih kecil, bahkan nihil, karena mata rantai terputus saat virus tak bisa menginfeksi anggota masyarakat yang telah kebal.

Baca Juga:  Sederet Sumber Mikroplastik di Rumah yang Jarang Disadari

 

Menurut dr. Aloisia Permata Sari yang perlu Anda ketahui ialah dengan menerima vaksin COVID-19 tidak berarti Anda menjadi terlindungi dari infeksi COVID-19 sepenuhnya. Anda tetap perlu melakukan protokol kesehatan dengan baik dengan menghindari bepergian, menghindari keramaian, menjaga jarak dengan orang lain, selalu menggunakan masker, dan selalu menjaga kebersihan kedua tangan Anda.

Tes ini digunakan juga untuk mendiagnosis COVID-19. Tes ini dilakukan terhadap sampel lendir dari hidung-tenggorokan (nasofaring). Dengan kata lain, tes ini mendeteksi virus corona dari sampel lendir nasofaring ini. Tes PCR akan positif jika ditemukan virus pada sampel lendir nasofaring. Jika tidak ada infeksi, maka hasil tes PCR akan memberikan hasil negatif. Jika setelah vaksin, kemudian menjalani tes PCR dan hasilnya positif, berarti tandanya Anda terinfeksi COVID-19, tetapi ini bukan karena pengaruh vaksinnya.